Tour
Satu
bulan lagi kami akan mulai melakukan syuting
film Vanilla Sun. Pihak TIC Entertainment meminta Vlada cepat memulainya.
Tapi terhalang karena aku harus mengadakan konser tour terakhirku di MSG. Dan
beberapa minggu istirahat. Empat bulan penuh mengelilingi dunia untuk tour
adalah hal yang berat menurutku. Dan sekarang sudah akan memproduksi album
baru, bukan hal yang baik untuk usia 18 tahun.
Aku
bisa berbangga diri, tapi tidak mau karena menurutku sama saja menyombongkan
diri. Dan aku tidak suka. Aku terkadang kesal kepada ulah paparazzi yang selalu mengikutiku kemanapun dan memotret semua yang
kulakukan. Aku pernah berteriak marah kepada mereka saat aku sedang di
Starbucks untuk membeli Capuccino Caramel favoritku. Bayangkan, pagi hari yang
cerah dan tenang saat kau membeli kopi untuk minum pagi-pagi, mereka sudah
membawa lensa untuk memotret keseharianmu! Aku tidak suka popularitas yang
membuatku tidak bisa menonton di bioskop, pergi bersama teman-teman ke toko
buku, makan di restoran favoritku tanpa bunyi jepretan kamera atau lebih parah,
kilauan lampu blitz yang sangat
mengganggu. Itulah kenapa aku sangat suka menghadiri konser, karena didalamnya,
orang-orang tidak terlalu memperhatikanku. Mereka datang bukan untukku, tapi
untuk menikmati performa penyanyi kesukaan mereka. Tidak ada yang
memperdulikanku disana, aku tenggelam lautan manusia. Seperti orang lainnya.
Gale
akan hadir di konser terakhirku nanti. Awalnya dia memang akan datang kesana,
karena ternyata dia penggemar dan penikmat musikku. Bangga sekali rasanya
mengetahui lawan mainku adalah penggemarku.
Tiket yang sudah dia beli kuambil lagi,
aku gantikan dengan tiket special yang lebih pantas untuk seorang teman. Hanya
untuk menghargai usahanya.
“Thanks,
Bree,” katanya semangat, dia begitu sangat senang menerima tiket itu.
“Berikan
sekalian pada Wilson , OK ?”
“Tentu”
Konser
berjalan meriah seperti biasanya. Lagu ‘Our Love Story’ mendapat tepuk tangan
paling meriah. Dan setelah konfeti ditembakkan, berakhirlah sudah tour album
ketigaku, ‘Sparks ’.
Aku terus mengucapkan terima kasih
sepanjang malam. Tidak ada kepura-puraan malam ini. Dan besok, kepura-puraan
itu berlangsung lagi.
***
Wonderstruck
“Bree, sweetheart, aku baru saja membeli tiket
konser Twilight, kau suka penyanyi itu kan ?”
seru Lizzie.
Aku
hampir berjingkrak girang saat mendengarnya, lalu berlari menghampiri dia.
Nyaris saja terjatuh saat dia menangkapku yang berlari terlalu kencang.
“Benarkah?”
tanyaku berbinar.
“Tentu
saja. Aku membeli dua, tapi aku tidak bisa menemanimu, aku ada janji dengan
Sam” katanya meminta maaf
Aku
sedikit kecewa mendengarnya, tapi juga tidak bisa memaksakan itu. Sam dan
Lizzie sudah berpacaran hampir satu tahun, tapi sangat jarang kencan. Karena
kesibukan Lizzie menemaniku tour dan Sam juga sibuk dengan Come Shore, mereka
berdua jadi jarang bertemu. Setidaknya ini adalah liburan untuk Lizzie.
“Baiklah,
Liz, tapi menurutmu aku harus pergi dengan siapa?”
Lizzie
berpikir, sedang menimbang-nimbang sesuatu.
“Bagaimana
jika kau ajak Gale? Ini langkah bagus untuk menambah momen kebersamaan kalian”
Lizzie menyarankan dengan binaran berlebihan.
“Baiklah,
ide yang bagus” sergahku setuju.
Adam
Gale
menyanggupi ajakanku untuk pergi ke konser Twilight. Aku sangat senang karena
aku akan menghadiri penyanyi kesukaanku bersama teman dekatku. Sangat sempurna.
Twilight adalah penyanyi Electronica
paling keren yang pernah ada. Aku menyebutnya penyanyi karena memang dia adalah
penyanyi. Bukan, namanya bukan Twilight, namanya Ethan. Ethan Dawson. Twilight
adalah salah satu proyeknya, tidak bisa di bilang penyanyi solo karena itu
adalah proyek, tapi juga tidak bisa dibilang grup karena hanya satu anggota.
Hanya Ethan satu-satunya anggota di Twilight. Mungkin ada band pengiring tetap
yang merupakan bagian dari Twilight, tapi mereka bukan anggota. Aku sangat
semangat menonton konsernya. Ethan adalah seorang yang bisa dibilang weird, tapi justru disitulah menurutku
daya tariknya. Itu membuatnya unik.
“Kau
sangat menyukai Twilight ya?”
“Ya”
jawabku pendek pada pertanyaan Gale barusan. Walaupun singkat, aku tidak bisa
menutupi perasaan senang dari suaraku.
Beberapa
menit kemudian, kami sampai di pelataran parkir tempat konser di LA. Ramai
sekali. Tapi seperti biasanya, orang-orang tidak menyadari kehadiranku dan Gale
disana. Kami masuk dan menduduki nomor kursi
yang ada di tiket. Tempat yang bagus. Aku akan sangat berterima kasih pada
Lizzie setelah ini. Aku bisa melihat dengan jelas penampilan Ethan dari sini.
Konser
dimulai, dengan awal suara jangkrik menambah ketenangan dalam konser. Aku ikut
melambaikan tangan di lagu Dragonfly, menghentakkan kaki bersama Garden Ice,
dan ikut bernyanyi dalam tiap bait yang dinyanyikan Ethan. Aku sangat terpesona
padanya. I’m totally Wonderstruck with
him.
Menjelang akhir konser, betapa
terkejutnya aku ketika Ethan menyerukkan namaku.
“Terima
kasih atas kedatangan Brielle disana” dia melambaikan tangan kearahku. “Sungguh
suatu kehormatan kau datang kesini”
Aku
membalas lambaiannya. Suatu hal yang lumrah jika kita bersikap ‘kenalan lama’
di depan orang-orang. Padahal saat ini aku belum pernah mengobrol dengannya.
Tapi saat membalas lambaiannya tadi, aku tidak berpura-pura, karna saat
menyebut namaku, dia seolah benar-benar mengenalku.
“Sebagai
tanda terima kasih, kupersembahkan satu buah lagu untukmu, ‘The Swan and The
Wolf’”.
Dia lalu mulai memainkan gitar yang
daritadi terselempang di bahunya. Dia tampak begitu mempesona jika sudah berada
di antara alat musik, karena seolah-olah dia sudah mengenal semuanya. Rasa
cintanya terhadap musik bisa terbaca sangat jelas. Dia terlihat berbeda.
Aku
sangat senang menyadari dia memperhatikan kearahku, karena bahkan, laki-laki
yang duduk di sebelahkupun tidak menyadari keberadaanku jika saja dia tidak
menyapaku.. Tapi dia sadar dan melihatku dari kejauhan.
“Kau
mengenalnya?” Tanya Gale yang sedari tadi diam. Aku rasa dia memang bukan
penggemar Ethan, dia sama sekali tidak tahu lagunya. Gale adalah seorang
penikmat musik yang cenderung kearah Ballad, atau yang terkesan
Indie. Jadi Electronica sama sekali bukan santapannya.
“Ya,
lumayan” jawabku masih merona senang.
Wajah
Gale tiba-tiba berubah. Entahlah, dia seperti sedang menutupi perasaan kecewa
karena sesuatu. Padahal dia tidak pernah murung sedikitpun. Dia selalu terlihat
senang. Terlalu senang.
Akhir-akhir ini hubunganku dan Gale
berkembang pesat, dia sudah seperti kakakku sendiri. Tapi hanya itu. Perasaan
berdebar saat bertemu dengannya sudah hilang entah kemana. Kurasa itu hanya
perasaan awal karena bertemu dengan makhluk paling indah didunia.
Wajahnya sangat tampan, tinggi atletis,
sopan, pintar dan bisa bermain musik. Setiap perempuan yang berada didekatnya
pasti langsung jatuh cinta. Aku hanya butuh waktu 5 menit untuk ‘jatuh cinta’
dengannya, tapi aku tidak tergila-gila seperti fans-nya. Aku menyukainya
sebatas teman, kakak, rekan kerja, tidak lebih. Sosok Pria Jatuh Cinta-ku tidak
ada padanya. Aku menyadari bahwa dia bukan Pria Jatuh Cinta-ku walaupun dia
membanjiriku dengan tatapan memabukkan, romantisme hadiah dan lain-lainnya.
Tiba-tiba
seorang pria berambut cepak dan bertubuh besar menghampiri kami berdua. Dia
mencolek bahuku dan menyapaku.
“Permisi,
Ms.Young, apakah Anda tidak keberatan jika menerima rasa terima kasih kami,
Twilight, secara langsung? Itu jika Anda tidak sedang sibuk setelah ini. Ethan sendiri yang ingin berterima kasih dan meminta Anda datang.” Katanya panjang
lebar dengan gaya
resmi.
Aku
hampir saja berteriak ‘Ya, aku mau!’, tapi kutahan emosiku dan menjawab “Sure” dengan sopan.
Jadi
disinilah aku dan Gale, menunggu Twilight selesai konser dan menuju belakang
panggung. Aku senang sekali bisa bertemu langsung dan berbicara dengan Ethan. Ethan Dawson!
“Hah,
aku lelah sekali!” suara lembut itu terdengar dari balik pintu yang sedikit
terbuka, membuat siluetnya masuk mengarungi ruangan. Aku mengejang mendengar suaranya berada
dibalik pintu. Gale yang sedari tadi menatapku, menaikkan alisnya.
“Dimana
dia?” suara Ethan terdengar bertanya pada seseorang.
“Di
dalam, bodoh. Dia sudah menunggumu.” Jawab seorang laki-laki, mungkin Matt atau
Jack, personel band pengiring.
“Ahh,
baiklah” jawabnya lagi.
Dan
pintu itupun terbuka lebar. Dia tersenyum lebar dengan tulus, senyum yang
menyejukkan.
“Hello”
sapanya. Dia menjabat tanganku dan menatapku. Matanya seolah sedang berbicara,
berbisik ‘Pernahkah kita bertemu?’
“Hai,”
jawabku berusaha menutupi kegugupanku. “Senang bertemu denganmu”
“Aku
juga. Dan terima kasih sudah datang kesini. Senang sekali rasanya kau datang
kemari dan ikut menyanyikan laguku dari atas sana ”
“Bukan
apa-apa. Aku penggemarmu, kau tahu, aku seorang Evening!” kataku bangga,
menyebut diriku fans Twilight. Evening adalah fanbase-nya.
“Aku
juga penggemarmu, aku salah seorang Brist yang fanatik.” Dia meletakkan
tangannya diatas dada seolah sedang bersiap perang. Aku tertawa melihat
sikapnya. Sungguh… manis.
Dan
percakapan yang menyenangkanpun dimulai. Kami membicarakan banyak hal, yang
semuanya tentang musik. Dia juga mengetahui tentang film yang akan segera aku
mainkan bersama Gale nanti. Dia bisa diajak bicara tentang semua jenis musik,
bahkan aliran Rock n Roll sekalipun. Dan country, genreku, dia mengerti bahan
pembicaraannya dan membiarkanku menjelaskan.
“Bree, ini sudah
larut, kita harus pulang atau Lizzie akan mengunyahku” kata Gale setelah beberapa
kali melihat ke jam tangannya.
Dan
benar, sudah jam sepuluh malam. Besok aku harus mulai syuting Vanilla Sun yang
mengharuskanku datang lebih pagi. Ethan melontarkan tatapan ‘semoga berjalan
lancar’ dan satu lagi ekspresi yang sulit ditebak. Kecewa? Entahlah.
Aku
dan Ethan bertukar email dan nomor handphone. Senang sekali rasanya. Aku
benar-benar terpesona. Aku berpamitan padanya, ingin sekali mengatakan bahwa
aku terpesona padanya.
Ethan,
I was Enchanted to meet you.
***
Haha, gimana? Gimana?
Comment!
Kedonn





No comments:
Post a Comment