Friday, August 17, 2012
Enchanted part 9
Aku masih menatap takjub pada album itu, well, sebetulnya pada lagu itu dan pesan dibaliknya. Apakah itu benar-benar namaku? Bisa saja tentang orang lain yang kebetulan bernama Ethan, setahuku nama pacarnya dulu Justin Ethan George. Yah, mungkin memang tentang orang lain.
Aku ingin memastikan sendiri, apakah itu lagu tentangku atau bukan. Ingin sekali aku mengirimi dia email atau meneleponnya, menanyakannya dan mengetahui semuanya.
Tapi siapkah aku?
Siapkah aku bicara saat dia mengangkat telepon itu? Siapkah aku mendengar suara lembutnya berbicara ‘Halo’ dengan ceria seperti biasanya?
“Tentu saja,Ethan! Kau harus melakukannya! Jangan mengurung diri terus, inilah saatnya. Kau harus melakukan sesuatu, Gadis Jatuh Cinta-mu sudah datang! Itu yang selama ini kau tunggu kan?” suara hatiku berseru memarahiku.
Baiklah, suara hati, kali ini aku mengikutimu. Karna faktanya, memang itulah yang aku inginkan selama ini. Menemui Gadis Jatuh Cinta-ku.
“Halo?” jawab suara diseberang sana. Bahkan suaranya terdengar seperti malaikat dan cantik.
“Ehhm… hai” sapaku balik, terdengar sangat gugup.
“…”
“…”
Terjadi keheningan selama beberapa saat.
“Jadi… ada apa?” tanyanya.
“Tidak, aku hanya ingin menanyakan, bagaimana kabarmu hari ini?” Bodoh! Bodoh! Dasar sok keren! Kenapa tidak kau langsung tanyakan saja tentang lagu itu padanya! Kau idiot, Ethan!
Suara hatiku mengamuk lagi.
“Aku baik. Kau? Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman karena lagu baruku itu. Sungguh, aku tidak bermaksud begitu”
“Jadi lagu itu benar-benar tentang…?”
“Yah, itu tentangmu. Tapi aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman atau apa, hanya agar kau tahu. Sudah yah, aku harus mulai take”
Lanjutnya, dan dari suaranya dia tidak sedang berbohong untuk menghindari bicara denganku. Mungkin dia memang sedang terburu-buru.
“OK, see ya, then”
“Bye!”
“Bye!”
Hubungan telepon diputus.
Hati kecilku mulai ikut campur lagi.
“Kau harus melakukan sesuatu. Tunjukkan perasaanmu. Balas dia! Katakan padanya kau juga terpesona pada pandangan pertama! Katakan kau mencintainya!”
Membalasnya? Mampukah aku memberanikan diri mengakui semua itu? Baiklah, aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Brielle’s POV
Reply
“Selamat datang lagi semuanya!” sapa Emma pada kami, para cast dalam film Vanilla Sun.
Setelah kesuksesan buku novelnya, kali ini kami para main-cast diundang ke acara Emma secara bersama-sama untuk membantu promosi film ini ketika selesai nanti.
Emma mengajak Alex dan Gale berbincang-bincang tentang peran masing-masing, barulah sampai di sekmen dimana giliran aku yang bicara.
Emma memandangiku beberapa saat, tersenyum penuh arti.
Aku membalas tatapan dan senyum Emma beberapa saat.
Awkward.
“Kurasa untuk this sexy cute lady, kita tidak mau membahas tentang perannya sebagai Dakota. Benar kan?” Emma bertanya kearah penonton.
Seruan “YES!!!!” membahana.
“Jadi, aku akan menanyakan hal lain”
Penonton, Alex, dan Emma tertawa. Tidak dengan aku dan Gale.
“Baiklah, Brielle, aku akan memainkan quick question untukmu. Jadi kau hanya tinggal menjawab Yes or No. Got it?”
“Alright” jawabku agak ragu.
“OK, kita mulai. Kau sedang terpesona dengan seseorang saat ini?”
“Yes”
“Kau punya pacar?”
“No”
“Owh, this cute lady still in the store, everybody! Kau membuatkan pria yang membuatmu terpesona sebuah lagu?”
“Yes”
“Enchanted?”
“Yes”
“Wonderstruck?”
“Yes”
“Apa kalian menjalin hubungan istimewa sekarang?”
“…”
“OK, next question” sergahku buru-buru.
“Alright, apa kau pernah berkencan dengannya?”
“Next!”
“Apakah mungkin dia akan jadi kekasihmu?”
“Next!”
“Baiklah, hanya itu, tapi kami semua tahu arti dari jawaban ‘Next’ adalah ‘Yes’”
Aku menganga dengan berlebihan kearah penonton dan membuat mereka semua tertawa.
“Baiklah, hanya itu, sweetheart. Kau akan berterimakasih padaku lain kali” gumam Emma.
“OK, fiuh…” jawabku, menyeka kening seakan banyak keringat disana. Aku tertunduk lagi, mencoba lari dari suara sorakan penonton. Bahkan ada yang berseru “Team Enchanted”, like, seriously? Team Enchanted? Cute.
“Kenapa kau selalu melakukan itu?” Emma berkata gemas padaku.
“Melakukan apa?”
“Yah, kau tahu, tertunduk setiap orang memuji, bertanya sesuatu pribadi? You know, it’s cute right?”
“Tidak, aku tidak melakukannya dengan maksud tertentu” jawabku, “Hanya sedang melihat tanganku, my dress, cincinku…” kataku bergumam sendiri.
“Cincin? Enchanted?” Emma mengernyit jahil.
Oh, shit!
Aku tersenyum penuh arti dan terdiam beberapa saat, malam ini semua ceritaku terbuka dengan lebar.
“Ok, itu benar-benar dari dia. So…” Emma terkekeh sendiri, penonton bersorak lagi. Aku menganga berlebihan.
“Bisakah kau ceritakan lagu itu? Atau kisah dibaliknya? Aku tahu kalau kau tahu, dia, the guy behind the song Enchanted, menyadari lagu itu untuknya? Karena semua orang mulai menduga hal yang tidak baik berlangsung…”
“Well, yeah, dia tahu bahwa lagu itu tentang dia. Entahlah, dia belum merespon apapun. Dan soal hal yang tidak baik itu, aku dan Gale berteman sangat baik, he’s like my elder brother,” aku menyikut bahu Gale, “Dan… kau tahu, tidak ada orang yang berhak menilai apapun tentang kami, tentang persahabatan yang terjalin antarakami”
“Ok, jawaban yang sangat bagus”
“Dan kisah kalian, kau tahu siapa kalian yang kumaksud ‘kan, about Enchanted, kau mau menegaskan bahwa lagu itu tentang dia? You know, E-T-H-A...N?”
“Aku tidak mau menegaskan, aku tidak akan pernah menyebutkan tentang siapa lagu-lagu yang kutulis. Semakin orang bertanya nama dibalik kisah laguku, aku semakin tegas mengambil keputusan tidak akan menyebutkan nama secara jelas. Karena, kau tahu, sekali aku menyebutkan aku sedang terpesona atau berkencan dengan seseorang, itu tidak akan cukup. Mereka akan bertanya secara rinci. Jadi sejak pertama kali aku menulis lagu, aku akan menulis lagu tentang orang secara spesifik, tentang hidupku. Dan jika aku cukup beruntung untuk meneruskan karirku, aku akan terus melanjutkannya. Itu akan membuat orang-orang juga melanjutkan pertanyaan mereka tentang siapa lagu-lagu yang kutulis, dan akupun akan melanjutkan prinsipku untuk tidak pernah menceritakan secara rinci tentang siapa lagu itu”
“Right. Tapi lagu itu tentang dia”
“Bisa saja” jawabku menggantung.
“Ok, Brielle, jika sekarang kau aku tantang untuk menulis sebuah lagu tentang ceritamu saat ini, lagu itu akan jadi seperti apa?”
Menyadari maksud terselubung dibalik pertanyaan Emma, aku mendesis “Apa?”
Mereka tertawa lagi.
“Ok, we’re done with these hot casts. Thanks for watching, be kind of you to another. Bye”
-Kedonn
Sorry.
Maaf.
Gue cuma bisa bilang itu, abisan gue udah berabad-abad ga onlen PC.
*siap dilemparin tomat*
Kangen banget diriku padamu, my Sparkling Twilight... huhu...
*maaf atas keunyuan barusan*
Okeh, gw bingung mau ngapain, sekarang otak gue lagi stuck dan mumet sama pelajaran. Gue lagi sibuk lagi, tapi sibuk sekolah DENGAN NORMAL. Ga kaya dulu yang sibuk siaran.
(Derita gue..hiks...hiks...)
So, gue bakalan ngelanjutin nge-post (nge-post apa kek, yang penting gue aktif nulis sebelum otak gue bener-bener jadi bubur), gue akan mencoba ngelanjutin cerita gue yang entah sampe kapan (itu cerita yang ada di kepala gue sekarang muncul mulu, ga berenti-berenti, tapi karena keadaan, gue cuma nulis di notebook, ga gue posting), ngartiin lirik, atau apapun deh, asal gue tetep aktip.
So meet me here, girls!
Ps. Gw baru beli BB dong!
-Kedonn
Gue cuma bisa bilang itu, abisan gue udah berabad-abad ga onlen PC.
*siap dilemparin tomat*
Kangen banget diriku padamu, my Sparkling Twilight... huhu...
*maaf atas keunyuan barusan*
Okeh, gw bingung mau ngapain, sekarang otak gue lagi stuck dan mumet sama pelajaran. Gue lagi sibuk lagi, tapi sibuk sekolah DENGAN NORMAL. Ga kaya dulu yang sibuk siaran.
(Derita gue..hiks...hiks...)
So, gue bakalan ngelanjutin nge-post (nge-post apa kek, yang penting gue aktif nulis sebelum otak gue bener-bener jadi bubur), gue akan mencoba ngelanjutin cerita gue yang entah sampe kapan (itu cerita yang ada di kepala gue sekarang muncul mulu, ga berenti-berenti, tapi karena keadaan, gue cuma nulis di notebook, ga gue posting), ngartiin lirik, atau apapun deh, asal gue tetep aktip.
So meet me here, girls!
Ps. Gw baru beli BB dong!
-Kedonn
Thursday, August 2, 2012
Enchanted part 8
Feeling
Ethan’s POV
Apa aku tidak salah dengar? Aku rasa tidak, karena suara panggilan Matt tadi saja aku bisa mendengarnya. Katy –kakakku sekaligus personel band pengiring, dan Jack yang sedang menonton bersamaku juga menganga begitu lebar. Itu artinya bukan hanya aku saja yang mengalami masalah dengan pendengaran.
Aku masih terdiam, melirik kearah Katy, seluruh keluargaku pun pasti menonton yang barusan, karena aku meminta mereka agar menontonnya. Melihat Gadis Jatuh Cinta-ku.
Aku sudah merasa Brielle adalah Gadis Jatuh Cinta-ku sejak pertama kali bertemu. Dia begitu bersinar dan membuat jalan yang dia lewati ikut bersinar.
Sedikit aneh memang, konsep Gadis Jatuh Cinta-ku sangat kekanakkan. Aku mendapatkan konsep ini dari seorang paman di kedai kopi yang telah menolongku waktu aku berumur 13 tahun. Dia telah menolongku saat aku tidak sengaja menumpahkan segelas kopi ke kemeja seorang kakek yang pemarah. Dia membayariku biaya untuk membersihkan kemeja kakek itu dan membelikanku kopi baru. Sungguh seseorang yang murah hati.
Setelah itu dia mengajakku berjalan, dan sebagai tanda terima kasih, aku membimbingnya berkeliling. Katanya dia sedang berlibur di kampung halamanku Owatonna, Minnesota. Dia sedang berlibur bersama istrinya dan putri semata wayangnya. Dia menceritakan banyak hal, termasuk tentang konsep itu dan bagaimana caranya menemukan Gadis Jatuh Cintanya sendiri. Cerita yang mengharukan.
“Ethan… itu tadi?” Katy mulai memecah keheningan.
“Aku tahu” gumamku masih menganga lebar.
“Katy, aku kira dia berbohong soal kencan dengan Brielle Young” gumam Jack. Jika aku tidak dalam keadaan sekaget ini, aku pasti sudah mendengus.
“Menurutmu? Ini berita besar! Brielle Young mengakui keberadaan Ethan! Untuk pertama kalinya, penyanyi sebesar Brielle mengatakan totally have a crush on someone. Di tv! Ini berita besar!” Katy mengulangi kalimat itu dengan berlebihan.
“Baiklah, guys, aku tahu apa yang ingin kalian katakan. Apakah aku juga terpesona dengannya ‘kan?” kataku berdiri.
Mereka mengangguk, menunggu.
“I’m totally wonderstruck with her” gumamku mengakuinya.
Katy menggeleng kagum dan berkata “Sudah lama sekali kau tidak memakai kata-kata itu. Kata-kata Dad”
Dia mengingatkanku pada kata ‘wonderstruck’. Dad dulu sering menggunakan kata itu kepada Mom. Aku suka sekali meniru dan memakainya, satu kata yang indah dan unik. Sampai sepeninggal Mom, Dad tidak pernah mengucapkannya lagi.
“Aku masih menggunakannya, sering kutulis di blog” jawabku tak acuh, “hanya saja tidak pernah kugunakan pada seseorang” lanjutku.
“Well, itu berarti sesuatu” imbuh Jack, “jangan kaget jika tiba-tiba kau kebanjiran tawaran wawancara. Dan jangan kaget jika ada pertanyaan tentang lagu itu, Enchanted”
“Kau sudah mendengarnya?” Katy lanjut bertanya.
“Tidak. Belum.”
“Kau harus beli album itu sekarang juga! Atau jangan biar aku saja. Jika kau ketahuan membeli album itu, pembicaraan bisa tambah panjang” dia menawarkan diri sendiri.
Perasaan itu muncul lagi. Perutku bergejolak cukup keras. Perasaan yang aneh. Aku tidak tahu apa namanya, tapi aku yakin ini bukan hal yang buruk. Semenjak pertemuan pertama itu, aku sering merasa seperti ini jika memikirkan atau melihat sesuatu yang berhubungan dengannya.
Tentang Gadis Jatuh Cinta-ku.
Hey, Brielle, benarkah semua ini? That you were enchanted to meet me?
***
“Mana? Mana? Cepat buka album itu!” seluruh orang dirumahku berteriak histeris saat Katy sudah sampai rumah dengan plastik bertulisakn toko musik langganan kami.
“Ini!” dia tidak kalah histerisnya dengan Jack, Matt dan Felicia.
“Cepat, lihat pesannya” Jack berseru.
“Tidakkah lebih baik dia dulu yang melihat?” Felicia memajukkan dagu kearahku.
“Oh, ya, ini” Jack menyodorkan album itu.
Say it Now, judul yang unik. Kubuka tempat plastik beningnya, lalu menarik keluar covernya sekaligus daftar lagu dan liriknya.
Ada prologue didalamnya. Aku yakin album ini dia yang mendesainnya, karena sangat Brielle. Kata-kata sambutannya, dan warnanya. Ciri khas dia.
Di kata sambutan tertulis
“These songs are open letters. About a boy who made a choice to cheating on me, to someone with very beautiful eyes, to my band, to my family and Lizzie, and very special one, is for a boy who I was enchanted for.”
Tanpa basa-basi, kubuka track 7, Enchanted, dan langsung mencari huruf yang dikapitalkan.
E-T-H-A...N.
Rasanya seperti baru saja sebuah kereta berkecepatan tinggi menghantamku. Benar-benar! Ini nyata tapi sangat tidak nyata!
“Bagaimana?” Jack yang mulai bertanya ketika melihatku diam terpaku melihat album itu.
“Ini… benar-benar namaku” gumamku.
“Mana? Mana?” Jack meraih album yang masih kupegang dengan cepat, membacanya, lalu berkata, “You gonna get her, dude”
“Aku mau lihat” Katy merebutnya dari Jack.
“Ethan, lihat liriknya!” Katy menyodorkan album itu kepadaku lagi setelah dia membacanya.
This night is sparkling, don’t you let it go
I’m wonderstruck, blushing all the way home
I’ll spent forever, wondering if you knew
I was enchanted to meet you
Thisnight is flawless, don’t you let it go
I’m wonderstruck, dancing around all alone
I’ll spent forever, wondering if you knew
I was enchanted to meet you
Demi Tuhan! Wonderstruck! Dia juga menggunakan kata itu! Persamaan yang menarik. Kulihat gambar yang menjadi background-nya.
Dia terlihat sangat cantik dengan gaun emas dan rambut coklat yang bersinar. Di foto itu dia seperti sedang berlari menuju istana tempat sang pangeran tertidur, dia ingin mengejar pangerannya.
Di foto itu juga tertulis;
Please don’t be in love with someone else
Please don’t have somebody waiting on you
Brielle, I was never in love with someone else
I never have somebody waiting on me
‘Cause you were all of my dreams come true
And I just wish you knew, I was so in love with you
***
Subscribe to:
Posts (Atom)




