Sunday, September 9, 2012

Enchanted part 10


“Bree, Ethan sedang di wawancara di sebuah radio sekarang!” Lizzie berteriak lantang dengan gaya berlebihan.
          “Benarkah?”
          “Benar! Kau harus mendengarkannya! Pasti interviewer tidak mau ketinggalan menanyakan tentang itu. Dia ada di Magnum Access”
          “Ok”
          Kunyalakan handphone dan memasang radio disana, mencari saluran tempat dia sedang di interview. Dan ternyata aku sudah ketinggalan. Wawancara sudah dimulai, mereka sedang melakukan game pick one ternyata.
Dan percakapan mereka berlanjut tentang rencana album barunya, alasan kenapa nama proyeknya Twilight, dan hal-hal bisnis lainnya. Aku tidak mendengarkan ceritanya, aku sudah tahu semua itu. Tapi aku mendengarkan caranya bercerita, suara tawanya, selembut beludru.
         
Jantungku berpacu cepat saat mendengar pewawancara bertanya
“Brielle?”
Dengan polos Ethan menjawab “Apa?”
“Kau tahu apa yang aku bicarakan” si pewawancara dengan pintarnya menggoda.
Hening beberapa saat.

          “Aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau bercerita, tapi aku dengar lagunya, Enchanted, lagu yang baru beberapa jam lalu dirilis secara resmi langsung menduduki urutan pertama Billboard, adalah tentangmu. Benarkah?”
          “Ya, aku pikir itu tentangku”
          “Maukah kau bercerita awal ceritanya?”
          “Dia dan aku bertemu di salah satu konserku di LA, saat itu dia sedang berada disana untuk syuting film Vanilla Sun. Dia benar-benar gadis yang luar biasa”
          “I see it, dan kalau tidak salah her wonderful fragrance, Wonderstruck, juga terinspirasi darimu. Karena dilagu itu kita semua tahu ada kata wonderstruck disana”
          “Aku rasa tidak, parfum itu rilis sebelum dia bertemu denganku. Tapi, jujur, aku adalah salah satu pengguna kata wonderstruck
          “Jadi itu adalah kesamaan antara kalian?”
          “Kurasa begitu, kesamaan yang sangat unik”
          “Kesamaan yang sangat unik” si pewawancara menyetujui.
         
          Hening.

          “Apakah mungkin dia akan menjadi kekasihmu?”
          “Apa?” Ethan menjawab lalu terkekeh, “Entahlah, maksudku, yah aku tidak tahu”
          “Itu artinya ‘Iya’ kan?”
          “Aku juga tidak yakin akan hal itu, maksudku, saat ini dia adalah salah satu orang yang aku percaya. Salah satu orang yang aku yakin bisa menjadi bagian hidupku yang baik, teman. Tapi jika akan mengarah kesana, aku tidak tahu”
          “Apa kau punya pacar?”
          “Tidak”
          “Kalau begitu, kemungkinannya semakin besar”
          “Semoga saja” jawabnya menggantung.
          “Baiklah, kita selesai dengan Ethan Dawson a.k.a Twilight atau bisa dibilang dirinya sendiri. Goodbye everyone


Hanya itu? Tidak adakah balasan darinya? Balasan atas pernyataan terang-teranganku padanya bahwa aku terpesona padanya? Tidak adakah kisah lanjutannya?

“And so Cinderella was enchanted to meet The Prince
At the first sight
She thought that he is The One
But he doesn’t even look back to her
He just turns to his white horse
And go back to the castle”
-Kedonn


***



            Kubuka mataku, ini hari baru. Hari berpura-pura lainnya. Tidak ada jadwal baru yang akan kulakukan hari ini. Hanya kepura-puraan seperti biasanya.
Setelah mandi, aku langsung berangkat ke lokasi syuting. Aku menyapa Gale, tapi dia tidak menjawabnya, hanya tersenyum singkat dan berlalu. Kunaikkan alisku.

“Gale?” aku memanggilnya, ragu. Dia menoleh.
“Kau tidak apa-apa?”
Dia menggeleng, sekelebat tatapan ragu dimatanya muncul, tapi langsung lenyap begitu dia berkata dengan mantap, “Aku ingin bicara denganmu”
“OK, then…” aku menunggunya bicara.
Dia  menarikku menjauh dari beberapa kru yang kupingnya tiba-tiba memanjang. Dia membawaku kedalam trailer-nya. Hanya kami berdua disana.
“Apakah aku benar-benar ‘your elder brother’?
“Apa?” tanyaku bingung.
“Apakah kau benar-benar hanya menganggapku ‘kakakmu’?”
Dia menatapku sangat dalam, seolah mencari sesuatu. Apa Gale? Apa yang kau cari?
“Ya” jawabku singkat.
Dia tertawa, sungguh tawa yang ironis.
“Begitu?”
Dia tiba-tiba menatap mataku lagi.
“Tidak adakah rasa yang lebih padaku? Sedikitpun?”
Aku tidak mengerti kata-katanya, jadi aku hanya terdiam.
“Jawab aku, Brielle!” aku hampir jatuh tersentak karena seruannya.
Dia mencengkeram bahuku keras.
“Aku mohon, Brielle. Jawab aku” kali ini nada bicaranya lelah, putus asa. Lalu, lagi-lagi, dia menatap mataku.
“Aku mencintaimu” kata-kata dari mulutnya itu terdengar ragu, tapi mantap secara bersamaan. Aku membekap mulutku karena kaget.
          “Aku…” tidak ada suara yang bisa kukeluarkan.
          “Aku serius, Brielle”
          “Aku… bingung” bisikku “dan ragu”
          “Kau pikir aku mencintaimu karena kekayaanmu? Karena kecantikanmu? Karena kehebatanmu? Tidak! Aku jatuh cinta padamu karena caramu. Caramu mengatakan betapa bodohnya aku jika aku melakukan kesalahan, caramu mengingatkanku untuk makan setiap hari, caramu tertawa karena gurauanku. Aku jatuh cinta karena caramu!” jelasnya. Setetes air mata turun kepipiku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
          “Dan karena itu, maukah kau, Brielle Allison Young, menemaniku melewati hari-hariku dengan menjadi kekasihku?”
          Kali ini aku tidak bisa berkata-kata, aku jatuh ke pelukannya. Pelukan Gale. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bisakah aku menerimanya sementara hatiku dimiliki orang lain? Orang yang bahkan tidak peduli dengan rasaku padanya?
          “Brielle, I was enchanted to meet you. Maukah kau jadi pacarku?”
         Dengan ragu, aku memeluknya, makin erat. Tapi dia menggeram karena sedari tadi aku belum memberikan jawaban apa-apa.
          “Aku berjanji, aku akan menjagamu, membuatmu tersenyum, membahagiakanmu. Dan aku akan siap menyanyikan semua lagu yang kau nyanyikan untukku kelak. Aku akan membalasnya dengan segenap hatiku”
          Kali ini aku mengangguk, anggukan spontan yang tiba-tiba diperintahkan otakku. Aku tidak bisa mundur lagi sekarang. Dan sentuhan lembut dibibirku menegaskan segalanya.
          “Terima kasih, Brielle” jawabnya, tersenyum dengan sinar menyilaukan. Aku sangat menyayangi Gale, aku tidak tega mematikan sinar bahagia diwajahnya. Dia memberiku segalanya. Dan itulah yang aku butuhkan. Dia memelukku dengan lembut, seakan takut aku akan tiba-tiba pecah atau menghilang dari hadapannya.
Ini lebih baik, sangat lebih baik, daripada menunggu orang diluar sana yang tidak peduli pada perasaanku padanya.
Ya, resmi, aku berpacaran dengan Gale Martin.

***


I'm still alive!!!! Yeah, gue minta maaf karena ngga update disini. Dan gue juga banyak tugas (derita pelajar) :'(. Oh ya, makasih buat Mba 3us, cerita gue dibilang bagus loh!!!! Haha, thank you :*

~Kedonn

Unyu maksimal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket