Aku masih menatap takjub pada album itu, well, sebetulnya pada lagu itu dan pesan dibaliknya. Apakah itu benar-benar namaku? Bisa saja tentang orang lain yang kebetulan bernama Ethan, setahuku nama pacarnya dulu Justin Ethan George. Yah, mungkin memang tentang orang lain.
Aku ingin memastikan sendiri, apakah itu lagu tentangku atau bukan. Ingin sekali aku mengirimi dia email atau meneleponnya, menanyakannya dan mengetahui semuanya.
Tapi siapkah aku?
Siapkah aku bicara saat dia mengangkat telepon itu? Siapkah aku mendengar suara lembutnya berbicara ‘Halo’ dengan ceria seperti biasanya?
“Tentu saja,Ethan! Kau harus melakukannya! Jangan mengurung diri terus, inilah saatnya. Kau harus melakukan sesuatu, Gadis Jatuh Cinta-mu sudah datang! Itu yang selama ini kau tunggu kan?” suara hatiku berseru memarahiku.
Baiklah, suara hati, kali ini aku mengikutimu. Karna faktanya, memang itulah yang aku inginkan selama ini. Menemui Gadis Jatuh Cinta-ku.
“Halo?” jawab suara diseberang sana. Bahkan suaranya terdengar seperti malaikat dan cantik.
“Ehhm… hai” sapaku balik, terdengar sangat gugup.
“…”
“…”
Terjadi keheningan selama beberapa saat.
“Jadi… ada apa?” tanyanya.
“Tidak, aku hanya ingin menanyakan, bagaimana kabarmu hari ini?” Bodoh! Bodoh! Dasar sok keren! Kenapa tidak kau langsung tanyakan saja tentang lagu itu padanya! Kau idiot, Ethan!
Suara hatiku mengamuk lagi.
“Aku baik. Kau? Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman karena lagu baruku itu. Sungguh, aku tidak bermaksud begitu”
“Jadi lagu itu benar-benar tentang…?”
“Yah, itu tentangmu. Tapi aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman atau apa, hanya agar kau tahu. Sudah yah, aku harus mulai take”
Lanjutnya, dan dari suaranya dia tidak sedang berbohong untuk menghindari bicara denganku. Mungkin dia memang sedang terburu-buru.
“OK, see ya, then”
“Bye!”
“Bye!”
Hubungan telepon diputus.
Hati kecilku mulai ikut campur lagi.
“Kau harus melakukan sesuatu. Tunjukkan perasaanmu. Balas dia! Katakan padanya kau juga terpesona pada pandangan pertama! Katakan kau mencintainya!”
Membalasnya? Mampukah aku memberanikan diri mengakui semua itu? Baiklah, aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Brielle’s POV
Reply
“Selamat datang lagi semuanya!” sapa Emma pada kami, para cast dalam film Vanilla Sun.
Setelah kesuksesan buku novelnya, kali ini kami para main-cast diundang ke acara Emma secara bersama-sama untuk membantu promosi film ini ketika selesai nanti.
Emma mengajak Alex dan Gale berbincang-bincang tentang peran masing-masing, barulah sampai di sekmen dimana giliran aku yang bicara.
Emma memandangiku beberapa saat, tersenyum penuh arti.
Aku membalas tatapan dan senyum Emma beberapa saat.
Awkward.
“Kurasa untuk this sexy cute lady, kita tidak mau membahas tentang perannya sebagai Dakota. Benar kan?” Emma bertanya kearah penonton.
Seruan “YES!!!!” membahana.
“Jadi, aku akan menanyakan hal lain”
Penonton, Alex, dan Emma tertawa. Tidak dengan aku dan Gale.
“Baiklah, Brielle, aku akan memainkan quick question untukmu. Jadi kau hanya tinggal menjawab Yes or No. Got it?”
“Alright” jawabku agak ragu.
“OK, kita mulai. Kau sedang terpesona dengan seseorang saat ini?”
“Yes”
“Kau punya pacar?”
“No”
“Owh, this cute lady still in the store, everybody! Kau membuatkan pria yang membuatmu terpesona sebuah lagu?”
“Yes”
“Enchanted?”
“Yes”
“Wonderstruck?”
“Yes”
“Apa kalian menjalin hubungan istimewa sekarang?”
“…”
“OK, next question” sergahku buru-buru.
“Alright, apa kau pernah berkencan dengannya?”
“Next!”
“Apakah mungkin dia akan jadi kekasihmu?”
“Next!”
“Baiklah, hanya itu, tapi kami semua tahu arti dari jawaban ‘Next’ adalah ‘Yes’”
Aku menganga dengan berlebihan kearah penonton dan membuat mereka semua tertawa.
“Baiklah, hanya itu, sweetheart. Kau akan berterimakasih padaku lain kali” gumam Emma.
“OK, fiuh…” jawabku, menyeka kening seakan banyak keringat disana. Aku tertunduk lagi, mencoba lari dari suara sorakan penonton. Bahkan ada yang berseru “Team Enchanted”, like, seriously? Team Enchanted? Cute.
“Kenapa kau selalu melakukan itu?” Emma berkata gemas padaku.
“Melakukan apa?”
“Yah, kau tahu, tertunduk setiap orang memuji, bertanya sesuatu pribadi? You know, it’s cute right?”
“Tidak, aku tidak melakukannya dengan maksud tertentu” jawabku, “Hanya sedang melihat tanganku, my dress, cincinku…” kataku bergumam sendiri.
“Cincin? Enchanted?” Emma mengernyit jahil.
Oh, shit!
Aku tersenyum penuh arti dan terdiam beberapa saat, malam ini semua ceritaku terbuka dengan lebar.
“Ok, itu benar-benar dari dia. So…” Emma terkekeh sendiri, penonton bersorak lagi. Aku menganga berlebihan.
“Bisakah kau ceritakan lagu itu? Atau kisah dibaliknya? Aku tahu kalau kau tahu, dia, the guy behind the song Enchanted, menyadari lagu itu untuknya? Karena semua orang mulai menduga hal yang tidak baik berlangsung…”
“Well, yeah, dia tahu bahwa lagu itu tentang dia. Entahlah, dia belum merespon apapun. Dan soal hal yang tidak baik itu, aku dan Gale berteman sangat baik, he’s like my elder brother,” aku menyikut bahu Gale, “Dan… kau tahu, tidak ada orang yang berhak menilai apapun tentang kami, tentang persahabatan yang terjalin antarakami”
“Ok, jawaban yang sangat bagus”
“Dan kisah kalian, kau tahu siapa kalian yang kumaksud ‘kan, about Enchanted, kau mau menegaskan bahwa lagu itu tentang dia? You know, E-T-H-A...N?”
“Aku tidak mau menegaskan, aku tidak akan pernah menyebutkan tentang siapa lagu-lagu yang kutulis. Semakin orang bertanya nama dibalik kisah laguku, aku semakin tegas mengambil keputusan tidak akan menyebutkan nama secara jelas. Karena, kau tahu, sekali aku menyebutkan aku sedang terpesona atau berkencan dengan seseorang, itu tidak akan cukup. Mereka akan bertanya secara rinci. Jadi sejak pertama kali aku menulis lagu, aku akan menulis lagu tentang orang secara spesifik, tentang hidupku. Dan jika aku cukup beruntung untuk meneruskan karirku, aku akan terus melanjutkannya. Itu akan membuat orang-orang juga melanjutkan pertanyaan mereka tentang siapa lagu-lagu yang kutulis, dan akupun akan melanjutkan prinsipku untuk tidak pernah menceritakan secara rinci tentang siapa lagu itu”
“Right. Tapi lagu itu tentang dia”
“Bisa saja” jawabku menggantung.
“Ok, Brielle, jika sekarang kau aku tantang untuk menulis sebuah lagu tentang ceritamu saat ini, lagu itu akan jadi seperti apa?”
Menyadari maksud terselubung dibalik pertanyaan Emma, aku mendesis “Apa?”
Mereka tertawa lagi.
“Ok, we’re done with these hot casts. Thanks for watching, be kind of you to another. Bye”
-Kedonn