Sunday, June 24, 2012

Enchanted part 1


Pretending


  Senyuman itu muncul lagi. Senyuman palsuku. Ekspresi yang sama seperti sebelum-sebelumnya, yang seakan menggambarkan betapa aku memuja, menghargai, dan menyukai seseorang. Aku mulai bersandiwara dengan topeng “aksimu bagus sekali” itu.
Rasanya seperti saat itu, ketika aku harus menyukai performa seseorang. Itu tidak tulus. Dan sadar tahu seratus persen, bahwa aku sedang dalam fase itu. Lakon.
  “Terima Kasih, Brielle, kau mau datang ke konserku” kata Grant dengan ekspresi berbinar yang berlebihan.
“Well, sama-sama, Bro. Dan aksi yang bagus” pujiku –hanya sebagai wujud sopan santun seorang tamu.
Dia tersenyum bangga. Matanya menyipit hingga seakan dia memiliki empat alis.

“Hei, Brielle!” sapa Sam, salah seorang personel band Come Shore, grup band yang digawangi Grant Michaelson, Sam Wilson, Arthur McDonald dan Justin George. Mereka semua adalah teman-temanku.
“Wow! Suatu kebanggaan konser kami bisa didatangi penyanyi sekeren kau. Thanks, by the way”
“Sure, Bro”

  Dan muncullah kedua personel lainnya, Justin dan Arthur.
“Aye, Bree! Thanks for your attending, sweetheart! Kau tahu kehadiranmu dikonser ini sangat berkesan. Kapan lagi dihadiri penyanyi sepanjang masa sepertimu!” celetuk Justin, kata-katanya seperti aku adalah penyanyi dari era lampau. Sangat lampau.
“Baiklah, Mr.Hiperbola, kau berhasil membuat pipiku merona, kuhargai itu” sahutku, sarkastik.
“Jadi, setelah menghadiri konser ini, kau mau kemana?” Tanya Arthur yang sedari tadi diam di sampingku.
“Kurasa aku harus kembali ke studio. Album baru.” Jawabku agak promosi. 
“Hohow!” Arthur tertawa seperti Santa Claus “Apa namanya?”
“Err… Rahasia!” aku nyengir dan Arthur cemberut.
“OK, guys, aku rasa aku harus pergi sekarang. Suara Lizzie sudah hampir terdengar sedang meneriaki namaku sekarang” sambungku, mengingatkan pada mereka bahwa managerku itu anti dengan istilah terlambat.
“Ok, sweetheart, dan jangan lupa titipkan salamku pada Lizzie. OK?” ujar Sam, mengedipkan satu matanya.
“OK, Sam!” Aku melambai pada mereka semua dan mulai berjalan menuju Mini Cooper-ku.

“Tenang Brielle. Satu sandiwara lagi telah berhasil kau lakukan. Selamat. Dan kau berhasil mengecoh semuanya. Semuanya.” Suara hatiku memuji. 
  “Hanya tinggal satu kali lagi.” Kali ini logikaku yang bekerja.
 Yah, Brielle, tinggal satu lagi.
***


“Tahukah kau sekarang jam berapa?!” sembur Lizzie, managerku. Ayolah, aku bahkan baru membuka pintu studio.
“Jam 4 sore. Kenapa? Kan dibelakangmu ada jam?” 
“Ayolah, Brielle, ini tidak lucu! Kau sangat, sangat, sangat terlambat. Kita sudah berjanji dan mengatur jadwal akan take your beautiful voice jam 3. Satu jam terbuang, sweetheart!”
“Ok, Liz, calm down. Aku kan sudah bilang mungkin akan sedikit terlambat. Satu jam juga tidak akan membuat kita tidak tidur malam ini.”
“Yah, malam ini kita tidak akan tidur. Besok kau akan mulai meng-audisi calon lawan mainmu! Di film pertamamu! Besok hari besar! Dan aku tidak mau hari besarmu terusik oleh ulahmu sendiri”
“Oke, oke, Boss Lizzie, aku mengerti. Besok memang hari besarku. Tapi bisakah kau sedikit lebih santai dan menikmati waktu? Sebentar saja. Atur nafasmu, hitung satu sampai sepuluh, dan aku akan mulai rekaman laguku” kataku mencoba mengendalikan suasana.
“Aku tidak mau mengikuti saran yang kau ikuti dari film kartun, sweetheart” jawabnya sarkastis.
“Baiklah, aku akan mulai”

Lizzie nyengir setelah mendengar kalimat barusan. Biar bagaimanapun, yang kulakukan kali ini bukanlah sandiwara. Aku memang sangat menyukai musik. Semuanya. Aku tidak bisa tidak menari saat mendengar irama musik yang riang dan unik, aku tidak bisa berhenti menghentakkan kakiku saat mulai mendalami ketukan lagu, aku tidak bisa berhenti bernyanyi sampai habis saat mendengar lagu favoritku, dan yang paling aku sukai, aku tidak bisa berhenti memainkannya. Musikku sendiri. Yang bisa dibilang suara hatiku, karena setiap bait dari lirik yang kutulis itu tentangku. Tentang apa yang kusuka, kekecewaanku, dan kehidupanku. Jadi sebut saja itu adalah buku harian-ku. Tempat dimana aku bisa menumpahkan segalanya lewat nada yang kebetulan melewati kepalaku dengan bantuan gitar, piano dan drum.

***


Beautiful Eyes

“Bree, kau sudah siap? Sebaiknya kau cepat keluar dari kamarmu, karna kita sudah ditunggu Mrs.Vlada untuk mulai memilih Pria Jatuh Cinta-mu versi film itu” Seru Liz, dilengkapi ketukan keras tangannya kepintuku.
“Liz berhenti mengatakan hal itu. Aku yakin, aku tidak akan menemukan Pria Jatuh Cinta-ku disini. Tidak dalam kebetulan seperti ini.” Kataku sambil membuka pintu dan mulai berjalan menuju van hitam kami. Mobil itu kusebut ‘milik kami’ karena van itu hanya digunakan untuk keperluan bisnis, dimana hanya kami berdua yang membutuhkannya dirumahku.
“Lalu kau ingin bertemu dia dalam kebetulan seperti apa, Bree? Tidak sengaja bertemu di toko buku, lalu saat kau menjatuhkan buku dan dengan gerakan slow motion berlebihan tangan kalian sedikit bersentuhan saat bersama-sama ingin mengambil buku itu? Itu drama, sweetheart”
“Bukan! Tentu saja bukan seperti itu. Aku hanya ingin bertemu karena… takdir.”
Jawaban itu berhasil membuat Lizzie tertawa terpingkal-pingkal di dalam van. Jimmy, sopirku,yang sedari tadi diam mendengarkan juga ikutan tertawa. Untung saja dia  tidak ikutan dalam pembicaraan kali ini, biasanya dia suka membuatku mengelus dada karna celetukannya.
Sweetie, Brielle-ku, aku menghargai konsep Pria  Jatuh Cinta-mu. Tapi takdir itu, agak sedikit… berlebihan. Kau tahu, kadang takdirpun bisa sangat kejam”
Aku mendengus mendengar Lizzie. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan membuang kata takdir dari kamusku. Takdirlah yang membuatku begini, membuatku bisa bersyukur setiap saat, takdirlah yang membuatku berada dalam satu mobil dengan Lizzie dan Jimmy, dan takdir jugalah yang akan mempertemukanku dengannya. Dengan Pria Jatuh Cinta-ku.
Dalam hati, aku menyapanya,
Hey, Pria Jatuh Cinta, kau ada dimana?

***


  “Selamat datang, Brielle!” Sambut Mrs.Vlada saat kami baru tiba di rumahnya. 
Rumah itu tidak terlalu besar, tergolong kecil untuk ukuran rumah produser kondang Hollywood, saat baru memasuki gerbangpun langsung terasa berada di ‘rumah’. Halamannya luas dengan berbagai bunga yang ditanam rapih membentuk jalan setapak, dan hanya itu. Rumah kecil dengan kebun bunga luas yang mengelilinginya. Pagar kayu setinggi pinggang-ku seakan menjaga bunga-bunga itu dari dunia luar yang penuh kepura-puraan. Padahal kepura-puraan itu sedang ‘berkunjung’ sekarang.
“Hello, Mrs.Vlada” jawabku sopan.
“Aah… Jangan panggil begitu. Panggil saja aku Vlada. Dan jangan terlalu canggung begitu. Anggap saja rumahmu. OK?”
“Baiklah, Vlada” senyumku mengembang, memang ini pertama kalinya aku masuk kedunia film dan tidak mengenal banyak orang dalam industri ini, tapi untuk ukuran produser kondang Hollywood, dia orang yang ramah. Umurnya mungkin sekitar 35 tahunan. Rambutnya blonde dan dengan indah jatuh sampai ke bahu. Tipikal ibu yang cerdas dan tegas.
“Jadi, Ma’am, apa calon Daniel dalam film ini sudah datang?” Tanya Lizzie, gayanya sekarang sudah benar-benar seperti manager. Itu artinya pekerjaan sudah dimulai.
“Oh, tentu saja. Dia sedang menunggu kalian di ruang tamu.”
“Maaf, apa kalian sudah menunggu lama?”
“Ah, tidak juga. Dia juga baru datang, kok,” 
Lizzie dan aku mengangguk,
“Ayo, kalian berdua, silahkan masuk. Kita temui Daniel-mu, sweetheart.” Lanjut Vlada, kali ini hanya ditujukan padaku. Aku suka orang ini.
Kami semua berjalan menuju ruangan yang rapih, didalam rumahnya ternyata tidak sesederhana yang kubayangkan. Beberapa hiasan vintage menghiasi dindingnya yang putih bersih. Biarpun terkesan mewah, tapi tidak berlebihan seperti orang kaya pada umumnya.
Saat sampai di ruang tamu, aku melihat sesosok cowok, yang kuasumsikan calon lawan mainku, sedang mengobrol dengan temannya. Dia duduk membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Sementara temannya melihatku dan terkesiap. Aku sudah bosan dengan reaksi orang yang seperti ini saat melihatku.
  “Baiklah, Brielle, ini Gale Martin, calon Daniel-mu”
  
  Lalu, cowok itu bangun dari posisi duduknya dan menghadapkan tubuh tegapnya padaku. Tinggi badannya sekitar 185, atau mungkin lebih. Yang jelas, saat dia berdiri, aku hanya setinggi dadanya. Terlihat kecil dan tidak berdaya.
“Halo, aku Brielle Young.” Sapaku terlebih dulu sambil mengulurkan tangan.
“Hai, aku Gale” dia menjabat tanganku dan menggenggamnya erat. Tanganku tenggelam di dalamnya.
  Tiba-tiba aku merasakan matanya menatapku dalam, seperti sedang membaca kedalamnya dan mencari-cari sesuatu. Aku tidak mengerti. Tapi mata itu berbicara, seakan ada yang ingin dia katakan.
  Matanya hijau keabuan, atau biru? Entahlah. Warna mata yang aneh, tetapi indah dan unik. Jika dilihat sekilas bisa dibilang mirip denganku.
Dia masih terus menatapku dan menggenggam tanganku cukup lama sampai deheman palsu Lizzie menghancurkan segalanya.
“Maaf” sergahnya buru-buru.
Aku hanya mengangguk gugup dan menyurukkan tanganku ke sela-sela rambutku. Itulah kebiasaanku saat sedang gugup. Diapun melakukan hal yang sama secara bersamaan, dia menyadari kesamaan itu dan kami berdua terkekeh kecil.
“Oww, look the chemistry! So deep!”teriak Vlada tiba-tiba, membuatku sedikit kaget sebenarnya.
  “Baiklah, ayo kita mulai” lanjutnya tampak sangat antusias.

Lalu kami berdua dibawa kedalam kamar Vlada.
“Baiklah, Brielle, ceritakan pada Gale bagaimana karakter tokoh yang akan kau perankan, Dakota”
Aku memulai penjelasanku “Baiklah, disini aku berperan sebagai Dakota, gadis yang biasa –setidaknya begitulah menurutnya-, dia selalu merasa dirinya tidak bisa menyesuaikan diri dalam pergaulan anak seumurannya. Tapi diluar semua itu, dia adalah cewek populer di kalangan cowok-cowok sekolahnya, tanpa dia sadari dia telah menarik perhatian dengan sikapnya yang menggemaskan dan sedikit canggung, tapi dia ceroboh! Yah, dia ceroboh, like me!”aku terkekeh sendiri menyadari ada kesamaan antara Dakota dan aku, Vlada dan Gale ikut tertawa melihatku.

  “Tapi dia sama sekali tidak menyadari semua itu, dia tidak menganggap semua cowok-cowok yang memperlakukan dia seperti seorang putri. Justru karena itulah dia istimewa, karna dia tidak menyadari keistimewaannya. Orang yang menyadari keistimewaannya akan menjadi besar kepala, dan akan ada kesombongan disana. Setidaknya itulah yang aku simpulkan” aku menunduk malu-malu setelah mengeluarkan opiniku. Gale mengangguk-angguk mengerti.
  “Penjelasan yang bagus sekali, sweetheart. Baiklah, Gale, sekarang giliranmu.”
Diapun mulai menjelaskan tentang karakter peran yang akan dimainkannya. Dia suka menyurukkan jari-jarinya ke rambut jika gugup. Kebiasaan yang sama sepertiku.

  “Oke, kita sudah selesai dalam tahap ini. Ayo kita lakukan salah satu scene. Kita lakukan…” Vlada mencari-cari di skenario yang daritadi dipegangnya “Scene 4” katanya setelah menemukan pilihan yang cocok.

  Scene 4 adalah scene saat Dakota dan Daniel berciuman! Berciuman! Aku tidak bisa membayangkan harus berciuman dengan orang yang bahkan baru saja kukenal. Lizzie yang mengetahui hal ini hanya bisa melemparkan pandangan mendukung sekaligus mengasihani. Tapi aku harus melakukannya.

Dan disinilah aku, duduk dihadapan Gale –Daniel-ku, dan mulai berakting sebagai Dakota. Berpura-pura.
Gale menatapku dalam, tatapan yang sama seperti pertama kali tadi. Aku terpesona melihatnya. Dia menjadi Daniel yang sempurna, yang memuja-muja Dakota. Kami melakukan percakapan sesuai naskah, dan melakukan semuanya dengan baik. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku, mendekatkan wajahnya yang putih ke wajahku yang sudah pasti memerah. Dan dia menciumku. Bukan dengan gairah maha dahsyat yang kuduga, tapi dengan lembut dan sederhana. Sesuai dengan perannya sebagai vampire yang ingin menjaga Dakota.
Ciuman itu terasa manis, lembut. Dia memegang pinggangku semakin erat, aku menarik kerah kemejanya tak kalah erat. 
Apa aku sudah menemukanmu, Pria Jatuh Cinta?
  “SELAMAT UNTUK KALIAN BERDUA! KALIAN ADALAH DANIEL DAN DAKOTA!” teriak Vlada antusias dan menghentikan ciuman itu.
Kamipun terkekeh bersama, mungkin dia tertawa karena senang terpilih menjadi Daniel, tapi tidak denganku. Aku tertawa karena aku benar-benar menyukainya.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar naksir seseorang. Entah dia merasakan itu atau tidak, tapi aku merasakannya. Tidak serius memang, namun cukup membuat perasaanku senang karena baru saja mendapat pertanyaan yang kutunggu-tunggu walaupun masih ragu.
  Apa kau sudah datang, Pria Jatuh Cinta?

***


Ok, ini dia cerita baru gue. Ini ga sepenuhnya karangan gue, ada beberapa 'bantuan' dari Mba 3us, penulis novel Robsten Story, 'pemilik' konsep Pria Jatuh Cinta yang sebenarnya. 
Mba, pinjem yah, konsepnya. I heart you. :D
Di cerita ini, gue juga minjem lagu Enchanted-nya Taylor, lagu paling romantis bumi langit. Love you, Tay.

Comment!

Kedonn


No comments:

Post a Comment

Unyu maksimal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket