Bella's POV
"Oh, Zack!!" teriakku antusias.
"Benar! Akhirnya kau ingat juga" balasnya tak kalah antusias.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik" jawabnya nyengir "Kau sendiri? Kau cantik sekali sekarang" lanjutnya membelalakan mata secara berlebihan.
Kuputar bola mataku "Jangan bercanda" kataku meremehkan diriku sendiri.
"Aku serius" Zack semakin membelalakan mata.
Mr.Banner menoleh kearah kami "Mr.Spencer, apa ada yang ingin kau bagi pada kami?" serunya lalu melirik kearahku sekilas. Seisi ruangan menoleh kearah kami dengan tatapan ingin tahu. Tapi bisa kurasakan ada sepasang mata hijau yang memandang tidak suka. Tatapannya seperti membakar.
"Tidak, Mr.Banner" jawab Zack pelan.
Mr.Banner mengangguk.
Kuperhatikan wajah Zack yang sempat panik tadi, aku menahan tawa yang hampir meledak setelah melihat wajahnya. Dia memandangku nyengir tapi kami berdua tidak berani melanjutkan pembicaraan.
Bel istirahat makan siang-pun berdering. Aku dan Alice sudah berjanji untuk makan siang bersama. Tapi langkahku terhenti saat seseorang menarik tanganku. Zack.
"Perhatikan sekelilingmu, Bell" katanya cemberut "Daritadi aku memanggilmu, tapi kau sama sekali tidak mendengar"
"Maaf, maaf" aku terkekeh "Apa kau mau makan bersama kami?" Zack terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Aku menatapnya dengan sorot mata memohon.
"Ehh... mungkin" katanya pelan. Jawaban itu menciptakan seringaian lebar diwajahku.
Kami akhirnya makan bersama di dua meja kantin yang disatukan, aku duduk disamping Zack dan Alice. Seperti di kelas Biologi tadi, kurasakan mata indah itu memandangiku terus. Edward terus-menerus menatapku seperti itu, bahkan saat aku melirik melihatnya, dia tidak memalingkan muka seperti yang biasanya dilakukan orang jika ketahuan memperhatikan.
Tapi tatapannya saat ini berbeda, tidak seperti dikelas, kali ini tatapannya hangat.
Tiba-tiba ada suara tawa keras dari pintu kafetaria, itu suara Jake. Aku merasa bisa mendengar suara tawa itu dari jarak 300 mil sekalipun. Tawa dalam yang menghangatkanku.
Saturday, March 24, 2012
Monday, March 19, 2012
Message Behind Tay's Song
Hai, hai! Gue balik lagi! Kangen rasanya pengen nge-blog, 3 hari ga nge-blog kangennya keubun-ubun *lebay*
Baru-baru ini gue buka salah satu facebook fanpage Taylor Swift yang dari Indonesia (Swifties Indonesia), mereka bilang kalo lagu-lagunya Taylor Swift itu mengandung pesan untuk orang-orang tertentu. Jadi tiap Tay bikin lagu, itu pasti ada 'sesuatu'nya...
Ini daftarnya (dari album "Speak Now")
1.) "Mine" - Pesen dari lagu ini "Toby" yang dimana Toby Hemingway adalah model VC Mine, inget kan? Yang mirip Draco Malfoy itu...
Baru-baru ini gue buka salah satu facebook fanpage Taylor Swift yang dari Indonesia (Swifties Indonesia), mereka bilang kalo lagu-lagunya Taylor Swift itu mengandung pesan untuk orang-orang tertentu. Jadi tiap Tay bikin lagu, itu pasti ada 'sesuatu'nya...
Ini daftarnya (dari album "Speak Now")
2.) "Sparks Fly" - "Portland Oragon" Katanya sih, Tay udah pernah nyanyi lagu itu di PO 2 tahun lalu.
3.) "Back to December" - "Tay". Lagu ini udah psti buat Taylor Lautner, si Jacob Black di Twilight Saga!
4.) “Speak Now” – “You always regret what you don’t say” Katanya sih, ini tentang Tay yang 'dapet undangan' dari mantannya yang mau nikah.
5.) “Dear John” – “I loved you from the very first day.” Dari judulnya aja udah jelas banget kalo ini buat mantannya Tay, John Mayer, yang waktu itu mutusin Tay gara-gara menurut John, Tay itu masih kaya anak kecil. Dibikinin lagu deh ama Tay...
6.) “The Story Of Us” – “CMT Awards” Ini juga ditujukan buat John Mayer, waktu Tay harus duduk di baris yang sama waktu di CMT Awards
7.) “Mean” – “I thought you got me” also includes the lyric, “You, with your switching sides,” Ini buat haters-nya Tay. Tay pernah baca ada blogger (lupa namanya) bikin postingan yang kata-katanya itu jahat banget ke dia, pas nulis postingan, si blogger ini baru aja ngeliat penampilan Tay di acara Grammy Awards feat. Stevie Nicks.
8.) “Never Grow Up” – “I moved out in July” Bulan Juli itu adalah saat dimana Tay pindah dari rumah ortu-nya di Tenessee dan tinggal di rumah-nya sendiri di Nashville.
9.) “Enchanted” – “Adam” Ini udah pasti buat Adam Young a.k.a Owl City!! Adam itu sering banget ngegunain kata "wonderstruck" dan di lirik lagu Enchanted ada bait "I'm wonderstruck, blushing all the way home. I'll spent forever, wondering of you knew, I was Enchanting to meet you", bahkan Tay meluncurkan parfum dengan nama "Wonderstruck". Dan bahkan Adam juga record Enchanted versinya dia, jadi Adam ngebales lagu Tay gitu(ya iyalah, apa ngga terbang itu si Adam dibikinin lagu ama cewe secantik Tay).. Lagunya sama cuma ada kata yang diganti misalnya
8.) “Never Grow Up” – “I moved out in July” Bulan Juli itu adalah saat dimana Tay pindah dari rumah ortu-nya di Tenessee dan tinggal di rumah-nya sendiri di Nashville.
9.) “Enchanted” – “Adam” Ini udah pasti buat Adam Young a.k.a Owl City!! Adam itu sering banget ngegunain kata "wonderstruck" dan di lirik lagu Enchanted ada bait "I'm wonderstruck, blushing all the way home. I'll spent forever, wondering of you knew, I was Enchanting to meet you", bahkan Tay meluncurkan parfum dengan nama "Wonderstruck". Dan bahkan Adam juga record Enchanted versinya dia, jadi Adam ngebales lagu Tay gitu(ya iyalah, apa ngga terbang itu si Adam dibikinin lagu ama cewe secantik Tay).. Lagunya sama cuma ada kata yang diganti misalnya
Tay: "All I can say is I was, Enchanting to meet you",
Adam: "Oh, Taylor I was so Enchanting to meet you, too"
Tay: "Please don't be in love with someone else, please don't have somebody waiting on you",
Adam: "I was never in love with someone else, I never have somebody waiting on me, cause you were all of my dreams come true, and I just wish you knew, Oh Taylor I was so in love with you"
Ciee.. ciee.. Sebenernya kecengan Tay yang paling gue suka itu Adam, kenapa mereka ga jadian aja yah? -,-"
10.) “Better Than Revenge” – “You thought I would forget” Gue gatau jelas ini lagu buat siapa, tapi katanya sih ini buat Camilla Belle, tapi kata sebagian Swifties yang gue kenal ini buat Joe Jonas (atau keduanya), Joe Jonas juga ngebales lagu Tay sama lagu Jonas Brothers yang judulnya “Much Better”. Ada liriknya yang begini “C’mon show me how much better you are.” Yah, Joe, prove yourself, what about now, huh?
11.) “Innocent” – “Life is full of little interruptions” Buat Kanye West, soalnya si Kanye pernah meng-interupsi pidato kemenangan Tay di MTV Video Music Awards (Best Female Video). Waktu itu Kanye naik keatas panggung terus bilang "Taylor, I'm really happy about you, I'll let you finish, but Beyonce have The Best Video all the time". Mukanya Tay saat itu bener-bener kaget dan cuma dibales senyum. Katanya sih, Kanye saat itu lagi drunk. Poor Tay.. :(
12.) “Haunted” – “Still to this day.” Lagu ini tentang hubungan dia yang dulu sama Joe Jonas yang masih menghantuinya sampe sekarang.
13.) “Last Kiss” – “Forever and Always” Di album Tay ada lagu yang judulnya “Forever and Always” yang dia tulis setelah dia putus dari Joe Jonas.
14.) “Long Live” – “For you” Ini tentang The Agency, bandnya Tay, di album bahkan sengaja dibikinin 2 halaman khusus buat foto-foto bareng The Agency.
Nah, yang mana favorit lo? Kalo gue sih Enchanted, keren banget tuh lagu. Dan apa Message Behind kesukaan lo? Kalo gue (tetep) Enchanted!!
Friday, March 16, 2012
Bad Day
Gue mau cerita tentang hari ini.
Judul postingan-nya sih "Bad Day", tapi itu cuma mencerminkan apa yang BARU SAJA gue alamin..
Pagi tadi sih disekolah sangat menyenangkan. Seperti biasanya Isal, Rifqy, Amir, dkk membuatkeributan kehebohan di kelas, mereka menari-nari ala Cherrybelle - Love is You..
Ini agak memalukan, mengingat mereka adalah laki-laki tulen yang nggak tulen (?)
Lihat video-nya...
http://www.youtube.com/watch?v=SNSRoMcUx5Y
Dasar Paparazzi tak berperasaan! Kalo mau nanya liat-liat situasi dulu, dong...
Gatau apa disitu ada yayangnya Rob?!
Aneh.
Judul postingan-nya sih "Bad Day", tapi itu cuma mencerminkan apa yang BARU SAJA gue alamin..
Pagi tadi sih disekolah sangat menyenangkan. Seperti biasanya Isal, Rifqy, Amir, dkk membuat
Ini agak memalukan, mengingat mereka adalah laki-laki tulen yang nggak tulen (?)
Lihat video-nya...
http://www.youtube.com/watch?v=SNSRoMcUx5Y
Sekarang kalian percaya 'kan bahwa temen gue cucok semua?
Dua laki-laki disebelah Isal dan Rifqy adalah Uin dan Dejan.. Mereka sama asyiknya dengan teman-teman gue yang lain.
Setelah itu kami pun poto-poto didepan lab Bhs. Inggris sambil nunggu giliran ujian praktek (Ya, saat ini kami sedang melaksanakan Ujian Praktek)
| Gue dan dua manusia cuco, Rifqy dan Isal |
Dan siang tadi saat gue buka facebook dan twitter gue, semua hal yang tadinya menyenangkan dan asyik menjadi rusak saat gue liat TTWW di twitter..
"Rob called Katy Perry"!!!
WTF?
Setelah gue cari tahu ternyata bener, si Rob nelpon Katy Perry. Biarpun banyak situs yang bilang kalo Rob nelpon Katy Perry sebagai temen dan cuma mau nenangin Katy pasca perceraiannya, tetap aja gue jadi agak-agak kesel, soalnya gue ngeliat Kristen sempet marah banget ngedenger ada Paparazzi yang nanya gini "Rob, did you call Katy Perry?"
Kris saat itu langsung bete, cepet-cepet masuk mobil dan ngelempar tas ke mobil sambil bilang "F*ck this sh*t"
Poor, Kristen... Dia pasti kesel banget tuh...Dasar Paparazzi tak berperasaan! Kalo mau nanya liat-liat situasi dulu, dong...
Gatau apa disitu ada yayangnya Rob?!
Aneh.
The Newborn
Hari ini gue punya kabar yang sangat membahagiakan.
Adek gue yang ke-3 lahir.. Yah, gue adalah kakak tertua (dan perempuan) yang paling beruntung di dunia..!!!
Adek gue yang satu ini cakep banget..!!
Dengan berat 3.4 kg dan panjang 40 sentimeter..
Ini fotonya.
Anak ini harus secepatnya mempersiapkan diri untuk gue jadikan budak adek, mengingat nasib adek gue yang lain yang berakhir suram setelah gue suruh-suruh dan gue manfaatkan.
Get ready, boy!
Adek gue yang ke-3 lahir.. Yah, gue adalah kakak tertua (dan perempuan) yang paling beruntung di dunia..!!!
Adek gue yang satu ini cakep banget..!!
Dengan berat 3.4 kg dan panjang 40 sentimeter..
Ini fotonya.
| Ganteng 'kan? |
Get ready, boy!
Wednesday, March 14, 2012
My friend... was...
Gue keabisan akal mau ngomong apa.
Ini buat elo.
Iya, elo!
Orang yang pernah bikin gue ketawa dengan lelucon lo yang lucu, nangis bareng-bareng dikamar lo sambil saling cerita masalah kita. Mangkal di tukang Pop Ice sambil ngegodain yang jualan.
Kelas kita misah, dan ginilah jadinya. Lo mulai sibuk sama temen baru lo yang lo temuin di kelas.
Sebisa mungkin gue ngebagi waktu antara radio, elo, pelajaran, dan temen-temen gue yang laen. Tapi ini terlalu merugikan gue. Gue gabisa selalu nemenin lo kemanapun, ngikutin lo kemanapun elo mau, nurutin apa mau lo, selalu jadi pendengar sedangkan lo gamau denger. Menjadi orang yang ngalah saat lo cerita, saat dimana gue cerita dan lo ngubah topik pembicaraan jadi topik lo. Gue gabisa.
Gua bukan malaikat!
Ini terlalu merugikan.
Memang gue ga mencari pertemanan yang menguntungkan, tapi gue juga ga mau dirugikan. Lu juga begitu, bukan?
Lo pernah bilang, "Temen tuh harusnya saling ngertiin, kalo ngga yah ditinggalin aja"
Dan sekarang gue ngikutin apa kata lo.
Gue emang ga ninggalin lo, ga pernah, dan ga akan pernah. Gue masih ada disini, cuma sekarang berdiri menjauh dan memunggungi elo.
Siapapun yang digituin pasti akan ngambil langkah yang sama seperti gue. Langkah mundur perlahan.
Lo minta maaf, bikin status dan semacemnya seperti yang gue lakuin sekarang. Lo nanya apa yang salah. Mungkin gue yang salah, karna ngebiarin hal ini berlangsung lama. Harusnya gue tau, perasaan marah yang gue timbun bakalan gede.
Tiga kali gue ngelakuin hal yang sama, tapi gue selalu ngalah dengan ngajak lo ngobrol duluan, karna saat itu lo satu-satunya temen gue. Yang kenal sama gue.
Tapi gue tumbuh. Ngerti. Mana yang baik dan engga. Dan banyak orang disekitar gue sekarang.
Gue ga akan lupain lo, canda gurau lo, cerita membosankan lo, dan diri lo sendiri.
Gue ga akan lupa ama lo.
Ini buat elo.
Iya, elo!
Orang yang pernah bikin gue ketawa dengan lelucon lo yang lucu, nangis bareng-bareng dikamar lo sambil saling cerita masalah kita. Mangkal di tukang Pop Ice sambil ngegodain yang jualan.
Kelas kita misah, dan ginilah jadinya. Lo mulai sibuk sama temen baru lo yang lo temuin di kelas.
Sebisa mungkin gue ngebagi waktu antara radio, elo, pelajaran, dan temen-temen gue yang laen. Tapi ini terlalu merugikan gue. Gue gabisa selalu nemenin lo kemanapun, ngikutin lo kemanapun elo mau, nurutin apa mau lo, selalu jadi pendengar sedangkan lo gamau denger. Menjadi orang yang ngalah saat lo cerita, saat dimana gue cerita dan lo ngubah topik pembicaraan jadi topik lo. Gue gabisa.
Gua bukan malaikat!
Ini terlalu merugikan.
Memang gue ga mencari pertemanan yang menguntungkan, tapi gue juga ga mau dirugikan. Lu juga begitu, bukan?
Lo pernah bilang, "Temen tuh harusnya saling ngertiin, kalo ngga yah ditinggalin aja"
Dan sekarang gue ngikutin apa kata lo.
Gue emang ga ninggalin lo, ga pernah, dan ga akan pernah. Gue masih ada disini, cuma sekarang berdiri menjauh dan memunggungi elo.
Siapapun yang digituin pasti akan ngambil langkah yang sama seperti gue. Langkah mundur perlahan.
Lo minta maaf, bikin status dan semacemnya seperti yang gue lakuin sekarang. Lo nanya apa yang salah. Mungkin gue yang salah, karna ngebiarin hal ini berlangsung lama. Harusnya gue tau, perasaan marah yang gue timbun bakalan gede.
Tiga kali gue ngelakuin hal yang sama, tapi gue selalu ngalah dengan ngajak lo ngobrol duluan, karna saat itu lo satu-satunya temen gue. Yang kenal sama gue.
Tapi gue tumbuh. Ngerti. Mana yang baik dan engga. Dan banyak orang disekitar gue sekarang.
Gue ga akan lupain lo, canda gurau lo, cerita membosankan lo, dan diri lo sendiri.
Gue ga akan lupa ama lo.
Saturday, March 10, 2012
Always There part 3
Edward's POV
"Eddie, bagaimana kencanmu?" Tanya Jasper, duduk disampingku.
"Menyenangkan" Jawabku tersenyum.
"Dia gadis yang baik" Imbuh Rosalie, "dan, oh, Edward... Dia sangat cantik dan manis"
"Dia lebih daripada itu" Gumamku.
Kedua kakak kembarku yang pirang itu langsung saling memandang satu sama lain dengan penuh arti.
"Mom! Dad! Ada yang sedang jatuh cinta!" Teriak mereka berdua tiba-tiba. Aku membelalakan mata mendengar laporan tak terduga mereka.
"Bisakah kalian diam?!" Seruku menjadi-jadi, berusaha menutup mulut mereka berdua.
"Mom! Dad!" Seru mereka lagi, kali ini jauh lebih melengking.
"Hei! Diamlah!" Teriakku makin menjadi-jadi, masih mencoba menutup mulut mereka.
Kedua orangtua-ku muncul dari pintu
"Rose? Jazz? Kenapa kalian berteriak-teriak begitu?"
Rosalie menyunggingkan senyum licik ibu tiri lalu berkata "Anak Mom ini sedang jatuh cinta".
Dia menunjukku tanpa tampang bersalah, aku hanya bisa menghembuskan nafas dalam-dalam dengan wajah datar.
"Edward?" Tanya Dad.
"Ya" Jasper menjawab dengan memasang tampang seperti Rose.
"Jadi, siapa gadis itu?" Mom mengalihkan pandangannya padaku, wajahnya berubah antusias.
"Bella Swan" Rosalie yang menjawabnya.
"Swan? Apa dia anak Kepala Polisi kita yang baru? Chief Swan?" Nada bicara Dad ikut antusias.
"Tepat, Dad" Lanjut Rose.
"Aah... pertemuan pertama" Gumam Mom, mengangguk-angguk kagum, "Jadi, bagaimana ceritanya?"
Aku hanya diam mengacuhkan mereka semua.
"Oh, ayolah, Ed! Ceritakan pada kami. Kau begitu tertutup, dan kau tidak pernah membawa teman kesini"
"Tidak ada yang perlu diceritakan, Mom"
"Oh, ayolah, Edward!" Desak Mom
"Tidak, kami hanya sebatas teman"
Mom mendengus, tahu percakapan denganku hanya akan menjadi monolok karena aku tidak akan pernah menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantas Mom mengalihkan pandangannya pada Rosalie dan berkata
"Bagaimana penampilannya?"
"Dia sangat manis, Mom. Juga ramah dan baik. Dan Mom tahu apa? Barusan Edward dan dia habis berkencan"
Mataku membelalak, ingin rasanya menyumpal mulut kakak perempuanku ini.
"Kencan di hari pertama bertemu? Anak muda sekarang memang berani" Gumam Mom kagum, berbicara seolah dia berasal dari zaman purba.
"Tidak, tidak, Mom. Itu tadi bukan kencan. Aku hanya mengantarnya menemui teman lamanya" Belaku.
"Itu masuk hitungan kencan untuk Mom" Katanya semakin tidak mau kalah, "Apa ada rencana kencan lagi dalam waktu dekat?"
"Entahlah" Jawabku setengah berharap.
"Kau harus mengajaknya kesini lain kali" Kata Dad, tersenyum bijaksana yang saat ini seperti senyuman hakim di pengadilan.
"Tidak mungkin, Dad. Tidak dalam waktu dekat ini" Bahkan di telingaku sendiri, suaraku terdengar sangat berharap bercampur kecewa.
"Sudahlah, aku mau ke kamar" Sergahku cepat-cepat naik ke kamarku meninggalkan paparazzi di rumahku sebelum mereka mengorek-ngorek lebih jauh.
************************************************************************************************
Bella's POV
Udara dingin menusuk. Kuurungkan keinginan untuk tidur dan menarik selimut. Ini hari pertamaku di Forks High School. Setidaknya tidak terlambat adalah satu dari segelintir syarat untuk awal yag baik, agar diterima dengan baik.
Kusingkapkan rambt kebelakang, berniat untuk menata rambut di hari pertamaku. Memakai sweter hijau favoritku, jeans belel dan sneakers.
Setelah semua siap, aku segera turun kebawah.
"Pagi, Mom, Dad" sapaku pada Charlie dan Renee, kedua orangtuaku.
"Pagi, sayang" sapa mereka balik.
"Sudah siap kesekolah? Kudengar Aice juga sekolah disana" kata Mom girang. Alice memang sangat dekat dengan keluargaku. Dulu dia sering berkunjung kesini.
"Ya Mom"
"Kalau begitu dia bisa sering main kesini lagi 'kan?"
"Pasti Mom, dia pasti akan sering berkunjung sampai Mom bosan melihatnya"
Mom hanya terkekeh mendengar gurauanku yang sebenarnya tidak lucu.
"Yakin tidak mau diantar, Bells?" kali ini Dad yang bicara.
"Yakin Dad," aku mencoba meyakinkannya "Dad tidak perlu khawatir, Alice akan menjemputku"
"Baiklah, tapi jika ada anak yang mengganggumu..." Dad tidak menyelesaikan kata-katanya sendiri.
"Tenanglah, Dad. Aku akan baik-baik saja. Lagipula semua teman-temanku yang dulu masih sama, masih ada Angela, Jessica, Mike, Eric dan yang lainnya"
"Apa kau sudah bertemu dengan Jacob, Bells?" tanya Mom, mengubah topik.
"Sudah. Mom dan Dad harus melihatnya nanti, dia banyak berubah" kataku, kembali mengingat-ingat Jacob kemarin. Secara fisik dia berubah drastis, kulitnya makin coklat kemerahan, rambutnya sudah dipangkas pendek dan dia sangat besar.
Tapi dia masih sama, masih tetap Jacob yang dulu. Jacob-ku. Matahari pribadi-ku, yang menghangatkan seperti dulu.
Terdengar pintu diketuk, yang kuyakini Alice. Buru-buru kuhabiskan cereal dan meletakkan piringnya di dapur.
"Mom, Dad, aku berangkat" kukecup pipi mereka berdua lalu berlari ke pintu depan.
"Hati-hati" seru Mom, sedetik terlambat.
Buru-buru kubuka pintu dengan semangat, membayangkan Alice berdiri didepannya dihiasi senyuman sumringah. Betapa terkejutnya aku saat mendapati dialah yang sedang menungguku.
"Hai" sapanya lembut, senyuman Edward membutakan.
"Hai?" baiklah, itu bukan sapaan.
Dia tersenyum mengerti kebingunganku, "Hari ini Alice berangkat bersama Jasper. Dia memintaku mengantarmu... itu kalau kau tidak keberatan"
Kugigit bibir sebentar, "Tentu, tidak masalah"
"Ayo kita berangkat"
Seperti biasanya, jika bertemu teman lama, akan terjadi salam-salaman temu kangen. Jessica dkk bertemu denganku di tempat parkir, Tyler Crowley di lobi menuju ruang Tata Usaha, dan Eric di ruang Tata Usaha.
Hebat.
"Permisi, Mrs.Mallete. Teman saya ingin mengambil jadwal pelajarannya" kata Edward pada seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri dibalik konter.
"Oh, tentu, Mr.Cullen" jawab wanita itu sopan "Dan kau pasti Isabella Swan 'kan?"
"Ya, Ma'am"
"Selamat datang di Forks High School, Ms.Swan" gumamnya sambil mencari sesuat di laci mejanya "Forks sudah menunggumu" lanjutnya lalu memberiku daftar pelajaran dan absensi guru.
Aku tersenyum kaku mendengarnya, menurutku itu sangat berlebihan. Apa lagi selanjutnya? Akan ada pesta kembang api dan tarian Selamat Datang? Aku bergidik sendiri membayangkannya.
Setelah pelajaran pertama lewat dengan sukses, kali ini adalah pelajaran favoritku, Biologi.
Mr.Varner sudah ada di mejanya begitu aku masuk. Seperti tadi, aku memberikan kartu absenku. Mr.Varner menuntunku menuju satu-satunya kursi kosong yang ada di kelas. Aku duduk dengan seorang cowok yang sepertinya pernah kulihat di suatu tempat.
Saat aku duduk dia menatapku, sepertinya dia juga merasakan hal yang sama.
"Apa kau Bella?" tanyanya memastikan.
"Ya. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku balik masih bingun.
Lalu dia tersenyum girang "Aku Zack, Bells"
"Zack?"
"Sparrow?" katanya lagi, mengedipkan satu mata dan melipat bajunya sampai sesiku.
Aku terkesiap senang. Aku mengenalnya.
Aku tahu dia...
Friday, March 9, 2012
Always There part 2
Bella's POV
Kali ini aku yang terkesiap. Jacob tiba-tiba memelukku dan mengangkatku sampai aku tidak bisa merasakan tanah dikaki-ku.
"Tidak bisa nafas, Jake" Kataku tersengal.
Jacob terkekeh "Maaf, Bells" Katanya, tapi nadanya terlalu riang untuk sebuah permintaan maaf "Apa kabarmu, Bells?"
"Sesak nafas" Jawabku memegang dada
Dia terkekeh lagi mendengar jawabanku
"Aku sangat merindukanmu, Bella. Harusnya kau bilang dulu jika ingin berkunjung"
"Well, aku juga Jake. Dan ini kejutan, aku bukan hanya sekedar ingin berkunjung. Aku pindah lagi kesini"
"Benarkah?" Sahutnya penuh kemenangan
"Ya. Charlie yang memutuskan"
"Hore!" Pekiknya senang "Setelah ini aku akan membuat parade untuk memuja ayahmu dan ide cemerlangnya"
"Kau ini, Jake"
"Bella!" Tiba-tiba suara serak menggema dari belakang bahu Jacob.
""Bagaimana kabarmu? Kau masih mengingat kami 'kan?"
Kukerjapkan mata tidak percaya "Quil? Embry?" Kataku memastikan, tidak yakin sepenuhnya kalau itu mereka. Mereka sudah sangat besar sekarang.
"Benar, ini kami" Kata Quil, "Bagaimana kabarmu setelah tinggal di tempat tropis?"
"Baik" Kataku mengangkat bahu
"Oh ya, Bella, kenalkan ini teman baru kami, Seth Clearwater" Tunjuk Jacob pada seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dia mengulurkan tangannya "Seth" dia menyeringai
"Bella" Aku balas nyengir.
"Hei, ayo kita masuk ke garasi. Sudah mulai gerimis" Ujar Embry.
"Benar, ayo Bells" Ajak Jake, menarik tanganku menuju tempat hangatku.
Kali ini aku yang terkesiap. Jacob tiba-tiba memelukku dan mengangkatku sampai aku tidak bisa merasakan tanah dikaki-ku.
"Tidak bisa nafas, Jake" Kataku tersengal.
Jacob terkekeh "Maaf, Bells" Katanya, tapi nadanya terlalu riang untuk sebuah permintaan maaf "Apa kabarmu, Bells?"
"Sesak nafas" Jawabku memegang dada
Dia terkekeh lagi mendengar jawabanku
"Aku sangat merindukanmu, Bella. Harusnya kau bilang dulu jika ingin berkunjung"
"Well, aku juga Jake. Dan ini kejutan, aku bukan hanya sekedar ingin berkunjung. Aku pindah lagi kesini"
"Benarkah?" Sahutnya penuh kemenangan
"Ya. Charlie yang memutuskan"
"Hore!" Pekiknya senang "Setelah ini aku akan membuat parade untuk memuja ayahmu dan ide cemerlangnya"
"Kau ini, Jake"
"Bella!" Tiba-tiba suara serak menggema dari belakang bahu Jacob.
""Bagaimana kabarmu? Kau masih mengingat kami 'kan?"
Kukerjapkan mata tidak percaya "Quil? Embry?" Kataku memastikan, tidak yakin sepenuhnya kalau itu mereka. Mereka sudah sangat besar sekarang.
"Benar, ini kami" Kata Quil, "Bagaimana kabarmu setelah tinggal di tempat tropis?"
"Baik" Kataku mengangkat bahu
"Oh ya, Bella, kenalkan ini teman baru kami, Seth Clearwater" Tunjuk Jacob pada seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dia mengulurkan tangannya "Seth" dia menyeringai
"Bella" Aku balas nyengir.
"Hei, ayo kita masuk ke garasi. Sudah mulai gerimis" Ujar Embry.
"Benar, ayo Bells" Ajak Jake, menarik tanganku menuju tempat hangatku.
***
Garasi Jacob masih tampak sama. Seperti terakhir kali aku datang kesini musim semi 3 tahun lalu. Atap-atapnya dipenuhi tambalan genteng plastik yang menimbulkan suara gemuruh tiap kali hujan. Alat-alat keramat Billy-pun masih di tempat yang sama.
Dan rasanya masih hangat.
"Aku tidak sadar betapa aku merindukan tempat ini" Gumamku
"Taj Mahal-nya Washington" Jacob berkata dengan nada memberi pernyataan
"Taj Mahal-nya Washington" Aku berkata dengan nada menyetujui.
Lalu pandanganku tertumbuk pada benda itu, benda yang membuatku bersumpah tidak akan pernah menaikinya lagi.
"Kau tidak menjual benda itu?" Tanyaku, memajukan dagu kearah itu.
"Itu satu-satunya benda yang mengingatkanku padamu. Mana mungkin aku menjualnya?" Jacob menyeringai "Tidak mungkin" Lanjutnya menggeleng-gelengkan kepala.
Aku mendengus, diikuti seringaian lebar Quil dan Embry.
"Apa kau lupa dulu sering menaikinya bersama kami?" Tunjuk Embry
Aku mendengus lagi, kali ini lebih keras. Mengingat masa-masa 3 tahun lalu saat aku menaiki iu. Motorku.
"Kau menaiki itu?" Sergah Edward yang daritadi diam saja, tiba-tiba membelalak panik.
"Ya"
Edward menggeleng-geleng lagi entah kenapa.
Sudah lama sekali aku tidak kesini. Tapi tidak ada yang berubah, sangat biasa. Seperti sedang menghabiskan waktu siang digarasi bersama sahabatku.
Jacob-ku.
Semuanya terasa sangat nyaman, bahkan Seth, teman Jacob yang baru kukenal hari ini, rasanya sangat menyenangkan. Dia terlihat seperti Jacob dulu. Tapi ada satu orang yang paling menarik perhatianku.
Well, dia adalah Edward. Dia begitu baik, ramah, dan ya... dia tampan. Tidak, tidak, dia sangat tampan.
Oh, Bella! Apa yang kaupikirkan?
Kugelengkan kepala memikirkan itu.
"Ed, ayo ikut aku sebentar. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" Seru Seth, memanggil Edward dari pintu sambil membawa kardus cokelat.
"Baiklah" Jawab Edward datar.
Lalu mereka berdua-pun hilang di balik pintu.
"Jadi, Edward, Bell?" Kata Embry menyeringai.
"Hah?" Tanyaku bingung.
"Kau tertarik padanya 'kan? Sudahlah jangan mengelak. Itu terlihat sangat jelas"
"Tidak. Mana mungkin! Aku baru saja bertemu dengannya" Jawabku, entah kenapa suaraku terdengar tidak yakin.
"Bella, kau tidak perlu mengelak lagi, atau lebih tepatnya tidak bisa mengelak lagi. Kau ingat Quil, tadi saat Edward memandangi Bella? Itu namanya cinta pada pandangan pertama" Kata Embry, melipat tangan sambil menerawang ke langit-langit.
"Benar! Indahnya cinta pada pandangan pertama" Imbuh Quil lalu mengikuti gaya Embry.
Seth tiba-tiba muncul dari pintu, dia melihat Quil dan Embry yang sedang bergaya seperti itu, dan dengan idiot-nya mengikuti gaya mereka berdua. Dia datang tanpa Edward.
Jacob mendengus "Tahukah kalian? Gaya kalian menjijikan" Dia cemberut.
"Benar, Jake" Kataku sependapat.
Kupandangi langit sore yang sudah menguning, hujan gerimis tadi membuat langit menjadi sangat indah. Ternyata sudah lumayan lama aku berada disini. Sudah twilight, bahkan matahari hanya tinggal bias kuningnya.
Edward muncul dari pintu sambil membawa beberapa buku.
"Seth, aku bawa buku-buku ini" Katanya senang, mungkin dia suka membaca.
Seth mengangguk "Tentu... tentu..."
"Thanks, Man"
Aku mulai menimbang-nimbang, untuk bertanya pada Edward maukah dia mengantarku pulang lagi, aku belum mau pulang, tapi ini sudah sore, jadi aku harus pulang.
"Bella, kau mau pulang sekarang? Ini sudah sore" Kata Edward tiba-tiba, sesaat kukira dia bisa membaca pikiranku.
"Kau mau mengantarku lagi?"
"Tentu saja. Bisa-bisa Alice memotong leherku jika aku pulang tanpamu"
"Baiklah"
"Ayo pulang"
Jacob menggumamkan sesuatu, terlalu pelan untuk kudengar. Lalu tiba-tiba wajahnya bersinar, seperti baru mendapat ide cemerlang.
Dia tiba-tiba mengecup pipiku.
"Jacob Black!!" Seruku marah.
Dia malah tertawa "Bye, Bells" Lalu melambai padaku.
Kubalas lambaiannya, lalu berlari mengikuti Edward.
"Edward, kau tidak mengatakan apa-apa pada Jacob?" Tanyaku saat mobil sudah mulai berjalan.
"Untuk apa?" Tanyanya balik, polos
"Ucapan selamat tinggal?"
"Nanti juga aku kesini lagi"
Aku hanya mengangguk kaku mendengar jawabannya.
Mobil melaju semakin jauh dari rumah Jake.
Hening.
"Kau pacar Jacob?" Tanya Edward memecah keheningan.
"Apa? Tentu saja bukan!"
"Tapi tadi dia mencium pipimu"
"Aku juga tidak tahu tadi itu apa, biasanya tidak begitu"
Terjadi hening yang cukup panjang.
"Dia cemburu" Kata Edward tiba-tiba, memecah keheningan lagi.
"Apa? Pada siapa?"
"Padaku" Edward mendesah "Dia cemburu padaku karna aku dekat denganmu"
"Memangnya kenapa?"" Aku berpikir, mengangkat kepala ke arah jendela.
"Aku saja yang laki-laki tahu dia menyukaimu. Itu terlihat sebening kristal, seakan dia membawa papan iklan besar bertuliskan 'AKU SUKA BELLA' "
"Kau berlebihan. Lagipula bagaimana mungkin dia menyukaiku"
"Sudah kubilang 'kan, aku laki-laki, jadi aku tahu kenapa"
"Hah? Apa sih yang sedang kau bicarakan?"
"Sudahlah lupakan saja" kata Edward, memandang lurus ke depan.
Aku juga tidak mau menggangunya menyetir, jadi kukunci mulutku sampai dirumahnya.
Kupandangi lagi langit dari dalam mobil. Padahal baru saja langit tampak indah, tapi sekarang sudah berubah.Dari dalam langit jadi terlihat sangat gelap, seperti akan runtuh.
Melihat langit yang seperti ini membuatku ingat dengan video yang baru tadi pagi kutonton di YouTube,
aku ingat itu adalah clip baru Taylor Swift - Safe and Sound.
Aku seperti sedang melihat langit mendung di video itu, semuanya buram, mendung. Akupun mulai mengingat-ingat lirik dari lagu itu dikepalaku...
Just close your eyes
The sun is going down
You'll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I'll be safe and sound
Just close your eyes
You'll be alright
Come morning light,
You and I'll be safe and sound...
The sun is going down
You'll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I'll be safe and sound
Just close your eyes
You'll be alright
Come morning light,
You and I'll be safe and sound...
"Bella!" Tiba-tiba suara indah itu membuyarkan lamunanku.
"Apa? Apa?" Tanyaku kikuk.
"Apa kau daritadi tidak mendengarku?"
"Apa?"
"Sudahlah, lupakan" Lanjutnya terkekeh
"Kau bicara apa sih, Edward?" Tanyaku ingin tahu
"Tidak lain kali saja" Lanjutnya masih terkekeh
"Terserah kaulah" Kataku mengangkat bahu.
Tidak lama kami sudah sampai di rumahku. Tunggu dulu...rumahku?
"Kau tahu rumahku?"
"Siapa yang tidak tahu rumah Kepala Polisi Swan?"
Aku mendengus mendengar kata-katanya. Dia menghentikan laju mobilnya.
"Trims, Edward sudah mengantarku"
"Tentu, tidak masalah"
"Sampai jumpa" Kataku keluar dari mobil.
Dia membuka jendela mobilnya, "Dah" katanya, lalu melambai.
Kubalas lambaiannya, dia menutup jendela dan mulai memacu mobilnya. Kupandangi mobil itu sampai hilang di belokan. Aku berbalik masuk kerumah, berjalan dengan senyum misterius yang entah darimana datangnya
Thursday, March 8, 2012
Always There part 1
Ok, ini adalah FF pertama gue tentang Bellaward. Jadi kalo ga nyambung maap yah..
Dan jangan timpukin tomat :p
*peace, saya cinta damai :))
Edward's POV
"Itu dia!" Teriak Emmett dari lantai bawah rumahku, suaranya yang super bass membahana di seluruh rumahku. Untunglah orangtuaku sedang tidak dirumah, kalau mereka tidak pergi bisa-bisa terjadi sesi tanya-jawab.
"Edward! Pacarmu lewat!" Teriak Jasper, kakakku, mengikuti teriakan Emmett.
Oke, kata-kata mereka sangat menarik. Pacar. Aku bahkan tidak tahu nama gadis itu. Belum.
Cepat-cepat aku turun dari lantai atas.
"Bisakah kalian berdua diam? Nanti dia mendengarnya!" sergahku menggeram pelan. Kedua orang yang suaranya seperti berteriak di depan mic itu langsung mengunci mulutnya dengan kunci gaib tak kasat mata lalu membuang kuncinya dibalik bahu mereka.
Aku langsung —berpura-pura— duduk di teras depan, bersama Jazz dan Emmett dan menunggu Juliet-ku lewat
"Kalian sedang menunggu apa sih?" Tanya Alice, pacar Jasper, keluar dari dalam rumah bersama Rosalie, kakak perempuanku.
"Sst... Diam.. Berpura-puralah sedang mengobrol dengan kami jika ingin tahu" Imbuh Jasper
Rosalie dan Alice mengerutkan alis bingung, tapi akhirnya mengangguk
Saat itu juga dia lewat.
Dia dengan rambut cokelat panjang yang halus dan dengan indah membingkai wajah mungilnya yang cantik. Tubuhnya pas dibalut sweater biru panjang.
Akhirnya aku melihatnya lagi. Seakan aku tidak bisa bertahan sehari saja tanpa melihatnya. Aku harus melihatnya. Aku butuh melihatnya. Dia sepeti oksigen untuk bernapas. Seperti heroin untuk pecandu narkoba.
Aku tersenyum simpul melihatnya.
"Bella?'' Alice tiba-tiba bergumam kearah gadis itu seperti memastikan. Lalu wajahnya berubah bersinar, dan dia langsung berseru "Bella!" kali ini jauh lebih keras dan nyaring.
Si gadis menoleh, matanya menyipit, memastikan juga.
"Alice?" Katanya dengan suara merdu diikuti senyuman malaikat.
"Bella!!" Alice berlari menghambur memeluk gadis itu "Apa kabarmu, Bells?" Alice melepas pelukannya untuk melihat wajah gadis itu "Apa kau pernah berpikir betapa aku merindukanmu? Kenapa kau tidak menghubungiku sebulan ini?" Cerocos Alice
"Well, aku ingin membuat kejutan untukmu. Aku akan tinggal disini lagi"
"Benarkah?" Alice berbinar
"Ya" Jawabnya lembut
"Kau sekolah di Forks School lagi, kan?"
"Ya"
"Yey! Bagus!" Seru Alice girang, bertepuk tangan penuh kemenangan. Lalu tampangnya berubah jahil.
"Mari kuperkenalkan kau pada teman-temanku" Alice menggandeng gadis itu terburu-buru.
"Guys, perkenalkan, ini sahabatku, Bella" Dia berkedip cepat kearahku "Bella, ini Rosalie"
"Hai, Bella" Kata Rosalie, ramah
"Hai, senang berkenalan denganmu" Dia menjabat tangan Rosalie dan tersenyum ramah.
Alice melanjutkan "Ini Emmett, Jasper..." Gadis itu menjabat tangan mereka satu persatu "Dan... Edward" Alice, Rosalie, Emmett dan Jasper menahan tawa.
Dia menyodorkan tangannya, kusambut dengan cepat, terlalu cepat saking semangatnya.
Saat menyentuh tangannya, ada perasaan seperti tanganku disengat listrik. Rasanya tidak sakit, justru menyenangkan, membuatku enggan melepasnya. Dia menyentakkan tanganku lembut, membuatku mengerjap-ngerjapkan mata.
"Edward Cullen" Kataku tidak jelas, luar biasa gugup
"Bella" Katanya balik, tersenyum padaku.
Emmett dan Jasper sudah tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Sebagai gantinya mereka tertawa melolong-lolong.
Bella menatap mereka bingung, aku mendengus pelan karena itu.
Rasanya bagai mimpi, melihatnya duduk dirumahku, mengobrol dengan kakak-kakakku dan temanku. Dia begitu baik, ramah. Dan jaraknya hanya beberapa sentimeter dariku. Dia duduk tepat disampingku!
Namanya Isabella Swan. Bella. Dia selalu mengoreksi jika ada yang memanggilnya dengan nama lengkap. 3 tahun yang lalu dia pernah tinggal di Forks, selama 1 tahun.
"Guys, maaf aku tidak bisa lama-lama disini. Aku harus ke daerah reservasi di La Push" Ujar Bella, tampak menyesal.
"Apa kau mau menemui dia lagi, Bells?" Tanya Alice, cemberut
"Ya, aku harus menemui Jacob"
Jacob? Jacob Black teman sekelasku? Setahuku dia tinggal di daerah reservasi La Push.
"Jacob Black?" Tanyaku memastikan
"Ya, kau mengenalnya?"
"Dia teman sekelasku di pelajaran kewarganegaraan" Jawabku
"Oh" gumamnya "Kalau begitu aku permisi dulu" Katanya tersenyum tulus "Terima Kasih. Senang berkenalan dengan kalian semua"
Sedetik sebelum Bella berjalan keluar, Alice berseru "Tunggu, Bell" Alice menghela nafas "Kau naik apa kesana?"
"Aku akan minta ayahku mengantar kesana"
"Ayahmu 'kan sedang bekerja? Atau begini saja..." Kata-kata Alice berubah menjadi gumaman "Bagaimana kalau Edward mengantarmu?" Tanyanya tiba-tiba menyeringai.
Dan jangan timpukin tomat :p
*peace, saya cinta damai :))
Edward's POV
"Itu dia!" Teriak Emmett dari lantai bawah rumahku, suaranya yang super bass membahana di seluruh rumahku. Untunglah orangtuaku sedang tidak dirumah, kalau mereka tidak pergi bisa-bisa terjadi sesi tanya-jawab.
"Edward! Pacarmu lewat!" Teriak Jasper, kakakku, mengikuti teriakan Emmett.
Oke, kata-kata mereka sangat menarik. Pacar. Aku bahkan tidak tahu nama gadis itu. Belum.
Cepat-cepat aku turun dari lantai atas.
"Bisakah kalian berdua diam? Nanti dia mendengarnya!" sergahku menggeram pelan. Kedua orang yang suaranya seperti berteriak di depan mic itu langsung mengunci mulutnya dengan kunci gaib tak kasat mata lalu membuang kuncinya dibalik bahu mereka.
Aku langsung —berpura-pura— duduk di teras depan, bersama Jazz dan Emmett dan menunggu Juliet-ku lewat
"Kalian sedang menunggu apa sih?" Tanya Alice, pacar Jasper, keluar dari dalam rumah bersama Rosalie, kakak perempuanku.
"Sst... Diam.. Berpura-puralah sedang mengobrol dengan kami jika ingin tahu" Imbuh Jasper
Rosalie dan Alice mengerutkan alis bingung, tapi akhirnya mengangguk
Saat itu juga dia lewat.
Dia dengan rambut cokelat panjang yang halus dan dengan indah membingkai wajah mungilnya yang cantik. Tubuhnya pas dibalut sweater biru panjang.
Akhirnya aku melihatnya lagi. Seakan aku tidak bisa bertahan sehari saja tanpa melihatnya. Aku harus melihatnya. Aku butuh melihatnya. Dia sepeti oksigen untuk bernapas. Seperti heroin untuk pecandu narkoba.
Aku tersenyum simpul melihatnya.
"Bella?'' Alice tiba-tiba bergumam kearah gadis itu seperti memastikan. Lalu wajahnya berubah bersinar, dan dia langsung berseru "Bella!" kali ini jauh lebih keras dan nyaring.
Si gadis menoleh, matanya menyipit, memastikan juga.
"Alice?" Katanya dengan suara merdu diikuti senyuman malaikat.
"Bella!!" Alice berlari menghambur memeluk gadis itu "Apa kabarmu, Bells?" Alice melepas pelukannya untuk melihat wajah gadis itu "Apa kau pernah berpikir betapa aku merindukanmu? Kenapa kau tidak menghubungiku sebulan ini?" Cerocos Alice
"Well, aku ingin membuat kejutan untukmu. Aku akan tinggal disini lagi"
"Benarkah?" Alice berbinar
"Ya" Jawabnya lembut
"Kau sekolah di Forks School lagi, kan?"
"Ya"
"Yey! Bagus!" Seru Alice girang, bertepuk tangan penuh kemenangan. Lalu tampangnya berubah jahil.
"Mari kuperkenalkan kau pada teman-temanku" Alice menggandeng gadis itu terburu-buru.
"Guys, perkenalkan, ini sahabatku, Bella" Dia berkedip cepat kearahku "Bella, ini Rosalie"
"Hai, Bella" Kata Rosalie, ramah
"Hai, senang berkenalan denganmu" Dia menjabat tangan Rosalie dan tersenyum ramah.
Alice melanjutkan "Ini Emmett, Jasper..." Gadis itu menjabat tangan mereka satu persatu "Dan... Edward" Alice, Rosalie, Emmett dan Jasper menahan tawa.
Dia menyodorkan tangannya, kusambut dengan cepat, terlalu cepat saking semangatnya.
Saat menyentuh tangannya, ada perasaan seperti tanganku disengat listrik. Rasanya tidak sakit, justru menyenangkan, membuatku enggan melepasnya. Dia menyentakkan tanganku lembut, membuatku mengerjap-ngerjapkan mata.
"Edward Cullen" Kataku tidak jelas, luar biasa gugup
"Bella" Katanya balik, tersenyum padaku.
Emmett dan Jasper sudah tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Sebagai gantinya mereka tertawa melolong-lolong.
Bella menatap mereka bingung, aku mendengus pelan karena itu.
Rasanya bagai mimpi, melihatnya duduk dirumahku, mengobrol dengan kakak-kakakku dan temanku. Dia begitu baik, ramah. Dan jaraknya hanya beberapa sentimeter dariku. Dia duduk tepat disampingku!
Namanya Isabella Swan. Bella. Dia selalu mengoreksi jika ada yang memanggilnya dengan nama lengkap. 3 tahun yang lalu dia pernah tinggal di Forks, selama 1 tahun.
"Guys, maaf aku tidak bisa lama-lama disini. Aku harus ke daerah reservasi di La Push" Ujar Bella, tampak menyesal.
"Apa kau mau menemui dia lagi, Bells?" Tanya Alice, cemberut
"Ya, aku harus menemui Jacob"
Jacob? Jacob Black teman sekelasku? Setahuku dia tinggal di daerah reservasi La Push.
"Jacob Black?" Tanyaku memastikan
"Ya, kau mengenalnya?"
"Dia teman sekelasku di pelajaran kewarganegaraan" Jawabku
"Oh" gumamnya "Kalau begitu aku permisi dulu" Katanya tersenyum tulus "Terima Kasih. Senang berkenalan dengan kalian semua"
Sedetik sebelum Bella berjalan keluar, Alice berseru "Tunggu, Bell" Alice menghela nafas "Kau naik apa kesana?"
"Aku akan minta ayahku mengantar kesana"
"Ayahmu 'kan sedang bekerja? Atau begini saja..." Kata-kata Alice berubah menjadi gumaman "Bagaimana kalau Edward mengantarmu?" Tanyanya tiba-tiba menyeringai.
***
Kukerjapkan mata, tidak percaya mendengarnya.
"Betul. Bagaimana jika Edward mengantarmu?" Imbuh Rosalie "Kau sedang tidak kemana-mana, kan, Ed?"
Aku pun langsung menyeringai mendengarnya. Itu adalah langkah awal yang baik..
"Ya, aku tidak kemana-mana. Aku bisa mengantarmu kesana. Aku tahu rumah Jacob"
Bella mengerutkan kening, bingung. Lalu menjawab "Ya, Trims" dengan tulus.
Bisa kurasakan tatapan orang-orang dari dalam rumah, menatap kepergianku dan Bella. Kuacuhkan niatku untuk membukakan pintu, mencoba sebisa mungkin agar dia merasa nyaman.
Kami berdua sudah duduk manis di mobilku. Aku mulai menyetir menyusuri jalan-jalan menuju La Push. Dia diam saja sepanjang jalan, akupun mulai menimbang-nimbang untuk memulai obrolan, atau perjalanan ini akan sia-sia.
"Jadi kau sudah pernah tinggal disini sebelumnya?"Tanyaku dengan gugup.
"Ya. Hanya 1 tahun. Tapi Forks sudah tumbuh didalamku" Jawabnya semangat, dengan suara merdu bagai loceng gereja.
"Kau sudah lama mengenal Jacob?"
"Ya. Ayahku dan ayahnya sudah lama saling kenal. Saat itu Ayahku masih menjadi polisi, belum Kepala Polisi, hanya polisi. Kau tahu..." Dia mulai bercerita panjang lebar. Aku hanya mendengar. Bukan mendengar cerita hidupnya yang terpampang jelas, tapi aku mendengar caranya bercerita. Caranya meledak-ledak setiap kali menceritakan detail-detailnya. Aku hanya sesekali berkata 'Benarkah?' atau hanya tersenyum.
Dan aku bersumpah sempat melihatnya tersipu saat itu.
Tiba-tiba dia berhenti bercerita, lalu tersenyum dan mendesah. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi dia terlihat damai. Seperti lega karna sesuatu. AKu meliriknya dari ujung mataku, tapi dia hanya memandang keluar jendela.
"Kau pikir Jake akan mengenalku?" Tanyany tiba-tiba, memandang lurus ke depan
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Hanya berhubungan lewat e-mail. Apa menurutmu Jake masih mengenalku seperti dulu?"
"Ya" Jawabku yakin —well, mencoba meyakinkan dia setidaknya
Dia tersenyum, luluh mendengarku.
"Ya. Mungkin..." Gumamnya.
Kami sudah sampai sudah sampai di daerah perbatasan La Push. Bisa kulihat dari rumah-rumah warga yang dihiasi gantungan buatan tangan di tiap pintunya.
Tidak lama, kami sampai di rumah Jacob. Dia sedang nongkrong di garasinya bersama Quil, Embry dan —si anak baru— Seth. Kuklaksonkan mobilku, Jacob menoleh dan langsung melambaikan tangan. Walaupun kaca film mobilku terlihat hitm pekat dari luar, tapi aku yakin Jacob pasti mengenal mobilku dengan baik. Kumatikan mesin mobil.
"Kau siap?" Tanyaku pada Bella yang kelihtan gugup, atau takut? Kukerutkan kening, bersiap kalau-kalau sesuatu terjadi padanya.
"T-t-tidak" Jawabnya terbata
"Kenapa?"
"Aku tidak yakin. SUdah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Dan lihatlah betapa besarnya dia sekarang! Dia sangat berbeda"
"Bella?" Kuangkat alisku "Kau ingin bertemu dengannya 'kan?" Aku memastikan, kali ini dengan sikap siap pergi.
"Ya" Dia mendesah "Ok..." Gumamnya.
Aku turun terlebih dulu dari mobil, lalu membalas lambaian Jacob tadi. Jacob berlari menghampiriku.
"Hei, Man! Apa yang membawamu kesini?" Sambutnya riang.
"Ini" Jawabku berjalan menuju kursi penumpang dan membukanya.
Dia turun dari mobil. Terlihat sangat gugup.
"Hei, Jake"
Jacob terkesiap, matanya membelalak girang "Bella?"
***
Saturday, March 3, 2012
Postingan Malem-malem sambil Goreng-goreng
Sekarang jam setengah 12 malem, dan ini malem minggu, dan gue ga kemana-mana (ya, inilah kerugian LDR)
Akhirnya gue memutuskan untuk bantuin Oma gue masak dan bikin kue buat gereja besok.
Pertama, Oma gue nyuruh ngolesin ikan-ikan ini pake aer lemon.
Abis itu, gue disuruh ngadonin kue apem. Kalo udah jadi enak, loh.. :D
Terus karna gue laper ditengah malem, gua goreng ikan cakalang sama bikin sambel.. Mancap..!!!!!
Tapi, ada yang nggak enak juga. Untuk mengabadikan foto2 ini, gue harus pake Night Mode yang brarti tangan gue sama sekali ga boleh goyang.
Akhirnya gue memutuskan untuk bantuin Oma gue masak dan bikin kue buat gereja besok.
Pertama, Oma gue nyuruh ngolesin ikan-ikan ini pake aer lemon.
| Sungguh ikan yang malang |
| Bekas diubek-ubek |
| Halal |
| Bahan mentahnya |
| Ga napas |
Ok, deh.. Mau lanjutin kerjaan dulu
#plaakk
Temen-temen
Baiklah, dipostingan kali ini gue mau berbagi keseharian gue dan temen-temen disekolah..
Pertama, perkenalkan inilahbudak budak temen-temen gue..
Ini adalah Rifqy Aufa, orang paling nyebelin berisik di kelas. Dia duduk tepat didepan gua, atau kadang kalo lagi ga waras (emang ga waras) dia bakalan pindah di tempat orang, trus orang tersebut diusir ama dia..
Memang hidupnya menyusahkan..
Yang satu ini Faisal Almaaz, dia adalah (mantan) Ketua OSIS di sekolah gue sekaligus Ketua Kelas (dikelas gue, tentunya).
Dia dikenal sebagai Manusia Ter-Cucok 2012. Dia dan Rifqy berteman cukup dekat, dan jadilah begini...
Lalu selanjutnya, ada Amir Firdaus
Amir orangnya baik banget, asik dan lucu juga, terus dia sering bilang "Gua Ganteng yah??" sambil benerin kerah bajunya.. Kalo ada orang yang bilang "Mir, elu ganteng banget"
Pasti langsung dijawab "Baru tau?"
-.-"
Muhammad Farhan, dia temen sekelas sekaligus satu situs FanFic. Dia juga suka nulis FF kaya gue, cuman bedanya kalo gue seputar kehidupan Hollywood, kalo dia tentang Anime. Kebanyakan tentang Fairytale dan Sky..
Dan kegiatan kita sehari-hari itu udah pasti belajar (weshh!), iseng-isengan, poto-poto (jangan dicontoh!), dan bikin memori bareng-bareng sebanyak-banyaknya..
:))
Pertama, perkenalkan inilah
| Memang, mukanya tidak tampak seperti Tukang Beling |
Memang hidupnya menyusahkan..
| Orang Ter-Cucok |
Yang satu ini Faisal Almaaz, dia adalah (mantan) Ketua OSIS di sekolah gue sekaligus Ketua Kelas (dikelas gue, tentunya).
Dia dikenal sebagai Manusia Ter-Cucok 2012. Dia dan Rifqy berteman cukup dekat, dan jadilah begini...
| Tampang-tampang Depresi |
Lalu selanjutnya, ada Amir Firdaus
| Orang paling ganteng |
Amir orangnya baik banget, asik dan lucu juga, terus dia sering bilang "Gua Ganteng yah??" sambil benerin kerah bajunya.. Kalo ada orang yang bilang "Mir, elu ganteng banget"
Pasti langsung dijawab "Baru tau?"
-.-"
Muhammad Farhan, dia temen sekelas sekaligus satu situs FanFic. Dia juga suka nulis FF kaya gue, cuman bedanya kalo gue seputar kehidupan Hollywood, kalo dia tentang Anime. Kebanyakan tentang Fairytale dan Sky..
Dan kegiatan kita sehari-hari itu udah pasti belajar (weshh!), iseng-isengan, poto-poto (jangan dicontoh!), dan bikin memori bareng-bareng sebanyak-banyaknya..
:))
Subscribe to:
Posts (Atom)







