Tuesday, June 26, 2012

Enchanted part 2


Tour

          Satu bulan lagi kami akan mulai melakukan syuting film Vanilla Sun. Pihak TIC Entertainment meminta Vlada cepat memulainya. Tapi terhalang karena aku harus mengadakan konser tour terakhirku di MSG. Dan beberapa minggu istirahat. Empat bulan penuh mengelilingi dunia untuk tour adalah hal yang berat menurutku. Dan sekarang sudah akan memproduksi album baru, bukan hal yang baik untuk usia 18 tahun.
          Aku bisa berbangga diri, tapi tidak mau karena menurutku sama saja menyombongkan diri. Dan aku tidak suka. Aku terkadang kesal kepada ulah paparazzi yang selalu mengikutiku kemanapun dan memotret semua yang kulakukan. Aku pernah berteriak marah kepada mereka saat aku sedang di Starbucks untuk membeli Capuccino Caramel favoritku. Bayangkan, pagi hari yang cerah dan tenang saat kau membeli kopi untuk minum pagi-pagi, mereka sudah membawa lensa untuk memotret keseharianmu! Aku tidak suka popularitas yang membuatku tidak bisa menonton di bioskop, pergi bersama teman-teman ke toko buku, makan di restoran favoritku tanpa bunyi jepretan kamera atau lebih parah, kilauan lampu blitz yang sangat mengganggu. Itulah kenapa aku sangat suka menghadiri konser, karena didalamnya, orang-orang tidak terlalu memperhatikanku. Mereka datang bukan untukku, tapi untuk menikmati performa penyanyi kesukaan mereka. Tidak ada yang memperdulikanku disana, aku tenggelam lautan manusia. Seperti orang lainnya.

          Gale akan hadir di konser terakhirku nanti. Awalnya dia memang akan datang kesana, karena ternyata dia penggemar dan penikmat musikku. Bangga sekali rasanya mengetahui lawan mainku adalah penggemarku.
Tiket yang sudah dia beli kuambil lagi, aku gantikan dengan tiket special yang lebih pantas untuk seorang teman. Hanya untuk menghargai usahanya.
          “Thanks, Bree,” katanya semangat, dia begitu sangat senang menerima tiket itu.
          “Berikan sekalian pada Wilson, OK?”
          “Tentu”
         
          Konser berjalan meriah seperti biasanya. Lagu ‘Our Love Story’ mendapat tepuk tangan paling meriah. Dan setelah konfeti ditembakkan, berakhirlah sudah tour album ketigaku, ‘Sparks’.
Aku terus mengucapkan terima kasih sepanjang malam. Tidak ada kepura-puraan malam ini. Dan besok, kepura-puraan itu berlangsung lagi.

***


Wonderstruck

          “Bree, sweetheart, aku baru saja membeli tiket konser Twilight, kau suka penyanyi itu kan?” seru Lizzie.
          Aku hampir berjingkrak girang saat mendengarnya, lalu berlari menghampiri dia. Nyaris saja terjatuh saat dia menangkapku yang berlari terlalu kencang.
            “Benarkah?” tanyaku berbinar.
         “Tentu saja. Aku membeli dua, tapi aku tidak bisa menemanimu, aku ada janji dengan Sam” katanya meminta maaf
          Aku sedikit kecewa mendengarnya, tapi juga tidak bisa memaksakan itu. Sam dan Lizzie sudah berpacaran hampir satu tahun, tapi sangat jarang kencan. Karena kesibukan Lizzie menemaniku tour dan Sam juga sibuk dengan Come Shore, mereka berdua jadi jarang bertemu. Setidaknya ini adalah liburan untuk Lizzie.
          “Baiklah, Liz, tapi menurutmu aku harus pergi dengan siapa?”
          Lizzie berpikir, sedang menimbang-nimbang sesuatu.
          “Bagaimana jika kau ajak Gale? Ini langkah bagus untuk menambah momen kebersamaan kalian” Lizzie menyarankan dengan binaran berlebihan.
          “Baiklah, ide yang bagus” sergahku setuju.
Adam

          Gale menyanggupi ajakanku untuk pergi ke konser Twilight. Aku sangat senang karena aku akan menghadiri penyanyi kesukaanku bersama teman dekatku. Sangat sempurna.
Twilight adalah penyanyi Electronica paling keren yang pernah ada. Aku menyebutnya penyanyi karena memang dia adalah penyanyi. Bukan, namanya bukan Twilight, namanya Ethan. Ethan Dawson. Twilight adalah salah satu proyeknya, tidak bisa di bilang penyanyi solo karena itu adalah proyek, tapi juga tidak bisa dibilang grup karena hanya satu anggota. Hanya Ethan satu-satunya anggota di Twilight. Mungkin ada band pengiring tetap yang merupakan bagian dari Twilight, tapi mereka bukan anggota. Aku sangat semangat menonton konsernya. Ethan adalah seorang yang bisa dibilang weird, tapi justru disitulah menurutku daya tariknya. Itu membuatnya unik.

             “Kau sangat menyukai Twilight ya?”
         “Ya” jawabku pendek pada pertanyaan Gale barusan. Walaupun singkat, aku tidak bisa menutupi perasaan senang dari suaraku.
         
          Beberapa menit kemudian, kami sampai di pelataran parkir tempat konser di LA. Ramai sekali. Tapi seperti biasanya, orang-orang tidak menyadari kehadiranku dan Gale disana. Kami masuk dan menduduki nomor kursi yang ada di tiket. Tempat yang bagus. Aku akan sangat berterima kasih pada Lizzie setelah ini. Aku bisa melihat dengan jelas penampilan Ethan dari sini.

          Konser dimulai, dengan awal suara jangkrik menambah ketenangan dalam konser. Aku ikut melambaikan tangan di lagu Dragonfly, menghentakkan kaki bersama Garden Ice, dan ikut bernyanyi dalam tiap bait yang dinyanyikan Ethan. Aku sangat terpesona padanya. I’m totally Wonderstruck with him.
Menjelang akhir konser, betapa terkejutnya aku ketika Ethan menyerukkan namaku.
          “Terima kasih atas kedatangan Brielle disana” dia melambaikan tangan kearahku. “Sungguh suatu kehormatan kau datang kesini”
          Aku membalas lambaiannya. Suatu hal yang lumrah jika kita bersikap ‘kenalan lama’ di depan orang-orang. Padahal saat ini aku belum pernah mengobrol dengannya. Tapi saat membalas lambaiannya tadi, aku tidak berpura-pura, karna saat menyebut namaku, dia seolah benar-benar mengenalku.
          “Sebagai tanda terima kasih, kupersembahkan satu buah lagu untukmu, ‘The Swan and The Wolf’”.
Dia lalu mulai memainkan gitar yang daritadi terselempang di bahunya. Dia tampak begitu mempesona jika sudah berada di antara alat musik, karena seolah-olah dia sudah mengenal semuanya. Rasa cintanya terhadap musik bisa terbaca sangat jelas. Dia terlihat berbeda.
          Aku sangat senang menyadari dia memperhatikan kearahku, karena bahkan, laki-laki yang duduk di sebelahkupun tidak menyadari keberadaanku jika saja dia tidak menyapaku.. Tapi dia sadar dan melihatku dari kejauhan.

          “Kau mengenalnya?” Tanya Gale yang sedari tadi diam. Aku rasa dia memang bukan penggemar Ethan, dia sama sekali tidak tahu lagunya. Gale adalah seorang penikmat musik yang cenderung kearah Ballad, atau yang terkesan Indie. Jadi Electronica sama sekali bukan santapannya.
          “Ya, lumayan” jawabku masih merona senang.
      Wajah Gale tiba-tiba berubah. Entahlah, dia seperti sedang menutupi perasaan kecewa karena sesuatu. Padahal dia tidak pernah murung sedikitpun. Dia selalu terlihat senang. Terlalu senang.
Akhir-akhir ini hubunganku dan Gale berkembang pesat, dia sudah seperti kakakku sendiri. Tapi hanya itu. Perasaan berdebar saat bertemu dengannya sudah hilang entah kemana. Kurasa itu hanya perasaan awal karena bertemu dengan makhluk paling indah didunia.
Wajahnya sangat tampan, tinggi atletis, sopan, pintar dan bisa bermain musik. Setiap perempuan yang berada didekatnya pasti langsung jatuh cinta. Aku hanya butuh waktu 5 menit untuk ‘jatuh cinta’ dengannya, tapi aku tidak tergila-gila seperti fans-nya. Aku menyukainya sebatas teman, kakak, rekan kerja, tidak lebih. Sosok Pria Jatuh Cinta-ku tidak ada padanya. Aku menyadari bahwa dia bukan Pria Jatuh Cinta-ku walaupun dia membanjiriku dengan tatapan memabukkan, romantisme hadiah dan lain-lainnya.

          Tiba-tiba seorang pria berambut cepak dan bertubuh besar menghampiri kami berdua. Dia mencolek bahuku dan menyapaku.
          “Permisi, Ms.Young, apakah Anda tidak keberatan jika menerima rasa terima kasih kami, Twilight, secara langsung? Itu jika Anda tidak sedang sibuk setelah ini. Ethan sendiri yang ingin berterima kasih dan meminta Anda datang.” Katanya panjang lebar dengan gaya resmi.
          Aku hampir saja berteriak ‘Ya, aku mau!’, tapi kutahan emosiku dan menjawab “Sure” dengan sopan.

          Jadi disinilah aku dan Gale, menunggu Twilight selesai konser dan menuju belakang panggung. Aku senang sekali bisa bertemu langsung dan berbicara dengan Ethan. Ethan Dawson!
          “Hah, aku lelah sekali!” suara lembut itu terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka, membuat siluetnya masuk mengarungi ruangan.  Aku mengejang mendengar suaranya berada dibalik pintu. Gale yang sedari tadi menatapku, menaikkan alisnya.
          “Dimana dia?” suara Ethan terdengar bertanya pada seseorang.
       “Di dalam, bodoh. Dia sudah menunggumu.” Jawab seorang laki-laki, mungkin Matt atau Jack, personel band pengiring.
          “Ahh, baiklah” jawabnya lagi.
         
          Dan pintu itupun terbuka lebar. Dia tersenyum lebar dengan tulus, senyum yang menyejukkan.
          “Hello” sapanya. Dia menjabat tanganku dan menatapku. Matanya seolah sedang berbicara, berbisik ‘Pernahkah kita bertemu?’
            “Hai,” jawabku berusaha menutupi kegugupanku. “Senang bertemu denganmu”      
        “Aku juga. Dan terima kasih sudah datang kesini. Senang sekali rasanya kau datang kemari dan ikut menyanyikan laguku dari atas sana
          “Bukan apa-apa. Aku penggemarmu, kau tahu, aku seorang Evening!” kataku bangga, menyebut diriku fans Twilight. Evening adalah fanbase-nya.
          “Aku juga penggemarmu, aku salah seorang Brist yang fanatik.” Dia meletakkan tangannya diatas dada seolah sedang bersiap perang. Aku tertawa melihat sikapnya. Sungguh… manis.

          Dan percakapan yang menyenangkanpun dimulai. Kami membicarakan banyak hal, yang semuanya tentang musik. Dia juga mengetahui tentang film yang akan segera aku mainkan bersama Gale nanti. Dia bisa diajak bicara tentang semua jenis musik, bahkan aliran Rock n Roll sekalipun. Dan country, genreku, dia mengerti bahan pembicaraannya dan membiarkanku menjelaskan.
         
“Bree, ini sudah larut, kita harus pulang atau Lizzie akan mengunyahku” kata Gale setelah beberapa kali melihat ke jam tangannya.
          Dan benar, sudah jam sepuluh malam. Besok aku harus mulai syuting Vanilla Sun yang mengharuskanku datang lebih pagi. Ethan melontarkan tatapan ‘semoga berjalan lancar’ dan satu lagi ekspresi yang sulit ditebak. Kecewa? Entahlah.
          Aku dan Ethan bertukar email dan nomor handphone. Senang sekali rasanya. Aku benar-benar terpesona. Aku berpamitan padanya, ingin sekali mengatakan bahwa aku terpesona padanya.
Ethan, I was Enchanted to meet you.


***


Haha, gimana? Gimana?
Comment!

Kedonn

No comments:

Post a Comment

Unyu maksimal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket