Saturday, June 30, 2012

Enchanted part 5


Kencan

Wajahku tidak bisa berhenti merona dan tersenyum terus-menerus mengembang dari bibirku. Ethan akan mengajakku pergi, berjalan-jalan, totally a date!
Usai syuting hari ini –yang diberi keringanan setengah hari oleh Vlada, aku mengemas kebutuhan pokok saat akan pergi. Dompet dan handphone. Lalu memasukkan beberapa jepit rambut kecil untukku jika merasa terganggu dengan rambutku.

Ethan Dawson:
“Hey, apa akhir pekan kau libur?”
Me:
“Tidak seharian. Hanya setengahnya. Kenapa?”
Ethan Dawson:
  “Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan. Kau tahu, semacam kencan. ;). Itu jika kau mau.”
Me:
“Benarkah? Baiklah”
Ethan Dawson:
“Hebat! Jadi aku bisa menjemputmu jam berapa?”
Me:
“Jam 1”
Ethan Dawson:
“OK, see you then”
Me:
“OK”


Kubaca lagi percakapan berharga yang seumur hidup tidak akan aku hapus. Pertama kalinya Ethan mengajakku… err… kencan. Aku terus tertawa dalam hati. Tapi masih ada yang aku ragukan, benarkah dia Pria Jatuh Cinta-ku? Benarkah dia pria yang akan aku cintai sampai mati?
Pertanyaan itu terus berkelumit dikepalaku.

Ketukan pintu di van membawaku kembali ke dunia. Suara Lizzie memanggilku dengan suara tenang.
“Bree… Bree… Brielle” katanya.
“Ada apa Liz?” aku membuka pintu van dan melihat BMW Hitam keren dan sporty –yang aku tidak tahu namanya, terparkir didepannya, mobil itu masih menyala yang mengartikan bahwa si pengemudi masih didalam.
“Jemputanmu sudah datang” katanya, menekankan kata jemputan.
“He’s a friend, Liz. Bukan sopir pribadi” tegasku menyelamatkan Ethan dalam situasi seperti ini.
“Baiklah, tapi mungkin kata friend akan bertambah imbuhan dengan ‘boy’ didepannya. Hihihi…” Lizzie terkikik sendiri oleh kata-katanya.
“Terserah kaulah” kataku sekenanya, walaupun suara riang tidak bisa tertutupi.
“Hihihi…” Lizzie melanjutkan tawanya.
Aku masuk kedalam mobil itu. Walaupun kaca film mobil itu hitam pekat, tapi aku tahu itu adalah Ethan. Karena saat aku mendekat, dia memainkan suara klaksonnya dengan nyaring. Suaranya sampai membuat beberapa kru dan pemain keluar dari trailer masing-masing dengan kaget. Alex dan Jessica sampai menggeleng melihat kelakuan abnormal ini.
Begitu mobil berjalan, Lizzie melambaikan tangan dengan tas yang terselempang di bahunya. Hari ini dia dan beberapa pemain akan bersenang-senang bersama. Jessica tersenyum memandangi mobil Ethan, hanya Gale yang tidak ada. Dia tidak tampak dimanapun. Kemana dia?
Aku memutar otakku, mungkin dia sedang tidur, tapi tidak mungkin karena dia akan pergi bersama yang lainnya.
Entahlah, yang muncul dibenakku hanyalah alasan klise. Ke toilet.

“Kau sudah makan?” Tanya Ethan begitu kami meninggalkan pelataran parkir.
Aku menggeleng.
“Kalau begitu, kita makan dulu saja”
“Ehmm…” aku menjawab agak ragu “Apa kau yakin kita bisa makan dengan tenang?” kataku mengingatkan kalau kita bukan orang ‘normal’.
“Tenanglah, jika ada yang mengganggumu, aku berjanji akan melindungimu” katanya tersenyum lalu mulai berkonsentrasi menyetir lagi.
Aku hanya bisa terkesiap mendengar kata-katanya barusan.

Kami makan di salah satu restoran khas Jepang di LA. Restoran ini cukup terkenal dan memiliki banyak pelanggan. Kebanyakan yang datang berwajah oriental, mungkin mereka orang Jepang yang tinggal disini dan merindukan makanan dari negeri Sakura itu.
Aku sangat suka makanan Jepang, entah ini hanya sebuah kebetulan atau dia memang mengetahuinya makanya dia mengajakku makan disini. Tapi jika benar dia tahu, pasti dari Google. Semuanya tersedia lengkap disana.
Kami memilih tempat duduk di pojok restoran, saat ini restoran sedang tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang duduk berjauhan dari kami.
“Permisi, apa yang ingin kalian pesan?” kata seorang pelayan yang berwajah oriental, menunduk dengan sopan kearah kami. Begitu aku memandang wajahnya dengan jelas dia langsung menganga lebar. Mungkin karena daritadi aku menunduk dan membaca daftar menu, dia tidak bisa melihat wajahku dengan jelas.
“Aku ingin pesan satu porsi teppan, dan satu mangkok natto” kata Ethan terlebih dulu memesan makanannya.
Begitu Adam memesan, mulut pelayan tadi menganga tambah lebar sambil berkata “Yahh…” dengan gaya khasnya.
Aku hampir tertawa melihatnya.
“Dan, Brielle, kau mau pesan apa?” Ethan bertanya padaku dengan wajah memerah dan sedikit tertunduk entah kenapa.
“Mungkin satu porsi ramen, dan natto”
Pelayan itu masih ternganga, lalu entah dorongan kesadaran atau dorongan ke-profesionalitasannya membuatnya mengangguk canggung meminta maaf, lalu meminta kami mengulangi pesanan kami. Aku dan Ethan sama-sama merasa hal barusan lucu, jadi kami tidak marah atau protes, kami justru tersenyum memakluminya.

Kami makan dengan senang. Terkadang Ethan mengeluarkan gurauannya yang membuat perutku sampai sakit karena tertawa, dia juga sering mengeluarkan suara yang aneh dan meniru aksen British yang membuat gurauannya tambah lucu. Selama makan, aku mendengar beberapa kali suara kamera jepretan yang berbeda-beda. Mungkin dari para pelayan, yang sedari tadi ‘mondar-mandir’ didekat kami.
Ethan sama sekali tidak menghiraukan mereka dengan tetap makan. Dia terus berkata padaku “Biarkan saja. Hari ini acuhkan saja mereka” dengan suara lembut dan menenangkan.
Yah, hari ini aku akan mengacuhkan mereka. Hari ini yang ada hanya kami berdua, dan aku akan menikmati sisanya. Bersama dia. Bersama Ethan Daniel Dawson.

Kami berjalan-jalan sepanjang hari, nonton, toko buku, toko kaset, toko alat musik. Aku membeli beberapa buku yang judulnya menarik perhatianku, dan beberapa kaset yang baru kutemukan setelah perburuan lama, kaset Woody Allen, dan album penyanyi yang kusuka. Ethan membelikanku sebuah cincin sederhana. Dia memakaikan cincin itu langsung ketika kita keluar dari toko aksesoris yang biasanya tidak pernah kumasuki. Tapi biarpun begitu, aku sangat bahagia. Tidak peduli orang-orang memperhatikan dengan pandangan menyelidik, aku tidak peduli. Ethan juga sepertinya tidak peduli dengan semua itu, karena sepanjang jalan dia terus menggandeng tanganku tanpa rasa ragu.

***



Begitu aku kembali ke van untuk istirahat, aku tidak begitu terkejut melihat semua perempuan yang doyan bergosip sudah berkumpul didalamnya. Bahkan Vlada sekalipun. Mereka sudah menatapku dengan berbinar-binar, menunggu cerita apa saja yang aku lakukan bersama Ethan tadi. Mereka semua menumbukan pandangan kearah bungkusan yang kubawa.
“Dia membelikanmu apa?” sergah Nancy, menghampiriku dengan semangat berlebihan.
“Hanya beberapa buku” jawabku enteng.
“Buku? Dasar. Tetap saja…” Lizzie menggeleng begitu aku duduk diantara para wanita ini. Aku merasa seperti sedang berada diantara pemangsa berbahaya dan aku adalah mangsa paling empuk di dunia.
“Jadi bagaimana cerita lengkapnya?” Vlada memandangku dengan jahil, lalu menaikkan satu alisnya.
“Kami hanya makan, nonton dan berbelanja barang-barang ini” jawabku pasrah.
“Apa dia juga menyukai semua ini?” Nancy semakin semangat diikuti anggukan Jessica, Lizzie, Vlada dan Dylan.
“Yep. Kami sama dalam hal-hal semacam ini. Bahkan dia membeli buku yang dua kali lebih banyak dariku. Kecuali kaset, dia hanya membeli satu, karna kaset yang dia cari tidak ada tadi”
“Ahh… Sudah serasi. Jadi apa ada rencana kencan berikutnya?” kali ini Dylan yang bicara.
“Tidak. Belum” jawabku ragu.
“Hey, tunggu dulu, ini cincin siapa, sweetheart?” Lizzie menunjuk ke jari manisku.
“Hey, Bree, kau belum menceritakan pada kami tentang yang satu ini” lanjutnya. Dia berusaha memegang cincinku dengan paksa.
“No! Tidak!” seruku.
Mereka semua cemberut, dan kubalas dengan tatapan meminta maaf.
“Sorry, girls, tapi hanya ini yang tidak akan aku ceritakan. Tidak akan aku bagikan ke siapapun”

Jawaban barusan tidak membuat wajah mereka tambah menekuk, tapi malah dipenuhi senyuman. Karena kata-kataku barusan menandakan benar-benar ada sesuatu antara aku dan Ethan Dawson.

Friday, June 29, 2012

Enchanted part 4


“Kau sudah hapal bagianmu ‘kan, sweetheart?” Tanya Gale, menyodorkan segelas cokelat panas kearahku saat kita sedang break.
“Tentu saja.” Kataku riang menerima cokelat panas darinya, lalu mengangguk berterima kasih.
“Minggu depan usai syuting, Jessica dan Alex mengajakku berkeliling. Maklum, mereka berdua kan juga dari Inggris, jadi ingin berjalan-jalan. Kau mau ikut?” kata Gale mengajakku. Minggu depan, Vlada memberi waktu kami setengah hari untuk berkeliling. Semacam liburan singkat.
“Maaf, Gale, tapi aku sudah punya janji.”
“Janji? Tadi aku sudah mengajak Lizzie duluan dan dia mengiyakan” kata Gale bingung, dia salah paham.
“Bukan, aku bukan akan pergi dengan Liz. Tapi dengan… Ethan” kataku ragu takut menyinggung perasaannya karen menolak ajakannya.
“Oh” jawabnya singkat, “Sekarang kau dengan dia yah?” Gale mengatakan kata ‘dia’ dengan penekanan halus. Matanya menjelaskan dengan bahwa dia sangat kecewa.
“Maaf, Gale, tapi dia sudah mengajakku”
“Tidak apalah, kau kan juga punya kehidupan. Tidak mungkin bersama kita terus. Aku paham, kok” katanya berusaha menutupi kekecewaan dalam suaranya. “Kalau begitu, aku kesana dulu yah” sambungnya, menunjuk ‘kesana’ yang tidak jelas.
Sorot mata Gale berubah setelah percakapan itu. Dia tidak lagi menatap mataku. Terlihat murung sepanjang hari. Aku tidak tahu apa penyebabnya dan berharap bukan karenaku. Aku tidak bisa melihat temanku sendiri kecewa –karenaku.

Masih kuingat bagaimana percakapanku beberapa hari lalu bersama Lizzie, yang membuatku gelisah sampai saat ini. Ethan sudah menyukai orang lain. Aku tahu dengan jelas soal itu. Karena Ethan dan aku memiliki  banyak kesamaan, salah satunya jika kami menciptakan lagu, maka ada artinya. Kami berdua tidak bisa membuat lagu tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Dan begitulah lahirnya lagu Twilight – Howly Wind. Karena Ethan mengalaminya, dia tahu apa yang terjadi.
Dia benar-benar jatuh cinta pada wanita luar biasa bernama Stephenie. Bisa kuketahui dia adalah wanita yang luar biasa dari tiap lirik lagu itu. Betapa Ethan memujanya karena keindahan hatinya, wanita yang seolah menyinari kehidupannya dan membuat mimpi-mimpinya jadi kenyataan, wanita yang dia anggap sebagai seorang putri dari cerita dongeng yang kisahnya mereka tulis sendiri bersama-sama, bagaimana tersiksanya Ethan begitu tahu Stephenie harus meninggalkannya. Bagaimana cara Ethan menyebut namanya dan memujanya dalam lagu itu. Penuh cinta. Menyadari semua itu, aku tidak bisa tidak membandingkan diriku dengannya. Dengan Stephenie.
Aku sama sekali tidak sebanding, mendekatipun tidak.

Deringan handphone ku membawaku kembali ke masa sekarang. Ada satu pesan dari seseorang dan ternyata Lizzie. Kenapa dia mengirimiku pesan sementara dia bisa datang kesini?
Kubuka pesan itu.

“Sweetheart, mulai hari ini kau bisa melakukan rekaman di lokasi. Aku membawa beberapa record kesana. Jadi tenagamu akan diforsir. Ini bukan kemauanku. Sungguh. Ini perintah label. Sorry :/”

Hebat, sekarang tenagaku akan benar-benar habis. Syuting, rekaman, press conference, promo, world tour, semuanya membebaniku.
Kubalas pesan itu dengan sedikit kesal.

“Baiklah, boss, tapi jangan sekali-sekali merusak akhir pekanku. Itu perjanjian kita dari awal. Ingat? OK, aku akan mengikuti perintahmu. Hati-hati. See ya.”

***

Aku masih terjaga pukul 2 pagi. Hal yang sama seperti saat itu. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Ethan Dawson.
Kali ini aku tidak memikirkan bagaimana gelisahnya diriku, tapi otakku berputar kearah keterpesonaanku padanya. Lagi.
Nada-nada indah mulai berlarian dikepalaku. Wajahnya juga datang bersamaan dengan momen-momen obrolan itu. Aku tahu dengan jelas, aku sedang menciptakan sebuah lagu. Kuambil gitar yang berdiri di dinding samping tempat tidur, dan terciptalah lagu itu. Enchanted.

Menjelaskan dengan frontal bagaimana aku terpesona padanya pada pandangan pertama. Saat-saat percakapan yang menyenangkan dimulai, bisikan matanya, siluetnya yang mengarungi ruangan, suara lembutnya yang berseru menyebut namaku.
Bagaimana aku benar-benar ingin mengatakan padanya bahwa aku terpesona saat itu juga.
I was Enchanted to meet you.

Sepuluh menit lagu itu selesai. Rekor baru. Sebelumnya, lagu yang paling cepat aku ciptakan adalah ‘Our Story’, 13 menit, dan lagu itu telah kunobatkan menjadi lagu paling romantis yang pernah kutulis. Tapi sekarang sama sekali tidak ada apa-apanya. Sepuluh menit dengan kalimat paling nyata yang pernah aku tulis seumur hidupku.


Please don’t be in love with someone else
Please don’t have somebody waiting on you

Kuputuskan memasukkan lagu ini kedalam daftar lagu album baruku. Aku dan pihak label masih membicarakan judul yang pas untuk album ini. Tapi dalam hati aku mengusulkan Enchanted.
Enchanted. Terpesona. Yah, aku benar-benar terpesona padanya.

Syuting sekaligus rekaman ternyata bukan ide yang buruk. Aku bisa menghemat waktu kira-kira 3 minggu. Dan rasanya menyenangkan bisa bernyanyi di hadapan banyak orang, aku seperti sedang menunjukkan diriku pada semuanya. Inilah diriku, dengan musik. Dan selesailah rekaman lagu album terbaruku.
Pihak label sudah menetapkan judul apa yang tepat untuk album ini. Awalnya aku menyarankan Enchanted, tapi mereka menolak dengan alasan album kali ini harus mengandung pesan yang dalam untuk fans, bukan hanya menyampaikan perasaan pribadiku. Jadi kami sepakat ‘Say it Now’, diambil dari track keempat.

Seperti biasa, aku melakukan teka-teki ‘Message Behind The Songs’.
Aku sendiri yang merancang desain album dan mengkapitalkan pesan dalam tiap lagu ku.
Sampailah aku pada lagu ketujuh. Enchanted. Dengan frontal aku menuliskan E-T-H-A-N . Dan menggunakan kata wonderstruck di reff-nya. Kata yang sering digunakan Ethan.
Jadilah kukemas semuanya dalam satu folder dan menyimpannya sambil berharap tidak ada yang terlewatkan.

***

Wednesday, June 27, 2012

Enchanted part 3


Setelah sampai dirumah dengan perasaan berbunga-bunga, aku masuk kekamarku. Melihat Lizzie sudah tertidur dikamarnya.
Selama perjalanan pulang, pipiku merona sepanjang jalan mengingat apa yang terjadi tadi. Besok pagi aku akan menceritakan semuanya pada Lizzie.

Aku melakukan semua ritual sebelum tidur. Mencuci kaki dan memakai baju tidur, lalu naik ke tempat favoritku, tempat tidur.
Bahkan sampai sekarang aku masih memikirkannya. Ethan. Suaranya yang selembut beludu masih terngiang-ngiang ditelingaku. Caranya tertawa, matanya yang berbicara, dan semuanya. Aku mencoba tidur dengan susah payah sampai pukul 2 pagi! Mataku masih terjaga setelah ada pertanyaan yang melewati otakku dan terus menghantuinya,
‘Apa dia sudah jatuh cinta? Apa dia punya pacar? Apa dia sudah menemukan Gadis Jatuh Cinta-nya sendiri?’
Aku terus bertanya sampai mataku terbuka lebar dan baru tertidur pukul 3 pagi.

Matahari pagi membutakan mataku. Pasti Lizzie yang membuka tirai selebar itu sampai membuatku terbangun. Hampir saja aku kesal dengannya, tapi tindakan ini harus dia lakukan mengingat hari ini aku akan mulai syuting perdana.
Setelah pihak TIC Entertainment mengumumkan pemeran Dakota dan Daniel secara resmi, fans buku Vanilla Sun makin menggila. Film yang akan aku mainkan memang berdasarkan sebuah novel saga fenomenal karya Isabella Kampusch, cerita standard tapi sangat dalam. Vampire dan manusia yang saling mencintai dan ingin hidup bahagia bersama. Cerita roman yang indah. Banyak media, dalam bentuk baca atau visual, yang memuji pilihan Vlada. Mereka menilai, Gale dan aku sangat cocok memerankan Dakota dan Daniel. Bahkan ada yang berasumsi, kecocokan itu tercipta dari kehidupan nyata. Mereka pikir aku dan Gale benar-benar sepasang kekasih.
Hal itu bisa disebut normal mengingat intensitas cerita dan pertemuan kami dalam saga pertama. Justru aneh jika orang-orang tidak beranggapan begitu.

Aku menaiki van hitam untuk berangkat menuju tempat syuting pertama. Untunglah rumahku dekat dengan lokasi, jadi tidak perlu susah-susah duduk lama didalam pesawat. Gale sudah lebih dulu datang kesini dan ingin berangkat bersama. Dia diharuskan tinggal di LA selama kurang lebih 6 bulan untuk kepentingan syuting dan promo. Jadi sejak seminggu lalu, dia mengucapkan selamat tinggal pada kampung halamannya, Inggris.

Usai syuting hari pertama, aku menyendiri di dalam van lalu mengaktifkan handphone yang hari ini sengaja kumatikan.
Betapa terkejutnya aku melihat satu pesan suara yang masuk. Itu dari Ethan! Ethan Dawson!
Kupasang earphone agar suara lembutnya terdengar lebih jelas.
“Hei, bagaimana kabarmu hari ini? Lagi sibuk ya? Tadinya aku ingin bicara langsung, tapi handphone mu dimatikan, pasti karena syuting. Oh,ya, bagaimana syutingnya? Semoga lancar. Dan jaga dirimu, OK? Bye.”

Aku menjerit kesenangan seperti orang sinting. Tidak lama, Lizzie masuk kedalam van bersama Gale dan Jessica –Seorang lawan main yang baik, mereka menghampiriku dengan panik.
“Ada apa, sweetheart?” wajah Lizzie menunjukkan bahwa dia tidak berpura-pura.
“Oh, Lizzie!” aku malah tertawa seperti orang gila –atau aku memang sudah gila. “Lizzie, terimakasih, aku sangaaaat menyayangimu” gumamku tidak jelas. Sebenarnya aku ingin berterimakasih karena kesempatan yang dia berikan untuk bertemu Adam, tapi aku malah berperilaku seperti orang sinting.
“Oh, Gale, terimakasih karena mau menemaniku kemarin” ucapku memeluk Gale, dia membalas pelukanku dengan sedikit ragu, atau takut? Entahlah, aku tidak peduli.
“Dan, Jess, thank you, kau membuat hari ini semakin indah” ujarku lalu keluar dari van dengan meloncat riang diikuti tatapan menyelidik dari mereka bertiga.

***



The Song


“Ethan Dawson?” suara Lizzie memecah lamunanku saat kami sampai dirumah setelah syuting hari pertama.
“Hah? Apa? Apa?” aku menjawab berpura-pura tidak tahu.
“Kau sedang naksir dia ‘kan?” tanyanya to the point.
“Eh, kenapa kau bisa berpikir begitu?”
“Honey, aku sudah bertahun-tahun kerja dan tinggal bersamamu. Aku sudah hafal betul gelagatmu ketik sedang jatuh cinta.”
“Memang aku bersikap seperti apa?” tanyaku memajukan bibir.
“Seperti orang yang sedang jatuh cinta! Tertawa sendiri saat melihat handphone-mu!”
“Kalau iya, bagaimana kau berpikir aku sedang naksir Ethan?”
“Sweetie, tadi kau berterimakasih padaku dan Gale atas kejadian yang terjadi kemarin. Gale menceritakan semuanya padaku, bagaimana sikapmu berubah setelah menemui Ethan. Kau sangat bahagia.”
“Err… maybe” jawabku mengambang, jawaban barusan justru menjerumuskanku kedalam kandang Lizzie, karena dia tersenyum penuh makna, lalu berseru,
“BREE JATUH CINTA! BREE CINTA ETHAN! WOY, BRIELLE JATUH CINTA SAMA ETHAN DAWSON!”
“Lizzie! Kau mau membunuhku?” kataku menekuk bibir.
“Tidak, sweetheart, hanya saja, ini kejadian langka! Menurutmu berapa banyak cowok yang menarik perhatianmu?”
Aku mengangkat bahu, padahal jelas aku ingat, hanya 4! Delapan belas tahun hidup didunia hanya empat kali naksir seseorang. Itu juga jika Gale dihitung. Dan belum pernah sekalipun berpacaran dengan siapapun.
Bukan catatan yang baik.
“Ayolah, Bree, kau berperilaku abnormal begini hanya tiga kali selama aku mengenalmu. Hanya pada Justin, Gale dan Ethan! Ini langka!”

Benar, bagi Lizzie aku hanya pernah naksir 3 orang. Tapi sebenarnya ada satu orang lagi. Masa lampau. Alasanku berada disini sekarang, karena aku ingin dia memperhatikanku. Aku ingin dia menyadari keberadaanku.
Tapi sekarang, saat orang lain menyadari keberadaanku, dia tetap mengacuhkanku seperti biasanya.
Mario.
Orang yang pernah kuanggap Pria Jatuh Cinta-ku.

“Ayo, Bree, ceritakan padaku. Selengkapnya” Rajuk Lizzie.
Akupun menceritakan semuanya. Dari mulai percakapan menarik bersama Ethan, pesan suara yang memabukkan, sampai pertanyaanku yang masih belum terjawab tentang Ethan. Aku memang tidak pernah berpura-pura didepan Lizzie, semua hal aku ceritakan padanya, dia sudah seperti kakakku setelah seluruh keluargaku meninggal diawal debut saat usiaku 16 tahun.
Hanya Lizzie satu-satunya penopangku. Alasan aku masih mau berusaha.

“Ahh…” Lizzie mengangguk paham setelah mendengar keseluruhan cerita betapa aku terpesona pada Ethan.
Lalu tatapannya berubah menjadi jahil.
“Sungguh, Liz, apa yang ada di pikiranmu sekarang?” sergahku buru-buru sebelum dia merencanakan sesuatu yang konyol.
“Aku akan membantumu” katanya semangat.
“Tidak, tidak! Aku tidak mau kau membantuku. Aku mau ini berjalan alami. Tidak ada bantuan dari pihak manapun” kataku
“Memangnya kenapa?”
“Aku mau tahu apakah dia Pria Jatuh Cinta-ku atau bukan”
Lizzie terdiam begitu mendengar alasanku. Aku tahu dia sangat mengerti dan menghormati konsep Pria Jatuh Cinta-ku. Konsep yang kudapat dari Dad. Beliau mengatakan Gadis Jatuh Cinta adalah seseorang yang kau cintai sampai mati. Sesederhana itu. Dan dia telah menemukan Gadis Jatuh Cinta-nya, Mom. Mereka menjalin hubungan sejak masa SMP sampai akhir hayat mereka. Aku benar-benar percaya pada konsep itu, dan aku juga percaya suatu saat nanti aku akan menemukan Pria Jatuh Cinta-ku.
“Baiklah, sweetheart, itu terserah padamu. Tapi aku harus memberitahumu sesuatu. Apa kau tahu Ethan sudah menyukai seseorang?”

***

Comment!

#PrayForNovia

"Ma, aku udah ngga kuat"
Itu adalah kalimat terakhir Novia Alya, seorang Enchancer yang meninggal pagi tadi karena terserang leukimia.

Jujur, gue kagum banget sama perempuan satu ini. Karena walaupun dia udah sakit (sangat) parah, dia masih sempet berterimakasih sama temen-temennya yang mengucapkan "Get well really soon", atau bikin tweet bersyukur yang sangat banyak, bahkan masih sempet ngasih semangat ke Greyson Chance tentang album baru-nya. Dan keinginan terbesar (yang terakhir dilontarkan) Novia adalah supaya Greyson follow dia di Twitter. Hanya itu.
Lewat tombol sederhana bertuliskan "Follow", maka senanglah Novia.

So, I'm not an Enchancers or the haters, and maybe I don't even know her, but I still wanna say;
Please be happy there, sweetheart. You deserves it. We're all heart you.

Kedonn

Tuesday, June 26, 2012

Enchanted part 2


Tour

          Satu bulan lagi kami akan mulai melakukan syuting film Vanilla Sun. Pihak TIC Entertainment meminta Vlada cepat memulainya. Tapi terhalang karena aku harus mengadakan konser tour terakhirku di MSG. Dan beberapa minggu istirahat. Empat bulan penuh mengelilingi dunia untuk tour adalah hal yang berat menurutku. Dan sekarang sudah akan memproduksi album baru, bukan hal yang baik untuk usia 18 tahun.
          Aku bisa berbangga diri, tapi tidak mau karena menurutku sama saja menyombongkan diri. Dan aku tidak suka. Aku terkadang kesal kepada ulah paparazzi yang selalu mengikutiku kemanapun dan memotret semua yang kulakukan. Aku pernah berteriak marah kepada mereka saat aku sedang di Starbucks untuk membeli Capuccino Caramel favoritku. Bayangkan, pagi hari yang cerah dan tenang saat kau membeli kopi untuk minum pagi-pagi, mereka sudah membawa lensa untuk memotret keseharianmu! Aku tidak suka popularitas yang membuatku tidak bisa menonton di bioskop, pergi bersama teman-teman ke toko buku, makan di restoran favoritku tanpa bunyi jepretan kamera atau lebih parah, kilauan lampu blitz yang sangat mengganggu. Itulah kenapa aku sangat suka menghadiri konser, karena didalamnya, orang-orang tidak terlalu memperhatikanku. Mereka datang bukan untukku, tapi untuk menikmati performa penyanyi kesukaan mereka. Tidak ada yang memperdulikanku disana, aku tenggelam lautan manusia. Seperti orang lainnya.

          Gale akan hadir di konser terakhirku nanti. Awalnya dia memang akan datang kesana, karena ternyata dia penggemar dan penikmat musikku. Bangga sekali rasanya mengetahui lawan mainku adalah penggemarku.
Tiket yang sudah dia beli kuambil lagi, aku gantikan dengan tiket special yang lebih pantas untuk seorang teman. Hanya untuk menghargai usahanya.
          “Thanks, Bree,” katanya semangat, dia begitu sangat senang menerima tiket itu.
          “Berikan sekalian pada Wilson, OK?”
          “Tentu”
         
          Konser berjalan meriah seperti biasanya. Lagu ‘Our Love Story’ mendapat tepuk tangan paling meriah. Dan setelah konfeti ditembakkan, berakhirlah sudah tour album ketigaku, ‘Sparks’.
Aku terus mengucapkan terima kasih sepanjang malam. Tidak ada kepura-puraan malam ini. Dan besok, kepura-puraan itu berlangsung lagi.

***


Wonderstruck

          “Bree, sweetheart, aku baru saja membeli tiket konser Twilight, kau suka penyanyi itu kan?” seru Lizzie.
          Aku hampir berjingkrak girang saat mendengarnya, lalu berlari menghampiri dia. Nyaris saja terjatuh saat dia menangkapku yang berlari terlalu kencang.
            “Benarkah?” tanyaku berbinar.
         “Tentu saja. Aku membeli dua, tapi aku tidak bisa menemanimu, aku ada janji dengan Sam” katanya meminta maaf
          Aku sedikit kecewa mendengarnya, tapi juga tidak bisa memaksakan itu. Sam dan Lizzie sudah berpacaran hampir satu tahun, tapi sangat jarang kencan. Karena kesibukan Lizzie menemaniku tour dan Sam juga sibuk dengan Come Shore, mereka berdua jadi jarang bertemu. Setidaknya ini adalah liburan untuk Lizzie.
          “Baiklah, Liz, tapi menurutmu aku harus pergi dengan siapa?”
          Lizzie berpikir, sedang menimbang-nimbang sesuatu.
          “Bagaimana jika kau ajak Gale? Ini langkah bagus untuk menambah momen kebersamaan kalian” Lizzie menyarankan dengan binaran berlebihan.
          “Baiklah, ide yang bagus” sergahku setuju.
Adam

          Gale menyanggupi ajakanku untuk pergi ke konser Twilight. Aku sangat senang karena aku akan menghadiri penyanyi kesukaanku bersama teman dekatku. Sangat sempurna.
Twilight adalah penyanyi Electronica paling keren yang pernah ada. Aku menyebutnya penyanyi karena memang dia adalah penyanyi. Bukan, namanya bukan Twilight, namanya Ethan. Ethan Dawson. Twilight adalah salah satu proyeknya, tidak bisa di bilang penyanyi solo karena itu adalah proyek, tapi juga tidak bisa dibilang grup karena hanya satu anggota. Hanya Ethan satu-satunya anggota di Twilight. Mungkin ada band pengiring tetap yang merupakan bagian dari Twilight, tapi mereka bukan anggota. Aku sangat semangat menonton konsernya. Ethan adalah seorang yang bisa dibilang weird, tapi justru disitulah menurutku daya tariknya. Itu membuatnya unik.

             “Kau sangat menyukai Twilight ya?”
         “Ya” jawabku pendek pada pertanyaan Gale barusan. Walaupun singkat, aku tidak bisa menutupi perasaan senang dari suaraku.
         
          Beberapa menit kemudian, kami sampai di pelataran parkir tempat konser di LA. Ramai sekali. Tapi seperti biasanya, orang-orang tidak menyadari kehadiranku dan Gale disana. Kami masuk dan menduduki nomor kursi yang ada di tiket. Tempat yang bagus. Aku akan sangat berterima kasih pada Lizzie setelah ini. Aku bisa melihat dengan jelas penampilan Ethan dari sini.

          Konser dimulai, dengan awal suara jangkrik menambah ketenangan dalam konser. Aku ikut melambaikan tangan di lagu Dragonfly, menghentakkan kaki bersama Garden Ice, dan ikut bernyanyi dalam tiap bait yang dinyanyikan Ethan. Aku sangat terpesona padanya. I’m totally Wonderstruck with him.
Menjelang akhir konser, betapa terkejutnya aku ketika Ethan menyerukkan namaku.
          “Terima kasih atas kedatangan Brielle disana” dia melambaikan tangan kearahku. “Sungguh suatu kehormatan kau datang kesini”
          Aku membalas lambaiannya. Suatu hal yang lumrah jika kita bersikap ‘kenalan lama’ di depan orang-orang. Padahal saat ini aku belum pernah mengobrol dengannya. Tapi saat membalas lambaiannya tadi, aku tidak berpura-pura, karna saat menyebut namaku, dia seolah benar-benar mengenalku.
          “Sebagai tanda terima kasih, kupersembahkan satu buah lagu untukmu, ‘The Swan and The Wolf’”.
Dia lalu mulai memainkan gitar yang daritadi terselempang di bahunya. Dia tampak begitu mempesona jika sudah berada di antara alat musik, karena seolah-olah dia sudah mengenal semuanya. Rasa cintanya terhadap musik bisa terbaca sangat jelas. Dia terlihat berbeda.
          Aku sangat senang menyadari dia memperhatikan kearahku, karena bahkan, laki-laki yang duduk di sebelahkupun tidak menyadari keberadaanku jika saja dia tidak menyapaku.. Tapi dia sadar dan melihatku dari kejauhan.

          “Kau mengenalnya?” Tanya Gale yang sedari tadi diam. Aku rasa dia memang bukan penggemar Ethan, dia sama sekali tidak tahu lagunya. Gale adalah seorang penikmat musik yang cenderung kearah Ballad, atau yang terkesan Indie. Jadi Electronica sama sekali bukan santapannya.
          “Ya, lumayan” jawabku masih merona senang.
      Wajah Gale tiba-tiba berubah. Entahlah, dia seperti sedang menutupi perasaan kecewa karena sesuatu. Padahal dia tidak pernah murung sedikitpun. Dia selalu terlihat senang. Terlalu senang.
Akhir-akhir ini hubunganku dan Gale berkembang pesat, dia sudah seperti kakakku sendiri. Tapi hanya itu. Perasaan berdebar saat bertemu dengannya sudah hilang entah kemana. Kurasa itu hanya perasaan awal karena bertemu dengan makhluk paling indah didunia.
Wajahnya sangat tampan, tinggi atletis, sopan, pintar dan bisa bermain musik. Setiap perempuan yang berada didekatnya pasti langsung jatuh cinta. Aku hanya butuh waktu 5 menit untuk ‘jatuh cinta’ dengannya, tapi aku tidak tergila-gila seperti fans-nya. Aku menyukainya sebatas teman, kakak, rekan kerja, tidak lebih. Sosok Pria Jatuh Cinta-ku tidak ada padanya. Aku menyadari bahwa dia bukan Pria Jatuh Cinta-ku walaupun dia membanjiriku dengan tatapan memabukkan, romantisme hadiah dan lain-lainnya.

          Tiba-tiba seorang pria berambut cepak dan bertubuh besar menghampiri kami berdua. Dia mencolek bahuku dan menyapaku.
          “Permisi, Ms.Young, apakah Anda tidak keberatan jika menerima rasa terima kasih kami, Twilight, secara langsung? Itu jika Anda tidak sedang sibuk setelah ini. Ethan sendiri yang ingin berterima kasih dan meminta Anda datang.” Katanya panjang lebar dengan gaya resmi.
          Aku hampir saja berteriak ‘Ya, aku mau!’, tapi kutahan emosiku dan menjawab “Sure” dengan sopan.

          Jadi disinilah aku dan Gale, menunggu Twilight selesai konser dan menuju belakang panggung. Aku senang sekali bisa bertemu langsung dan berbicara dengan Ethan. Ethan Dawson!
          “Hah, aku lelah sekali!” suara lembut itu terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka, membuat siluetnya masuk mengarungi ruangan.  Aku mengejang mendengar suaranya berada dibalik pintu. Gale yang sedari tadi menatapku, menaikkan alisnya.
          “Dimana dia?” suara Ethan terdengar bertanya pada seseorang.
       “Di dalam, bodoh. Dia sudah menunggumu.” Jawab seorang laki-laki, mungkin Matt atau Jack, personel band pengiring.
          “Ahh, baiklah” jawabnya lagi.
         
          Dan pintu itupun terbuka lebar. Dia tersenyum lebar dengan tulus, senyum yang menyejukkan.
          “Hello” sapanya. Dia menjabat tanganku dan menatapku. Matanya seolah sedang berbicara, berbisik ‘Pernahkah kita bertemu?’
            “Hai,” jawabku berusaha menutupi kegugupanku. “Senang bertemu denganmu”      
        “Aku juga. Dan terima kasih sudah datang kesini. Senang sekali rasanya kau datang kemari dan ikut menyanyikan laguku dari atas sana
          “Bukan apa-apa. Aku penggemarmu, kau tahu, aku seorang Evening!” kataku bangga, menyebut diriku fans Twilight. Evening adalah fanbase-nya.
          “Aku juga penggemarmu, aku salah seorang Brist yang fanatik.” Dia meletakkan tangannya diatas dada seolah sedang bersiap perang. Aku tertawa melihat sikapnya. Sungguh… manis.

          Dan percakapan yang menyenangkanpun dimulai. Kami membicarakan banyak hal, yang semuanya tentang musik. Dia juga mengetahui tentang film yang akan segera aku mainkan bersama Gale nanti. Dia bisa diajak bicara tentang semua jenis musik, bahkan aliran Rock n Roll sekalipun. Dan country, genreku, dia mengerti bahan pembicaraannya dan membiarkanku menjelaskan.
         
“Bree, ini sudah larut, kita harus pulang atau Lizzie akan mengunyahku” kata Gale setelah beberapa kali melihat ke jam tangannya.
          Dan benar, sudah jam sepuluh malam. Besok aku harus mulai syuting Vanilla Sun yang mengharuskanku datang lebih pagi. Ethan melontarkan tatapan ‘semoga berjalan lancar’ dan satu lagi ekspresi yang sulit ditebak. Kecewa? Entahlah.
          Aku dan Ethan bertukar email dan nomor handphone. Senang sekali rasanya. Aku benar-benar terpesona. Aku berpamitan padanya, ingin sekali mengatakan bahwa aku terpesona padanya.
Ethan, I was Enchanted to meet you.


***


Haha, gimana? Gimana?
Comment!

Kedonn

Monday, June 25, 2012

Adam Young Interview

Barusan gue buka YouTube, situs favorit gue sepanjang masa. Gue suka banget buka YouTube, karna disana bisa ngeliat interview, promo, video klip, deelel.
Dan, tebak tadi gue nemu apa.... Yes! Adam Young Interview about Enchanted song! Interview itu berlangsung di sebuah radio, dan gue suka banget sama interviewer-nya. Pinter ngomong dan mancing Adam! Itu ceritanya keluar semua.
Ini isi percakapannya;
Awalnya, si Wally (interviewer) nanya-nanya #PickOne gitu, jadi si Adam suruh milih salah satu dari kata yang disebutin Wally, dia harus milih mana yang dia suka, atau dia banget.

Wally: Church Kid or Problem Teenager?
Adam: Church Kid.
Wally: Spinager or Sourpatch Kid?
Adam: Sourpatch Kid.
Wally: Free live or Insomniac?
Adam: Insomniac.
Wally: Ok, finally, Taylor Swift or Taylor Hanson?
Adam: Taylor Swift.
Wally: I got it boy, I got it boy. And we're going to discuss that cause you're my new man or my hero. And, we gonna discuss a little thing about Taylor Swift wth my man Adam Young A.K.A Owl City, after this.
(commercial)
Wally: Now, you're kind of a guy Taylor Swift IN A WAY. And, I heard, she's write a song, obviously, of meeting you.
Adam: That's correct, yeah.
Wally: Enchanted?
Adam: Enchanted, yeah. It's a beautiful song.
Wally: Yeah, you says it's a beautiful song, cuz it's about you. I can hear you say, "It's a beautiful song cuz it's about ME!" (immitating Adam), "What a beautiful song, she ever writen!"
Then everybody say, "What song Adam?"
And then you say, "Cause IT'S ABOUT ME!"
Adam: *chuckles*
Wally: So how it started?
Adam: She and I met at my show, at NYC. She was on the town and came to my show. She's a wonderful person.
Wally: So this song, Enchanted, she says she was enchanting to meet you. Across the room, and you guys kind of connected from the very first page. Was she dating anyone at the time?
Adam: Not at the time.
Wally: Nice. You have a deal, my bro.
Adam: Wish were.
Wally: And I heard that you record a song for her, kinda reply of her song.
Adam: Na, it was Enchanted song. It was basically cover of her song with a few word I want to sing back to her.
Wally: Yeah, and I know this from my daughter which is Taylor Swift's fan, that Taylor capitalized  letters in her album for game "Message Behing The Song", and in Enchanted, the story of the song is A-D-A-M. Adam! I'm like, no way man, that's cool!
Adam: Yeah, it was a crazy moment. I'm bought her record, and I was searching the words too.
Wally: I believe you just like, "Please marry me, please marry me"
Adam: *chuckles*
Wally: Do you think, and honestly, cause she doesn't trust people around but you? You should say Yes.
Adam: I can say, YES. Maybe yeah...
Wally: I like this, and I will help you with this. Make a great story, bro!

Selanjutnya, mereka main game lagi. Jadi si Adam harus jawab kata apa yang berhubungan sama yang diucapin Wally. Dan jawabannya harus berhubungan sama kehidupan dia.
Wally: Ok, first, Mother?
Adam: Dog.
Wally: What a bad boy.
Adam: Its because my Mom have a yorkshier terrier.
Wally: Meatloaf?
Adam: Dad. My Dad loves Meatloaf.
Wally: Skinny jeans?
Adam: Swimming pool.
Wally: Really?
Adam: Yeah, I love to swim with skinny jeans. So if you see a guy swimming with skinny jeans. It's me. It's only me.
Wally: Ok, it's really you. Next, Unicorn?
Adam: Rainbow.
Wally: I was thinking it too. You and I are more similar than I thought. Allright, Owl?
Adam: Alligator.
Wally: Allright, ahh, Love?
Adam: Cupcakes.
Wally: Ok, why?
Adam: Because I give cupcakes for everybody in Valentine's Day.
Wally: You have a girlfriend?
Adam: I don't! (Sumpah, ini dia ngomongnya tegas dan lantang banget)
Wally: Wo-ho-ho, Taylor Swift! You gonna make that happen! You gonna make that happen.
Adam: *chuckles*
Wally: Ok, finally, we're on the end. Taylor?
Adam: Ehmm... HEART! *chuckles*
Wally: What is wrong with you? I thought you'll say Swift! What is wrong with you? Why you can be that obvious brave? Ok, we'll send this interview to her, people. I won't judge you because we are same to say Rainbow responses of Unicorn which make me absolutely love you. 
There you go, make a great story. So it's the 10 minutes interview with Adam Young A.K.A himself Owl City.



Dan berakhirlah, 13 menit terbaik gue hari ini. Itu adalah interview Owl City terkeren yang pernah gue denger, yang membuktikan kalo Enchanted itu nyata!
#TeamEnchanted

Ada lagi, wawancara lain.

CDM: What went through your mind the very first time you heard Taylor Swift’s song ‘Enchanted’?
ADAM: <laughs> I just remember smiling and thinking ”Wow!” and feeling very honoured. It’s such a beautiful song. I remember feeling kind of like… something that we had that was very much part of our friendship was suddenly shared with the rest of the world - and not feeling like cheated or anything like that, but - just feeling like WOW it’s such an honour that somebody like her would treasure our friendship and relationship that we had enough, to put it out there. It’s a very charming and sweet song.


CDM: And Taylor’s named her debut signature fragrance after you as well… ‘Wonderstruck’!
ADAM: Yes… it’s very cool! I remember e-mailing back and forth with her and I remember saying that… the first time I met her I wrote her an e-mail because I was very shy and not very eloquent and I remember writing and saying: ”I’m sorry I was so quiet, but I was kind of wonderstruck when I met you.” And I remember her writing back and saying: ”You’re the first person I’ve ever heard use that word, it’s a very pretty word.” And here we are! <laughs>

“…she never actually did respond. I was never really expecting to hear a response per se, but it was a fun thing to do. I think she’s such a sweet girl…she’s so gorgeous and so exquisite and so eloquent it was so hard to come up with the right words. And now that I step back and look around at who else is out there, she’s really the only one who comes to mind.”

Typing by Kedonn.



Sunday, June 24, 2012

Salah. Naik. Angkot.

Beberapa hari yang lalu, gue lagi telpon-telponan sama cowok gue di Phoenix, dia (yang memang bule alay) dengan bangganya, ngomong gini ke gue (dalam bahasa Inggris);
Dia: Eh, tadi aku abis diwawancarain dong.
Gue: Ama siapa?
Dia: Sama radio gitu, kan band aku masuk radio tadi.
Gue: Terus kamu ngomong apa aja?
Dia: Ga ngomong apa-apa, vokalisnya kan si ****, aku kan cuma gitaris, jadi cuma nama aku aja yang disebutin.
Gue: ...

Dia emang salah satu contoh bule paling norak langit bumi.
Walaupun percakapan selanjutnya kita cuma ngocol-ngocolan, tapi seperti biasanya, kalo kita udah telpon bisa berlangsung 2 jam. Dan akhirnya, momen itu harus berakhir ketika Oma gue teriak "Kedonn, ini ada telpon!"
Gue dengan masih megang henpon dan ditempelkan di kuping bilang, "Dari siapa?"
"Lia" jawab Oma gue.

Lia? Satu-satunya orang yang gue kenal bernama Lia, adalah kakak sepupu gue. Ada sih, Mba-mba di Alfamart depan sekolah, nametag-nya Lia. Tapi ngga mungkin banget dia dapet nomer gue dan Oma gue kenal sama dia.
Gue ambil telponnya, dan memutuskan hubungan telpon dengan pacar gue sambil say goodbye.

"Halo?" gue jawab, rada takut-takut juga, siapa tau itu beneran Mba-mba Alfamart.
"Halo, Don, lu dimane?" jawab suara perempuan di seberang sana, "Gue lagi di rumah di Jakarta nih. Udah lama gue disini" lanjutnya.
Mendengar logat bicara dan tingkat keakraban suara, dia adalah sepupu gue.
"Terus?" gue jawab ga acuh.
"Nonton yu!"
"Ok, jam setengah empat gue jemput"

Setelah janjian kita berdua ketemuan dan langsung naek angkot ke tempat tujuan kita.
"Kita naek apa?" tanya dia, yang notabene orang Bekasi, jadi ga tau jurusan angkot deket rumah gue.
"Naek mobil **, yang warna merah" jawab gue dengan tingkat kesotoyan dewa.
"Oh, yaudah, tuh mobilnya. Naek yo!"
Kita berdua dengan tampang tak berdosa sudah duduk manis didalam angkot. Sampai tiba-tiba wajah gue berubah panik saat angkot belok kearah yang berlawanan dari tempat tujuan kita.
"Ini mau kemana?" tanya gue pelan.
"Lah, kita kan mau ke Mall G*****?"
"Kayanya kita salah naik angkot deh" jawab gue ragu.
Kita langsung teriak panik "Bang, kiri, bang" dari dalam mobil. Sebodoamat deh, apa yang ada di pikiran penumpang laen. Gue kurang hapal jurusan angkot, walopun gue udah sering jalan-jalan. Tapi, biasanya gue naek mobil ato motor. Tingkat otak gue emang cuma bisa ngapal ABCD doang, gabisa ngapal jalan.

Dan, ditengah jalan akhirnya kita memutuskan untuk pergi ke Mall dideket rumah gue -dan gajadi nonton. -,-"
Di pintu masuk, kita berdua yang emang berjiwa ibu-ibu krimbat, ngeliat spanduk iklan bertuliskan;
'Creambath Rp.10.000,-'
Kita langsung teriak banci, "Ah, ya ampun, itu krimbat. Ayo, Don!"

Dan berakhirlah, dua wanita dengan status LDR  nyalon.
Diperjalanan pulang, terjadi hal yang sama. Kayanya emang kita berdua punya masalah dengan angkutan umum warna merah dengan Salah. Naik. Angkot.

Enchanted part 1


Pretending


  Senyuman itu muncul lagi. Senyuman palsuku. Ekspresi yang sama seperti sebelum-sebelumnya, yang seakan menggambarkan betapa aku memuja, menghargai, dan menyukai seseorang. Aku mulai bersandiwara dengan topeng “aksimu bagus sekali” itu.
Rasanya seperti saat itu, ketika aku harus menyukai performa seseorang. Itu tidak tulus. Dan sadar tahu seratus persen, bahwa aku sedang dalam fase itu. Lakon.
  “Terima Kasih, Brielle, kau mau datang ke konserku” kata Grant dengan ekspresi berbinar yang berlebihan.
“Well, sama-sama, Bro. Dan aksi yang bagus” pujiku –hanya sebagai wujud sopan santun seorang tamu.
Dia tersenyum bangga. Matanya menyipit hingga seakan dia memiliki empat alis.

“Hei, Brielle!” sapa Sam, salah seorang personel band Come Shore, grup band yang digawangi Grant Michaelson, Sam Wilson, Arthur McDonald dan Justin George. Mereka semua adalah teman-temanku.
“Wow! Suatu kebanggaan konser kami bisa didatangi penyanyi sekeren kau. Thanks, by the way”
“Sure, Bro”

  Dan muncullah kedua personel lainnya, Justin dan Arthur.
“Aye, Bree! Thanks for your attending, sweetheart! Kau tahu kehadiranmu dikonser ini sangat berkesan. Kapan lagi dihadiri penyanyi sepanjang masa sepertimu!” celetuk Justin, kata-katanya seperti aku adalah penyanyi dari era lampau. Sangat lampau.
“Baiklah, Mr.Hiperbola, kau berhasil membuat pipiku merona, kuhargai itu” sahutku, sarkastik.
“Jadi, setelah menghadiri konser ini, kau mau kemana?” Tanya Arthur yang sedari tadi diam di sampingku.
“Kurasa aku harus kembali ke studio. Album baru.” Jawabku agak promosi. 
“Hohow!” Arthur tertawa seperti Santa Claus “Apa namanya?”
“Err… Rahasia!” aku nyengir dan Arthur cemberut.
“OK, guys, aku rasa aku harus pergi sekarang. Suara Lizzie sudah hampir terdengar sedang meneriaki namaku sekarang” sambungku, mengingatkan pada mereka bahwa managerku itu anti dengan istilah terlambat.
“Ok, sweetheart, dan jangan lupa titipkan salamku pada Lizzie. OK?” ujar Sam, mengedipkan satu matanya.
“OK, Sam!” Aku melambai pada mereka semua dan mulai berjalan menuju Mini Cooper-ku.

“Tenang Brielle. Satu sandiwara lagi telah berhasil kau lakukan. Selamat. Dan kau berhasil mengecoh semuanya. Semuanya.” Suara hatiku memuji. 
  “Hanya tinggal satu kali lagi.” Kali ini logikaku yang bekerja.
 Yah, Brielle, tinggal satu lagi.
***


“Tahukah kau sekarang jam berapa?!” sembur Lizzie, managerku. Ayolah, aku bahkan baru membuka pintu studio.
“Jam 4 sore. Kenapa? Kan dibelakangmu ada jam?” 
“Ayolah, Brielle, ini tidak lucu! Kau sangat, sangat, sangat terlambat. Kita sudah berjanji dan mengatur jadwal akan take your beautiful voice jam 3. Satu jam terbuang, sweetheart!”
“Ok, Liz, calm down. Aku kan sudah bilang mungkin akan sedikit terlambat. Satu jam juga tidak akan membuat kita tidak tidur malam ini.”
“Yah, malam ini kita tidak akan tidur. Besok kau akan mulai meng-audisi calon lawan mainmu! Di film pertamamu! Besok hari besar! Dan aku tidak mau hari besarmu terusik oleh ulahmu sendiri”
“Oke, oke, Boss Lizzie, aku mengerti. Besok memang hari besarku. Tapi bisakah kau sedikit lebih santai dan menikmati waktu? Sebentar saja. Atur nafasmu, hitung satu sampai sepuluh, dan aku akan mulai rekaman laguku” kataku mencoba mengendalikan suasana.
“Aku tidak mau mengikuti saran yang kau ikuti dari film kartun, sweetheart” jawabnya sarkastis.
“Baiklah, aku akan mulai”

Lizzie nyengir setelah mendengar kalimat barusan. Biar bagaimanapun, yang kulakukan kali ini bukanlah sandiwara. Aku memang sangat menyukai musik. Semuanya. Aku tidak bisa tidak menari saat mendengar irama musik yang riang dan unik, aku tidak bisa berhenti menghentakkan kakiku saat mulai mendalami ketukan lagu, aku tidak bisa berhenti bernyanyi sampai habis saat mendengar lagu favoritku, dan yang paling aku sukai, aku tidak bisa berhenti memainkannya. Musikku sendiri. Yang bisa dibilang suara hatiku, karena setiap bait dari lirik yang kutulis itu tentangku. Tentang apa yang kusuka, kekecewaanku, dan kehidupanku. Jadi sebut saja itu adalah buku harian-ku. Tempat dimana aku bisa menumpahkan segalanya lewat nada yang kebetulan melewati kepalaku dengan bantuan gitar, piano dan drum.

***


Beautiful Eyes

“Bree, kau sudah siap? Sebaiknya kau cepat keluar dari kamarmu, karna kita sudah ditunggu Mrs.Vlada untuk mulai memilih Pria Jatuh Cinta-mu versi film itu” Seru Liz, dilengkapi ketukan keras tangannya kepintuku.
“Liz berhenti mengatakan hal itu. Aku yakin, aku tidak akan menemukan Pria Jatuh Cinta-ku disini. Tidak dalam kebetulan seperti ini.” Kataku sambil membuka pintu dan mulai berjalan menuju van hitam kami. Mobil itu kusebut ‘milik kami’ karena van itu hanya digunakan untuk keperluan bisnis, dimana hanya kami berdua yang membutuhkannya dirumahku.
“Lalu kau ingin bertemu dia dalam kebetulan seperti apa, Bree? Tidak sengaja bertemu di toko buku, lalu saat kau menjatuhkan buku dan dengan gerakan slow motion berlebihan tangan kalian sedikit bersentuhan saat bersama-sama ingin mengambil buku itu? Itu drama, sweetheart”
“Bukan! Tentu saja bukan seperti itu. Aku hanya ingin bertemu karena… takdir.”
Jawaban itu berhasil membuat Lizzie tertawa terpingkal-pingkal di dalam van. Jimmy, sopirku,yang sedari tadi diam mendengarkan juga ikutan tertawa. Untung saja dia  tidak ikutan dalam pembicaraan kali ini, biasanya dia suka membuatku mengelus dada karna celetukannya.
Sweetie, Brielle-ku, aku menghargai konsep Pria  Jatuh Cinta-mu. Tapi takdir itu, agak sedikit… berlebihan. Kau tahu, kadang takdirpun bisa sangat kejam”
Aku mendengus mendengar Lizzie. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan membuang kata takdir dari kamusku. Takdirlah yang membuatku begini, membuatku bisa bersyukur setiap saat, takdirlah yang membuatku berada dalam satu mobil dengan Lizzie dan Jimmy, dan takdir jugalah yang akan mempertemukanku dengannya. Dengan Pria Jatuh Cinta-ku.
Dalam hati, aku menyapanya,
Hey, Pria Jatuh Cinta, kau ada dimana?

***


  “Selamat datang, Brielle!” Sambut Mrs.Vlada saat kami baru tiba di rumahnya. 
Rumah itu tidak terlalu besar, tergolong kecil untuk ukuran rumah produser kondang Hollywood, saat baru memasuki gerbangpun langsung terasa berada di ‘rumah’. Halamannya luas dengan berbagai bunga yang ditanam rapih membentuk jalan setapak, dan hanya itu. Rumah kecil dengan kebun bunga luas yang mengelilinginya. Pagar kayu setinggi pinggang-ku seakan menjaga bunga-bunga itu dari dunia luar yang penuh kepura-puraan. Padahal kepura-puraan itu sedang ‘berkunjung’ sekarang.
“Hello, Mrs.Vlada” jawabku sopan.
“Aah… Jangan panggil begitu. Panggil saja aku Vlada. Dan jangan terlalu canggung begitu. Anggap saja rumahmu. OK?”
“Baiklah, Vlada” senyumku mengembang, memang ini pertama kalinya aku masuk kedunia film dan tidak mengenal banyak orang dalam industri ini, tapi untuk ukuran produser kondang Hollywood, dia orang yang ramah. Umurnya mungkin sekitar 35 tahunan. Rambutnya blonde dan dengan indah jatuh sampai ke bahu. Tipikal ibu yang cerdas dan tegas.
“Jadi, Ma’am, apa calon Daniel dalam film ini sudah datang?” Tanya Lizzie, gayanya sekarang sudah benar-benar seperti manager. Itu artinya pekerjaan sudah dimulai.
“Oh, tentu saja. Dia sedang menunggu kalian di ruang tamu.”
“Maaf, apa kalian sudah menunggu lama?”
“Ah, tidak juga. Dia juga baru datang, kok,” 
Lizzie dan aku mengangguk,
“Ayo, kalian berdua, silahkan masuk. Kita temui Daniel-mu, sweetheart.” Lanjut Vlada, kali ini hanya ditujukan padaku. Aku suka orang ini.
Kami semua berjalan menuju ruangan yang rapih, didalam rumahnya ternyata tidak sesederhana yang kubayangkan. Beberapa hiasan vintage menghiasi dindingnya yang putih bersih. Biarpun terkesan mewah, tapi tidak berlebihan seperti orang kaya pada umumnya.
Saat sampai di ruang tamu, aku melihat sesosok cowok, yang kuasumsikan calon lawan mainku, sedang mengobrol dengan temannya. Dia duduk membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Sementara temannya melihatku dan terkesiap. Aku sudah bosan dengan reaksi orang yang seperti ini saat melihatku.
  “Baiklah, Brielle, ini Gale Martin, calon Daniel-mu”
  
  Lalu, cowok itu bangun dari posisi duduknya dan menghadapkan tubuh tegapnya padaku. Tinggi badannya sekitar 185, atau mungkin lebih. Yang jelas, saat dia berdiri, aku hanya setinggi dadanya. Terlihat kecil dan tidak berdaya.
“Halo, aku Brielle Young.” Sapaku terlebih dulu sambil mengulurkan tangan.
“Hai, aku Gale” dia menjabat tanganku dan menggenggamnya erat. Tanganku tenggelam di dalamnya.
  Tiba-tiba aku merasakan matanya menatapku dalam, seperti sedang membaca kedalamnya dan mencari-cari sesuatu. Aku tidak mengerti. Tapi mata itu berbicara, seakan ada yang ingin dia katakan.
  Matanya hijau keabuan, atau biru? Entahlah. Warna mata yang aneh, tetapi indah dan unik. Jika dilihat sekilas bisa dibilang mirip denganku.
Dia masih terus menatapku dan menggenggam tanganku cukup lama sampai deheman palsu Lizzie menghancurkan segalanya.
“Maaf” sergahnya buru-buru.
Aku hanya mengangguk gugup dan menyurukkan tanganku ke sela-sela rambutku. Itulah kebiasaanku saat sedang gugup. Diapun melakukan hal yang sama secara bersamaan, dia menyadari kesamaan itu dan kami berdua terkekeh kecil.
“Oww, look the chemistry! So deep!”teriak Vlada tiba-tiba, membuatku sedikit kaget sebenarnya.
  “Baiklah, ayo kita mulai” lanjutnya tampak sangat antusias.

Lalu kami berdua dibawa kedalam kamar Vlada.
“Baiklah, Brielle, ceritakan pada Gale bagaimana karakter tokoh yang akan kau perankan, Dakota”
Aku memulai penjelasanku “Baiklah, disini aku berperan sebagai Dakota, gadis yang biasa –setidaknya begitulah menurutnya-, dia selalu merasa dirinya tidak bisa menyesuaikan diri dalam pergaulan anak seumurannya. Tapi diluar semua itu, dia adalah cewek populer di kalangan cowok-cowok sekolahnya, tanpa dia sadari dia telah menarik perhatian dengan sikapnya yang menggemaskan dan sedikit canggung, tapi dia ceroboh! Yah, dia ceroboh, like me!”aku terkekeh sendiri menyadari ada kesamaan antara Dakota dan aku, Vlada dan Gale ikut tertawa melihatku.

  “Tapi dia sama sekali tidak menyadari semua itu, dia tidak menganggap semua cowok-cowok yang memperlakukan dia seperti seorang putri. Justru karena itulah dia istimewa, karna dia tidak menyadari keistimewaannya. Orang yang menyadari keistimewaannya akan menjadi besar kepala, dan akan ada kesombongan disana. Setidaknya itulah yang aku simpulkan” aku menunduk malu-malu setelah mengeluarkan opiniku. Gale mengangguk-angguk mengerti.
  “Penjelasan yang bagus sekali, sweetheart. Baiklah, Gale, sekarang giliranmu.”
Diapun mulai menjelaskan tentang karakter peran yang akan dimainkannya. Dia suka menyurukkan jari-jarinya ke rambut jika gugup. Kebiasaan yang sama sepertiku.

  “Oke, kita sudah selesai dalam tahap ini. Ayo kita lakukan salah satu scene. Kita lakukan…” Vlada mencari-cari di skenario yang daritadi dipegangnya “Scene 4” katanya setelah menemukan pilihan yang cocok.

  Scene 4 adalah scene saat Dakota dan Daniel berciuman! Berciuman! Aku tidak bisa membayangkan harus berciuman dengan orang yang bahkan baru saja kukenal. Lizzie yang mengetahui hal ini hanya bisa melemparkan pandangan mendukung sekaligus mengasihani. Tapi aku harus melakukannya.

Dan disinilah aku, duduk dihadapan Gale –Daniel-ku, dan mulai berakting sebagai Dakota. Berpura-pura.
Gale menatapku dalam, tatapan yang sama seperti pertama kali tadi. Aku terpesona melihatnya. Dia menjadi Daniel yang sempurna, yang memuja-muja Dakota. Kami melakukan percakapan sesuai naskah, dan melakukan semuanya dengan baik. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, mendekatkan wajahnya yang putih ke wajahku yang sudah pasti memerah. Dan dia menciumku. Bukan dengan gairah maha dahsyat yang kuduga, tapi dengan lembut dan sederhana. Sesuai dengan perannya sebagai vampire yang ingin menjaga Dakota.
Ciuman itu terasa manis, lembut. Dia memegang pinggangku semakin erat, aku menarik kerah kemejanya tak kalah erat. 
Apa aku sudah menemukanmu, Pria Jatuh Cinta?
  “SELAMAT UNTUK KALIAN BERDUA! KALIAN ADALAH DANIEL DAN DAKOTA!” teriak Vlada antusias dan menghentikan ciuman itu.
Kamipun terkekeh bersama, mungkin dia tertawa karena senang terpilih menjadi Daniel, tapi tidak denganku. Aku tertawa karena aku benar-benar menyukainya.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar naksir seseorang. Entah dia merasakan itu atau tidak, tapi aku merasakannya. Tidak serius memang, namun cukup membuat perasaanku senang karena baru saja mendapat pertanyaan yang kutunggu-tunggu walaupun masih ragu.
  Apa kau sudah datang, Pria Jatuh Cinta?

***


Ok, ini dia cerita baru gue. Ini ga sepenuhnya karangan gue, ada beberapa 'bantuan' dari Mba 3us, penulis novel Robsten Story, 'pemilik' konsep Pria Jatuh Cinta yang sebenarnya. 
Mba, pinjem yah, konsepnya. I heart you. :D
Di cerita ini, gue juga minjem lagu Enchanted-nya Taylor, lagu paling romantis bumi langit. Love you, Tay.

Comment!

Kedonn


Unyu maksimal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket