Friday, March 9, 2012

Always There part 2

Bella's POV

   Kali ini aku yang terkesiap. Jacob tiba-tiba memelukku dan mengangkatku sampai aku tidak bisa merasakan tanah dikaki-ku.
   "Tidak bisa nafas, Jake" Kataku tersengal.
    Jacob terkekeh "Maaf, Bells" Katanya, tapi nadanya terlalu riang untuk sebuah permintaan maaf "Apa kabarmu, Bells?"
    "Sesak nafas" Jawabku memegang dada
    Dia terkekeh lagi mendengar jawabanku
    "Aku sangat merindukanmu, Bella. Harusnya kau bilang dulu jika ingin berkunjung"
    "Well, aku juga Jake. Dan ini kejutan, aku bukan hanya sekedar ingin berkunjung. Aku pindah lagi kesini"
    "Benarkah?" Sahutnya penuh kemenangan
    "Ya. Charlie yang memutuskan"
    "Hore!" Pekiknya senang "Setelah ini aku akan membuat parade untuk memuja ayahmu dan ide cemerlangnya"
    "Kau ini, Jake"

    "Bella!" Tiba-tiba suara serak menggema dari belakang bahu Jacob.
""Bagaimana kabarmu? Kau masih mengingat kami 'kan?"
    Kukerjapkan mata tidak percaya "Quil? Embry?" Kataku memastikan, tidak yakin sepenuhnya kalau itu mereka. Mereka sudah sangat besar sekarang.
    "Benar, ini kami" Kata Quil, "Bagaimana kabarmu setelah tinggal di tempat tropis?"
    "Baik" Kataku mengangkat bahu
    "Oh ya, Bella, kenalkan ini teman baru kami, Seth Clearwater" Tunjuk Jacob pada seseorang yang belum pernah kulihat sebelumnya.
    Dia mengulurkan tangannya "Seth" dia menyeringai
    "Bella" Aku balas nyengir.

    "Hei, ayo kita masuk ke garasi. Sudah mulai gerimis" Ujar Embry.
    "Benar, ayo Bells" Ajak Jake, menarik tanganku menuju tempat hangatku.

***

   Garasi Jacob masih tampak sama. Seperti terakhir kali aku datang kesini musim semi 3 tahun lalu. Atap-atapnya dipenuhi tambalan genteng plastik yang menimbulkan suara gemuruh tiap kali hujan. Alat-alat keramat Billy-pun masih di tempat yang sama.
Dan rasanya masih hangat.
   "Aku tidak sadar betapa aku merindukan tempat ini" Gumamku
   "Taj Mahal-nya Washington" Jacob berkata dengan nada memberi pernyataan
   "Taj Mahal-nya Washington" Aku berkata dengan nada menyetujui.
Lalu pandanganku tertumbuk pada benda itu, benda yang membuatku bersumpah tidak akan pernah menaikinya lagi.
   "Kau tidak menjual benda itu?" Tanyaku, memajukan dagu kearah itu.
   "Itu satu-satunya benda yang mengingatkanku padamu. Mana mungkin aku menjualnya?" Jacob menyeringai "Tidak mungkin" Lanjutnya menggeleng-gelengkan kepala.
   Aku mendengus, diikuti seringaian lebar Quil dan Embry.
   "Apa kau lupa dulu sering menaikinya bersama kami?" Tunjuk Embry
   Aku mendengus lagi, kali ini lebih keras. Mengingat masa-masa 3 tahun lalu saat aku menaiki iu. Motorku.
   "Kau menaiki itu?" Sergah Edward yang daritadi diam saja, tiba-tiba membelalak panik.
   "Ya"
   Edward menggeleng-geleng lagi entah kenapa.

   Sudah lama sekali aku tidak kesini. Tapi tidak ada yang berubah, sangat biasa. Seperti sedang menghabiskan waktu siang digarasi bersama sahabatku.
Jacob-ku.
   Semuanya terasa sangat nyaman, bahkan Seth, teman Jacob yang baru kukenal hari ini, rasanya sangat menyenangkan. Dia terlihat seperti Jacob dulu. Tapi ada satu orang yang paling menarik perhatianku.
   Well, dia adalah Edward. Dia begitu baik, ramah, dan ya... dia tampan. Tidak, tidak, dia sangat tampan.
Oh, Bella! Apa yang kaupikirkan?
Kugelengkan kepala memikirkan itu.

   "Ed, ayo ikut aku sebentar. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" Seru Seth, memanggil Edward dari pintu sambil membawa kardus cokelat.
   "Baiklah" Jawab Edward datar.
   Lalu mereka berdua-pun hilang di balik pintu.

   "Jadi, Edward, Bell?" Kata Embry menyeringai.
   "Hah?" Tanyaku bingung.
   "Kau tertarik padanya 'kan? Sudahlah jangan mengelak. Itu terlihat sangat jelas"
   "Tidak. Mana mungkin! Aku baru saja bertemu dengannya" Jawabku, entah kenapa suaraku terdengar tidak yakin.
   "Bella, kau tidak perlu mengelak lagi, atau lebih tepatnya tidak bisa mengelak lagi. Kau ingat Quil, tadi saat Edward memandangi Bella? Itu namanya cinta pada pandangan pertama" Kata Embry, melipat tangan sambil menerawang ke langit-langit.
   "Benar! Indahnya cinta pada pandangan pertama" Imbuh Quil lalu mengikuti gaya Embry.
Seth tiba-tiba muncul dari pintu, dia melihat Quil dan Embry yang sedang bergaya seperti itu, dan dengan idiot-nya mengikuti gaya mereka berdua. Dia datang tanpa Edward.
   Jacob mendengus "Tahukah kalian? Gaya kalian menjijikan" Dia cemberut.
   "Benar, Jake" Kataku sependapat.
   Kupandangi langit sore yang sudah menguning, hujan gerimis tadi membuat langit menjadi sangat indah. Ternyata sudah lumayan lama aku berada disini. Sudah twilight, bahkan matahari hanya tinggal bias kuningnya.
   Edward muncul dari pintu sambil membawa beberapa buku.
   "Seth, aku bawa buku-buku ini" Katanya senang, mungkin dia suka membaca.
   Seth mengangguk "Tentu... tentu..."
   "Thanks, Man"
   Aku mulai menimbang-nimbang, untuk bertanya pada Edward maukah dia mengantarku pulang lagi, aku belum mau pulang, tapi ini sudah sore, jadi aku harus pulang.
   "Bella, kau mau pulang sekarang? Ini sudah sore" Kata Edward tiba-tiba, sesaat kukira dia bisa membaca pikiranku.
   "Kau mau mengantarku lagi?"
   "Tentu saja. Bisa-bisa Alice memotong leherku jika aku pulang tanpamu"
   "Baiklah"
   "Ayo pulang"

   Jacob menggumamkan sesuatu, terlalu pelan untuk kudengar. Lalu tiba-tiba wajahnya bersinar, seperti baru mendapat ide cemerlang.
Dia tiba-tiba mengecup pipiku.
   "Jacob Black!!" Seruku marah.
   Dia malah tertawa "Bye, Bells" Lalu melambai padaku.
   Kubalas lambaiannya, lalu berlari mengikuti Edward.

   "Edward, kau tidak mengatakan apa-apa pada Jacob?" Tanyaku saat mobil sudah mulai berjalan.
   "Untuk apa?" Tanyanya balik, polos
   "Ucapan selamat tinggal?"
   "Nanti juga aku kesini lagi"
   Aku hanya mengangguk kaku mendengar jawabannya.
   Mobil melaju semakin jauh dari rumah Jake.

   Hening.

   "Kau pacar Jacob?" Tanya Edward memecah keheningan.
   "Apa? Tentu saja bukan!"
   "Tapi tadi dia mencium pipimu"
   "Aku juga tidak tahu tadi itu apa, biasanya tidak begitu"
   Terjadi hening yang cukup panjang.

   "Dia cemburu" Kata Edward tiba-tiba, memecah keheningan lagi.
   "Apa? Pada siapa?"
   "Padaku" Edward mendesah "Dia cemburu padaku karna aku dekat denganmu"
   "Memangnya  kenapa?"" Aku berpikir, mengangkat kepala ke arah jendela.
   "Aku saja yang laki-laki tahu dia menyukaimu. Itu terlihat sebening kristal, seakan dia membawa papan iklan besar bertuliskan 'AKU SUKA BELLA' "
   "Kau berlebihan. Lagipula bagaimana mungkin dia menyukaiku"
   "Sudah kubilang 'kan, aku laki-laki, jadi aku tahu kenapa"
   "Hah? Apa sih yang sedang kau bicarakan?"
   "Sudahlah lupakan saja" kata Edward, memandang lurus ke depan.
   Aku juga tidak mau menggangunya menyetir, jadi kukunci mulutku sampai dirumahnya.

   Kupandangi lagi langit dari dalam mobil.  Padahal baru saja langit tampak indah, tapi sekarang sudah berubah.Dari dalam langit jadi terlihat sangat gelap, seperti akan runtuh.
Melihat langit yang seperti ini membuatku ingat dengan video yang baru tadi pagi kutonton di YouTube,
aku ingat itu adalah clip baru Taylor Swift - Safe and Sound.
Aku seperti sedang melihat langit mendung di video itu, semuanya buram, mendung. Akupun mulai mengingat-ingat lirik dari lagu itu dikepalaku...

Just close your eyes
The sun is going down
You'll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I'll be safe and sound

Just close your eyes
You'll be alright
Come morning light,
You and I'll be safe and sound...


   "Bella!" Tiba-tiba suara indah itu membuyarkan lamunanku.
   "Apa? Apa?" Tanyaku kikuk.
   "Apa kau daritadi tidak mendengarku?"
   "Apa?"
   "Sudahlah, lupakan" Lanjutnya terkekeh
   "Kau bicara apa sih, Edward?" Tanyaku ingin tahu
   "Tidak lain kali saja" Lanjutnya masih terkekeh
   "Terserah kaulah" Kataku mengangkat bahu.

   Tidak lama kami sudah sampai di rumahku. Tunggu dulu...rumahku?
   "Kau tahu rumahku?"
   "Siapa yang tidak tahu rumah Kepala Polisi Swan?"
   Aku mendengus mendengar kata-katanya. Dia menghentikan laju mobilnya.
   "Trims, Edward sudah mengantarku"
   "Tentu, tidak masalah"
   "Sampai jumpa" Kataku keluar dari mobil.
   Dia membuka jendela mobilnya, "Dah" katanya, lalu melambai.
   Kubalas lambaiannya, dia menutup jendela dan mulai memacu mobilnya. Kupandangi mobil itu sampai hilang di belokan. Aku berbalik masuk kerumah, berjalan dengan senyum misterius yang entah darimana datangnya

No comments:

Post a Comment

Unyu maksimal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket