Kencan
Wajahku tidak bisa berhenti merona dan tersenyum terus-menerus mengembang dari bibirku. Ethan akan mengajakku pergi, berjalan-jalan, totally a date!
Usai syuting hari ini –yang diberi keringanan setengah hari oleh Vlada, aku mengemas kebutuhan pokok saat akan pergi. Dompet dan handphone. Lalu memasukkan beberapa jepit rambut kecil untukku jika merasa terganggu dengan rambutku.
Ethan Dawson:
“Hey, apa akhir pekan kau libur?”
Me:
“Tidak seharian. Hanya setengahnya. Kenapa?”
Ethan Dawson:
“Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan. Kau tahu, semacam kencan. ;). Itu jika kau mau.”
Me:
“Benarkah? Baiklah”
Ethan Dawson:
“Hebat! Jadi aku bisa menjemputmu jam berapa?”
Me:
“Jam 1”
Ethan Dawson:
“OK, see you then”
Me:
“OK”
Kubaca lagi percakapan berharga yang seumur hidup tidak akan aku hapus. Pertama kalinya Ethan mengajakku… err… kencan. Aku terus tertawa dalam hati. Tapi masih ada yang aku ragukan, benarkah dia Pria Jatuh Cinta-ku? Benarkah dia pria yang akan aku cintai sampai mati?
Pertanyaan itu terus berkelumit dikepalaku.
Ketukan pintu di van membawaku kembali ke dunia. Suara Lizzie memanggilku dengan suara tenang.
“Bree… Bree… Brielle” katanya.
“Ada apa Liz?” aku membuka pintu van dan melihat BMW Hitam keren dan sporty –yang aku tidak tahu namanya, terparkir didepannya, mobil itu masih menyala yang mengartikan bahwa si pengemudi masih didalam.
“Jemputanmu sudah datang” katanya, menekankan kata jemputan.
“He’s a friend, Liz. Bukan sopir pribadi” tegasku menyelamatkan Ethan dalam situasi seperti ini.
“Baiklah, tapi mungkin kata friend akan bertambah imbuhan dengan ‘boy’ didepannya. Hihihi…” Lizzie terkikik sendiri oleh kata-katanya.
“Terserah kaulah” kataku sekenanya, walaupun suara riang tidak bisa tertutupi.
“Hihihi…” Lizzie melanjutkan tawanya.
Aku masuk kedalam mobil itu. Walaupun kaca film mobil itu hitam pekat, tapi aku tahu itu adalah Ethan. Karena saat aku mendekat, dia memainkan suara klaksonnya dengan nyaring. Suaranya sampai membuat beberapa kru dan pemain keluar dari trailer masing-masing dengan kaget. Alex dan Jessica sampai menggeleng melihat kelakuan abnormal ini.
Begitu mobil berjalan, Lizzie melambaikan tangan dengan tas yang terselempang di bahunya. Hari ini dia dan beberapa pemain akan bersenang-senang bersama. Jessica tersenyum memandangi mobil Ethan, hanya Gale yang tidak ada. Dia tidak tampak dimanapun. Kemana dia?
Aku memutar otakku, mungkin dia sedang tidur, tapi tidak mungkin karena dia akan pergi bersama yang lainnya.
Entahlah, yang muncul dibenakku hanyalah alasan klise. Ke toilet.
“Kau sudah makan?” Tanya Ethan begitu kami meninggalkan pelataran parkir.
Aku menggeleng.
“Kalau begitu, kita makan dulu saja”
“Ehmm…” aku menjawab agak ragu “Apa kau yakin kita bisa makan dengan tenang?” kataku mengingatkan kalau kita bukan orang ‘normal’.
“Tenanglah, jika ada yang mengganggumu, aku berjanji akan melindungimu” katanya tersenyum lalu mulai berkonsentrasi menyetir lagi.
Aku hanya bisa terkesiap mendengar kata-katanya barusan.
Kami makan di salah satu restoran khas Jepang di LA. Restoran ini cukup terkenal dan memiliki banyak pelanggan. Kebanyakan yang datang berwajah oriental, mungkin mereka orang Jepang yang tinggal disini dan merindukan makanan dari negeri Sakura itu.
Aku sangat suka makanan Jepang, entah ini hanya sebuah kebetulan atau dia memang mengetahuinya makanya dia mengajakku makan disini. Tapi jika benar dia tahu, pasti dari Google. Semuanya tersedia lengkap disana.
Kami memilih tempat duduk di pojok restoran, saat ini restoran sedang tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang duduk berjauhan dari kami.
“Permisi, apa yang ingin kalian pesan?” kata seorang pelayan yang berwajah oriental, menunduk dengan sopan kearah kami. Begitu aku memandang wajahnya dengan jelas dia langsung menganga lebar. Mungkin karena daritadi aku menunduk dan membaca daftar menu, dia tidak bisa melihat wajahku dengan jelas.
“Aku ingin pesan satu porsi teppan, dan satu mangkok natto” kata Ethan terlebih dulu memesan makanannya.
Begitu Adam memesan, mulut pelayan tadi menganga tambah lebar sambil berkata “Yahh…” dengan gaya khasnya.
Aku hampir tertawa melihatnya.
“Dan, Brielle, kau mau pesan apa?” Ethan bertanya padaku dengan wajah memerah dan sedikit tertunduk entah kenapa.
“Mungkin satu porsi ramen, dan natto”
Pelayan itu masih ternganga, lalu entah dorongan kesadaran atau dorongan ke-profesionalitasannya membuatnya mengangguk canggung meminta maaf, lalu meminta kami mengulangi pesanan kami. Aku dan Ethan sama-sama merasa hal barusan lucu, jadi kami tidak marah atau protes, kami justru tersenyum memakluminya.
Kami makan dengan senang. Terkadang Ethan mengeluarkan gurauannya yang membuat perutku sampai sakit karena tertawa, dia juga sering mengeluarkan suara yang aneh dan meniru aksen British yang membuat gurauannya tambah lucu. Selama makan, aku mendengar beberapa kali suara kamera jepretan yang berbeda-beda. Mungkin dari para pelayan, yang sedari tadi ‘mondar-mandir’ didekat kami.
Ethan sama sekali tidak menghiraukan mereka dengan tetap makan. Dia terus berkata padaku “Biarkan saja. Hari ini acuhkan saja mereka” dengan suara lembut dan menenangkan.
Yah, hari ini aku akan mengacuhkan mereka. Hari ini yang ada hanya kami berdua, dan aku akan menikmati sisanya. Bersama dia. Bersama Ethan Daniel Dawson.
Kami berjalan-jalan sepanjang hari, nonton, toko buku, toko kaset, toko alat musik. Aku membeli beberapa buku yang judulnya menarik perhatianku, dan beberapa kaset yang baru kutemukan setelah perburuan lama, kaset Woody Allen, dan album penyanyi yang kusuka. Ethan membelikanku sebuah cincin sederhana. Dia memakaikan cincin itu langsung ketika kita keluar dari toko aksesoris yang biasanya tidak pernah kumasuki. Tapi biarpun begitu, aku sangat bahagia. Tidak peduli orang-orang memperhatikan dengan pandangan menyelidik, aku tidak peduli. Ethan juga sepertinya tidak peduli dengan semua itu, karena sepanjang jalan dia terus menggandeng tanganku tanpa rasa ragu.
***
Begitu aku kembali ke van untuk istirahat, aku tidak begitu terkejut melihat semua perempuan yang doyan bergosip sudah berkumpul didalamnya. Bahkan Vlada sekalipun. Mereka sudah menatapku dengan berbinar-binar, menunggu cerita apa saja yang aku lakukan bersama Ethan tadi. Mereka semua menumbukan pandangan kearah bungkusan yang kubawa.
“Dia membelikanmu apa?” sergah Nancy, menghampiriku dengan semangat berlebihan.
“Hanya beberapa buku” jawabku enteng.
“Buku? Dasar. Tetap saja…” Lizzie menggeleng begitu aku duduk diantara para wanita ini. Aku merasa seperti sedang berada diantara pemangsa berbahaya dan aku adalah mangsa paling empuk di dunia.
“Jadi bagaimana cerita lengkapnya?” Vlada memandangku dengan jahil, lalu menaikkan satu alisnya.
“Kami hanya makan, nonton dan berbelanja barang-barang ini” jawabku pasrah.
“Apa dia juga menyukai semua ini?” Nancy semakin semangat diikuti anggukan Jessica, Lizzie, Vlada dan Dylan.
“Yep. Kami sama dalam hal-hal semacam ini. Bahkan dia membeli buku yang dua kali lebih banyak dariku. Kecuali kaset, dia hanya membeli satu, karna kaset yang dia cari tidak ada tadi”
“Ahh… Sudah serasi. Jadi apa ada rencana kencan berikutnya?” kali ini Dylan yang bicara.
“Tidak. Belum” jawabku ragu.
“Hey, tunggu dulu, ini cincin siapa, sweetheart?” Lizzie menunjuk ke jari manisku.
“Hey, Bree, kau belum menceritakan pada kami tentang yang satu ini” lanjutnya. Dia berusaha memegang cincinku dengan paksa.
“No! Tidak!” seruku.
Mereka semua cemberut, dan kubalas dengan tatapan meminta maaf.
“Sorry, girls, tapi hanya ini yang tidak akan aku ceritakan. Tidak akan aku bagikan ke siapapun”
Jawaban barusan tidak membuat wajah mereka tambah menekuk, tapi malah dipenuhi senyuman. Karena kata-kataku barusan menandakan benar-benar ada sesuatu antara aku dan Ethan Dawson.





Ka!!!!bagus banget.......lanjutkan!!!...aku tambah suka!!..ini pasti tentang Adam sama T-S!..Aku suka bangeeeeeet!!!!!
ReplyDelete~Dian
Hehe.. Thx :*
ReplyDeleteIya, tau aja ini tentang kisah enchanted mereka xD
Oh ya, thank you kiriman coklatnya yah.. Enak loh! Dua biji adek gue doyan banget! Thank you, sweetie! :D
Ps. Thx untuk dukungannya! Much love... :D