Friday, June 29, 2012

Enchanted part 4


“Kau sudah hapal bagianmu ‘kan, sweetheart?” Tanya Gale, menyodorkan segelas cokelat panas kearahku saat kita sedang break.
“Tentu saja.” Kataku riang menerima cokelat panas darinya, lalu mengangguk berterima kasih.
“Minggu depan usai syuting, Jessica dan Alex mengajakku berkeliling. Maklum, mereka berdua kan juga dari Inggris, jadi ingin berjalan-jalan. Kau mau ikut?” kata Gale mengajakku. Minggu depan, Vlada memberi waktu kami setengah hari untuk berkeliling. Semacam liburan singkat.
“Maaf, Gale, tapi aku sudah punya janji.”
“Janji? Tadi aku sudah mengajak Lizzie duluan dan dia mengiyakan” kata Gale bingung, dia salah paham.
“Bukan, aku bukan akan pergi dengan Liz. Tapi dengan… Ethan” kataku ragu takut menyinggung perasaannya karen menolak ajakannya.
“Oh” jawabnya singkat, “Sekarang kau dengan dia yah?” Gale mengatakan kata ‘dia’ dengan penekanan halus. Matanya menjelaskan dengan bahwa dia sangat kecewa.
“Maaf, Gale, tapi dia sudah mengajakku”
“Tidak apalah, kau kan juga punya kehidupan. Tidak mungkin bersama kita terus. Aku paham, kok” katanya berusaha menutupi kekecewaan dalam suaranya. “Kalau begitu, aku kesana dulu yah” sambungnya, menunjuk ‘kesana’ yang tidak jelas.
Sorot mata Gale berubah setelah percakapan itu. Dia tidak lagi menatap mataku. Terlihat murung sepanjang hari. Aku tidak tahu apa penyebabnya dan berharap bukan karenaku. Aku tidak bisa melihat temanku sendiri kecewa –karenaku.

Masih kuingat bagaimana percakapanku beberapa hari lalu bersama Lizzie, yang membuatku gelisah sampai saat ini. Ethan sudah menyukai orang lain. Aku tahu dengan jelas soal itu. Karena Ethan dan aku memiliki  banyak kesamaan, salah satunya jika kami menciptakan lagu, maka ada artinya. Kami berdua tidak bisa membuat lagu tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Dan begitulah lahirnya lagu Twilight – Howly Wind. Karena Ethan mengalaminya, dia tahu apa yang terjadi.
Dia benar-benar jatuh cinta pada wanita luar biasa bernama Stephenie. Bisa kuketahui dia adalah wanita yang luar biasa dari tiap lirik lagu itu. Betapa Ethan memujanya karena keindahan hatinya, wanita yang seolah menyinari kehidupannya dan membuat mimpi-mimpinya jadi kenyataan, wanita yang dia anggap sebagai seorang putri dari cerita dongeng yang kisahnya mereka tulis sendiri bersama-sama, bagaimana tersiksanya Ethan begitu tahu Stephenie harus meninggalkannya. Bagaimana cara Ethan menyebut namanya dan memujanya dalam lagu itu. Penuh cinta. Menyadari semua itu, aku tidak bisa tidak membandingkan diriku dengannya. Dengan Stephenie.
Aku sama sekali tidak sebanding, mendekatipun tidak.

Deringan handphone ku membawaku kembali ke masa sekarang. Ada satu pesan dari seseorang dan ternyata Lizzie. Kenapa dia mengirimiku pesan sementara dia bisa datang kesini?
Kubuka pesan itu.

“Sweetheart, mulai hari ini kau bisa melakukan rekaman di lokasi. Aku membawa beberapa record kesana. Jadi tenagamu akan diforsir. Ini bukan kemauanku. Sungguh. Ini perintah label. Sorry :/”

Hebat, sekarang tenagaku akan benar-benar habis. Syuting, rekaman, press conference, promo, world tour, semuanya membebaniku.
Kubalas pesan itu dengan sedikit kesal.

“Baiklah, boss, tapi jangan sekali-sekali merusak akhir pekanku. Itu perjanjian kita dari awal. Ingat? OK, aku akan mengikuti perintahmu. Hati-hati. See ya.”

***

Aku masih terjaga pukul 2 pagi. Hal yang sama seperti saat itu. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Ethan Dawson.
Kali ini aku tidak memikirkan bagaimana gelisahnya diriku, tapi otakku berputar kearah keterpesonaanku padanya. Lagi.
Nada-nada indah mulai berlarian dikepalaku. Wajahnya juga datang bersamaan dengan momen-momen obrolan itu. Aku tahu dengan jelas, aku sedang menciptakan sebuah lagu. Kuambil gitar yang berdiri di dinding samping tempat tidur, dan terciptalah lagu itu. Enchanted.

Menjelaskan dengan frontal bagaimana aku terpesona padanya pada pandangan pertama. Saat-saat percakapan yang menyenangkan dimulai, bisikan matanya, siluetnya yang mengarungi ruangan, suara lembutnya yang berseru menyebut namaku.
Bagaimana aku benar-benar ingin mengatakan padanya bahwa aku terpesona saat itu juga.
I was Enchanted to meet you.

Sepuluh menit lagu itu selesai. Rekor baru. Sebelumnya, lagu yang paling cepat aku ciptakan adalah ‘Our Story’, 13 menit, dan lagu itu telah kunobatkan menjadi lagu paling romantis yang pernah kutulis. Tapi sekarang sama sekali tidak ada apa-apanya. Sepuluh menit dengan kalimat paling nyata yang pernah aku tulis seumur hidupku.


Please don’t be in love with someone else
Please don’t have somebody waiting on you

Kuputuskan memasukkan lagu ini kedalam daftar lagu album baruku. Aku dan pihak label masih membicarakan judul yang pas untuk album ini. Tapi dalam hati aku mengusulkan Enchanted.
Enchanted. Terpesona. Yah, aku benar-benar terpesona padanya.

Syuting sekaligus rekaman ternyata bukan ide yang buruk. Aku bisa menghemat waktu kira-kira 3 minggu. Dan rasanya menyenangkan bisa bernyanyi di hadapan banyak orang, aku seperti sedang menunjukkan diriku pada semuanya. Inilah diriku, dengan musik. Dan selesailah rekaman lagu album terbaruku.
Pihak label sudah menetapkan judul apa yang tepat untuk album ini. Awalnya aku menyarankan Enchanted, tapi mereka menolak dengan alasan album kali ini harus mengandung pesan yang dalam untuk fans, bukan hanya menyampaikan perasaan pribadiku. Jadi kami sepakat ‘Say it Now’, diambil dari track keempat.

Seperti biasa, aku melakukan teka-teki ‘Message Behind The Songs’.
Aku sendiri yang merancang desain album dan mengkapitalkan pesan dalam tiap lagu ku.
Sampailah aku pada lagu ketujuh. Enchanted. Dengan frontal aku menuliskan E-T-H-A-N . Dan menggunakan kata wonderstruck di reff-nya. Kata yang sering digunakan Ethan.
Jadilah kukemas semuanya dalam satu folder dan menyimpannya sambil berharap tidak ada yang terlewatkan.

***

No comments:

Post a Comment

Unyu maksimal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket