Wednesday, June 27, 2012

Enchanted part 3


Setelah sampai dirumah dengan perasaan berbunga-bunga, aku masuk kekamarku. Melihat Lizzie sudah tertidur dikamarnya.
Selama perjalanan pulang, pipiku merona sepanjang jalan mengingat apa yang terjadi tadi. Besok pagi aku akan menceritakan semuanya pada Lizzie.

Aku melakukan semua ritual sebelum tidur. Mencuci kaki dan memakai baju tidur, lalu naik ke tempat favoritku, tempat tidur.
Bahkan sampai sekarang aku masih memikirkannya. Ethan. Suaranya yang selembut beludu masih terngiang-ngiang ditelingaku. Caranya tertawa, matanya yang berbicara, dan semuanya. Aku mencoba tidur dengan susah payah sampai pukul 2 pagi! Mataku masih terjaga setelah ada pertanyaan yang melewati otakku dan terus menghantuinya,
‘Apa dia sudah jatuh cinta? Apa dia punya pacar? Apa dia sudah menemukan Gadis Jatuh Cinta-nya sendiri?’
Aku terus bertanya sampai mataku terbuka lebar dan baru tertidur pukul 3 pagi.

Matahari pagi membutakan mataku. Pasti Lizzie yang membuka tirai selebar itu sampai membuatku terbangun. Hampir saja aku kesal dengannya, tapi tindakan ini harus dia lakukan mengingat hari ini aku akan mulai syuting perdana.
Setelah pihak TIC Entertainment mengumumkan pemeran Dakota dan Daniel secara resmi, fans buku Vanilla Sun makin menggila. Film yang akan aku mainkan memang berdasarkan sebuah novel saga fenomenal karya Isabella Kampusch, cerita standard tapi sangat dalam. Vampire dan manusia yang saling mencintai dan ingin hidup bahagia bersama. Cerita roman yang indah. Banyak media, dalam bentuk baca atau visual, yang memuji pilihan Vlada. Mereka menilai, Gale dan aku sangat cocok memerankan Dakota dan Daniel. Bahkan ada yang berasumsi, kecocokan itu tercipta dari kehidupan nyata. Mereka pikir aku dan Gale benar-benar sepasang kekasih.
Hal itu bisa disebut normal mengingat intensitas cerita dan pertemuan kami dalam saga pertama. Justru aneh jika orang-orang tidak beranggapan begitu.

Aku menaiki van hitam untuk berangkat menuju tempat syuting pertama. Untunglah rumahku dekat dengan lokasi, jadi tidak perlu susah-susah duduk lama didalam pesawat. Gale sudah lebih dulu datang kesini dan ingin berangkat bersama. Dia diharuskan tinggal di LA selama kurang lebih 6 bulan untuk kepentingan syuting dan promo. Jadi sejak seminggu lalu, dia mengucapkan selamat tinggal pada kampung halamannya, Inggris.

Usai syuting hari pertama, aku menyendiri di dalam van lalu mengaktifkan handphone yang hari ini sengaja kumatikan.
Betapa terkejutnya aku melihat satu pesan suara yang masuk. Itu dari Ethan! Ethan Dawson!
Kupasang earphone agar suara lembutnya terdengar lebih jelas.
“Hei, bagaimana kabarmu hari ini? Lagi sibuk ya? Tadinya aku ingin bicara langsung, tapi handphone mu dimatikan, pasti karena syuting. Oh,ya, bagaimana syutingnya? Semoga lancar. Dan jaga dirimu, OK? Bye.”

Aku menjerit kesenangan seperti orang sinting. Tidak lama, Lizzie masuk kedalam van bersama Gale dan Jessica –Seorang lawan main yang baik, mereka menghampiriku dengan panik.
“Ada apa, sweetheart?” wajah Lizzie menunjukkan bahwa dia tidak berpura-pura.
“Oh, Lizzie!” aku malah tertawa seperti orang gila –atau aku memang sudah gila. “Lizzie, terimakasih, aku sangaaaat menyayangimu” gumamku tidak jelas. Sebenarnya aku ingin berterimakasih karena kesempatan yang dia berikan untuk bertemu Adam, tapi aku malah berperilaku seperti orang sinting.
“Oh, Gale, terimakasih karena mau menemaniku kemarin” ucapku memeluk Gale, dia membalas pelukanku dengan sedikit ragu, atau takut? Entahlah, aku tidak peduli.
“Dan, Jess, thank you, kau membuat hari ini semakin indah” ujarku lalu keluar dari van dengan meloncat riang diikuti tatapan menyelidik dari mereka bertiga.

***



The Song


“Ethan Dawson?” suara Lizzie memecah lamunanku saat kami sampai dirumah setelah syuting hari pertama.
“Hah? Apa? Apa?” aku menjawab berpura-pura tidak tahu.
“Kau sedang naksir dia ‘kan?” tanyanya to the point.
“Eh, kenapa kau bisa berpikir begitu?”
“Honey, aku sudah bertahun-tahun kerja dan tinggal bersamamu. Aku sudah hafal betul gelagatmu ketik sedang jatuh cinta.”
“Memang aku bersikap seperti apa?” tanyaku memajukan bibir.
“Seperti orang yang sedang jatuh cinta! Tertawa sendiri saat melihat handphone-mu!”
“Kalau iya, bagaimana kau berpikir aku sedang naksir Ethan?”
“Sweetie, tadi kau berterimakasih padaku dan Gale atas kejadian yang terjadi kemarin. Gale menceritakan semuanya padaku, bagaimana sikapmu berubah setelah menemui Ethan. Kau sangat bahagia.”
“Err… maybe” jawabku mengambang, jawaban barusan justru menjerumuskanku kedalam kandang Lizzie, karena dia tersenyum penuh makna, lalu berseru,
“BREE JATUH CINTA! BREE CINTA ETHAN! WOY, BRIELLE JATUH CINTA SAMA ETHAN DAWSON!”
“Lizzie! Kau mau membunuhku?” kataku menekuk bibir.
“Tidak, sweetheart, hanya saja, ini kejadian langka! Menurutmu berapa banyak cowok yang menarik perhatianmu?”
Aku mengangkat bahu, padahal jelas aku ingat, hanya 4! Delapan belas tahun hidup didunia hanya empat kali naksir seseorang. Itu juga jika Gale dihitung. Dan belum pernah sekalipun berpacaran dengan siapapun.
Bukan catatan yang baik.
“Ayolah, Bree, kau berperilaku abnormal begini hanya tiga kali selama aku mengenalmu. Hanya pada Justin, Gale dan Ethan! Ini langka!”

Benar, bagi Lizzie aku hanya pernah naksir 3 orang. Tapi sebenarnya ada satu orang lagi. Masa lampau. Alasanku berada disini sekarang, karena aku ingin dia memperhatikanku. Aku ingin dia menyadari keberadaanku.
Tapi sekarang, saat orang lain menyadari keberadaanku, dia tetap mengacuhkanku seperti biasanya.
Mario.
Orang yang pernah kuanggap Pria Jatuh Cinta-ku.

“Ayo, Bree, ceritakan padaku. Selengkapnya” Rajuk Lizzie.
Akupun menceritakan semuanya. Dari mulai percakapan menarik bersama Ethan, pesan suara yang memabukkan, sampai pertanyaanku yang masih belum terjawab tentang Ethan. Aku memang tidak pernah berpura-pura didepan Lizzie, semua hal aku ceritakan padanya, dia sudah seperti kakakku setelah seluruh keluargaku meninggal diawal debut saat usiaku 16 tahun.
Hanya Lizzie satu-satunya penopangku. Alasan aku masih mau berusaha.

“Ahh…” Lizzie mengangguk paham setelah mendengar keseluruhan cerita betapa aku terpesona pada Ethan.
Lalu tatapannya berubah menjadi jahil.
“Sungguh, Liz, apa yang ada di pikiranmu sekarang?” sergahku buru-buru sebelum dia merencanakan sesuatu yang konyol.
“Aku akan membantumu” katanya semangat.
“Tidak, tidak! Aku tidak mau kau membantuku. Aku mau ini berjalan alami. Tidak ada bantuan dari pihak manapun” kataku
“Memangnya kenapa?”
“Aku mau tahu apakah dia Pria Jatuh Cinta-ku atau bukan”
Lizzie terdiam begitu mendengar alasanku. Aku tahu dia sangat mengerti dan menghormati konsep Pria Jatuh Cinta-ku. Konsep yang kudapat dari Dad. Beliau mengatakan Gadis Jatuh Cinta adalah seseorang yang kau cintai sampai mati. Sesederhana itu. Dan dia telah menemukan Gadis Jatuh Cinta-nya, Mom. Mereka menjalin hubungan sejak masa SMP sampai akhir hayat mereka. Aku benar-benar percaya pada konsep itu, dan aku juga percaya suatu saat nanti aku akan menemukan Pria Jatuh Cinta-ku.
“Baiklah, sweetheart, itu terserah padamu. Tapi aku harus memberitahumu sesuatu. Apa kau tahu Ethan sudah menyukai seseorang?”

***

Comment!

No comments:

Post a Comment

Unyu maksimal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket