Monday, October 20, 2014

Pelari Bersuara Emas


Pelari yang Bersuara Emas

BIOGRAFI EDO KONDOLOGIT
BAHASA INDONESIA
SMK STRADA III
Kelompok: Vini Feronika & Sarah Nilawati

Ehud Eduardo Kondologit adalah nama lengkap pria asli Sorong, Papua yang lahir pada 5 Agustus 1967 ini. Edo. Begitulah orang biasa menyapanya di Jakarta. Berbekal mimpi menjadi seorang pelari, Edo merantau di Jakarta dan mencoba peruntungannya.

Januari 1989 adalah kali pertama Sdr. Edo memulai perjalanan menuju Jakarta, dengan menaiki kapal selama lima hari dari Sorong dan menginjakkan kaki pertama kali di Jakarta pada tanggal 20 Januari 1989. Tujuan Edo datang ke Jakarta awalnya ingin menjadi seorang pelari, mengikuti lomba lari nasional. Perlombaan lari pertama yang diikutinya adalah lomba yang disponsori oleh Tabloid Bola di stadion Madya, Senayan. Edo sempat merasa bangga terhadap dirinya, karena dia saat itu ditempatkan di barisan terdepan dengan pelari-pelari nasional lainnya.

"Saya mulai terdepan ketika bunyi pistol, tapi pas finish dibelakang lagi. Jadi yahh nggak menang-menang. Modal nekat aja emang waktu itu." Ujarnya dengan tawa.

Sdr. Edo juga berkata saat itu memang hanya bermimpi dan modal nekat saja, tqnpa keahlian sama sekali.
"Tapi tujuannya tercapai, karena datang ke Jakarta benar-benar hanya ingin jadi pelari, dan ingin liat Monas saja."
Seperti pendatang dari daerah lainnya, Edo hanya ingin melihat Monas dan puncak emas yang sering didengarnya di televisi.
Sewaktu Sdr. Edo menetap di Bekasi, dia sering menaiki bus yang melewati Monas untuk sekedar melihat saja.

Setelah gagal menjadi pelari, Sdr. Edo sempat bingung apalagi kegiatan yang akan ia lakukan di Jakarta. Dia akhirnya memutuskan untuk menetap dan tinggal, dengan itu harus cari uang untuk biaya sehari-hari, mulailah dia be kerja. Pekerjaan pertamanya adalah sebagai kuli di daerah Ciketing, Tambun, Bekasi. Dan ketika ada waktu senggang atau sedang libur kerja sebagai kuli, dia akan mengamen bersama seorang temannya yqng bernama Zefta di daerah Pulo Gadung - Blok M.
Dan suatu kali, dia bertemu temannya yang dikenalnya dikapal yang dia naiki ketika pertama menuju Jakarta. Orang Semarang bernama Rahmat, dia diajak oleh Sdr. Rahmat ini untuk bekerja di daerah Kelapa Gading, dan setelah dirasa cocok, Edo diterima bekerja sebagai hansip di apartemen di daerah sana. Sebagai hansip, Sdr. Edo bekerja mulai pukul 11 malam - 5 pagi disana. Dengan gaji Rp. 35.000/bulan.
Dan ketika tempatnya bekerja membuka restoran cabang di daerah Kemang, Sdr. Edo akhirnya memutuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai gardener (tukang kebun) disana, pukul 06.00-08.00 bekerja sebagai tukang kebun, pukul 09.00-sampai selesai berganti peran menjadi Satpam di Kemang dengan gaji Rp. 125.000/bulan.
Dia menceritakan, tiap akhir pekan, ditempatnya bekerja selalu ada live music. Dengan modal dukungan dari teman-teman dan manajer tempatnya bekerja, dia hendak bernyanyi di acara itu.
Band pengiringnya pun akhirnya memberikan daftar lagu-lagu yang harus dipelajarinya. Dengan memakai sedikit uang tabungannya, berangkatlah Sdr. Edo ke Blok M untuk membeli Walkman. Semakin terasahlah talenta tersembunyi yang dimilikinya.

Pada tahun 1992, ada sebuah ajang Cipta Pesona Bintang, ketika menghadiri ajang itu, Edo membawakan lagu Overjoyed - Stevie Wonder. Dengan juri Rita Nasution, Edo pernah menjadi grogi dan takut ketika namanya dipanggil, tapi dia sangat terkejut dan bersyukur setelah mengetahui dia lolos.
Pada Juni 1992, Edo mengikuti tes Asia Bagus dan ternyata lulus lagi, dan setelah itu, Edo mulai lebih sering masuk televisi dan membuat acara Senandung Serumpun di Malaysia dan Brunei, dibawa ke festival di Perancis, ke Romania lalu gabung dengan backing vocal Ruth Sahanaya dan ikut tur ke Amerika.
Tahun 1999, dibawa Ny. Pattikawa ke festival Voice of Asia of International di Kazakhstan, dan disana Edo mendapat juara 1.
"Jadi apa yang saya alami, sampai hari ini, Puji Tuhan. Tuhan memberikan rencana yang panjang dan indah, sekarang saya sudah punya rumah sendiri di daerah Bintaro."
Edo pun sekarang sudah memulai kegiatan dan kehidupan di dunia politik dan mencalonkan diri sebagai Caleg di Prov. Papua.
"Apa yang sudah saya alami tidak begitu saja terjadi. Ada harga yang harus dibayar untuk berdiri disini, bahkan untuk duduk disini sekarang berbicara dengan kamu. Tuhan sudah merwncang semuanya, dan saya percaya bahwa kesuksesan tidak dicapai secara instan." Ujarnya, "Jadi kepada adik-adik semua, jangan berhenti bermimpi, dan kerja keras itu dijalani." Katanya lagi hangat.

Unyu maksimal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket