Thursday, March 8, 2012

Always There part 1

Ok, ini adalah FF pertama gue tentang Bellaward. Jadi kalo ga nyambung maap yah..
Dan jangan timpukin tomat :p
*peace, saya cinta damai :))


Edward's POV

   "Itu dia!" Teriak Emmett dari lantai bawah rumahku, suaranya yang super bass membahana di seluruh rumahku. Untunglah orangtuaku sedang tidak dirumah, kalau mereka tidak pergi bisa-bisa terjadi sesi tanya-jawab.
   "Edward! Pacarmu lewat!" Teriak Jasper, kakakku, mengikuti teriakan Emmett.
   Oke, kata-kata mereka sangat menarik. Pacar. Aku bahkan tidak tahu nama gadis itu. Belum.
Cepat-cepat aku turun dari lantai atas.

  "Bisakah kalian berdua diam? Nanti dia mendengarnya!" sergahku menggeram pelan. Kedua orang yang suaranya seperti berteriak di depan mic itu langsung mengunci mulutnya dengan kunci gaib tak kasat mata lalu membuang kuncinya dibalik bahu mereka.
   Aku langsung —berpura-pura— duduk di teras depan, bersama Jazz dan Emmett dan menunggu Juliet-ku lewat
   "Kalian sedang menunggu apa sih?" Tanya Alice, pacar Jasper, keluar dari dalam rumah bersama Rosalie, kakak perempuanku.
   "Sst... Diam.. Berpura-puralah sedang mengobrol dengan kami jika ingin tahu" Imbuh Jasper
   Rosalie dan Alice mengerutkan alis bingung, tapi akhirnya mengangguk

   Saat itu juga dia lewat.
   Dia dengan rambut cokelat panjang yang halus dan dengan indah membingkai wajah mungilnya yang cantik. Tubuhnya pas dibalut sweater biru panjang.
Akhirnya aku melihatnya lagi. Seakan aku tidak bisa bertahan sehari saja tanpa melihatnya. Aku harus melihatnya. Aku butuh melihatnya. Dia sepeti oksigen untuk bernapas. Seperti heroin untuk pecandu narkoba.
Aku tersenyum simpul melihatnya.

   "Bella?'' Alice tiba-tiba bergumam kearah gadis itu seperti memastikan. Lalu wajahnya berubah bersinar, dan dia langsung berseru "Bella!" kali ini jauh lebih keras dan nyaring.
Si gadis menoleh, matanya menyipit, memastikan juga.
   "Alice?" Katanya dengan suara merdu diikuti senyuman malaikat.
   "Bella!!" Alice berlari menghambur memeluk gadis itu "Apa kabarmu, Bells?" Alice melepas pelukannya untuk melihat wajah gadis itu "Apa kau pernah berpikir betapa aku merindukanmu? Kenapa kau tidak menghubungiku sebulan ini?" Cerocos Alice
   "Well, aku ingin membuat kejutan untukmu. Aku akan tinggal disini lagi"
   "Benarkah?" Alice berbinar
   "Ya" Jawabnya lembut
   "Kau sekolah di Forks School lagi, kan?"
   "Ya"
   "Yey! Bagus!" Seru Alice girang, bertepuk tangan penuh kemenangan. Lalu tampangnya berubah jahil.
"Mari kuperkenalkan kau pada teman-temanku" Alice menggandeng gadis itu terburu-buru.

   "Guys, perkenalkan, ini sahabatku, Bella" Dia berkedip cepat kearahku "Bella, ini Rosalie"
   "Hai, Bella" Kata Rosalie, ramah
   "Hai, senang berkenalan denganmu" Dia menjabat tangan Rosalie dan tersenyum ramah.
   Alice melanjutkan "Ini Emmett, Jasper..." Gadis itu menjabat tangan mereka satu persatu "Dan... Edward" Alice, Rosalie, Emmett dan Jasper menahan tawa.
   Dia menyodorkan tangannya, kusambut dengan cepat, terlalu cepat saking semangatnya.

   Saat menyentuh tangannya, ada perasaan seperti tanganku disengat listrik. Rasanya tidak sakit, justru menyenangkan, membuatku enggan melepasnya. Dia menyentakkan tanganku lembut, membuatku mengerjap-ngerjapkan mata.
   "Edward Cullen" Kataku tidak jelas, luar biasa gugup
   "Bella" Katanya balik, tersenyum padaku.
   Emmett dan Jasper sudah tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Sebagai gantinya mereka tertawa melolong-lolong.
Bella menatap mereka bingung, aku mendengus pelan karena itu.

   Rasanya bagai mimpi, melihatnya duduk dirumahku, mengobrol dengan kakak-kakakku dan temanku. Dia begitu baik, ramah. Dan jaraknya hanya beberapa sentimeter dariku. Dia duduk tepat disampingku!

   Namanya Isabella Swan. Bella. Dia selalu mengoreksi jika ada yang memanggilnya dengan nama lengkap. 3 tahun yang lalu dia pernah tinggal di Forks, selama 1 tahun.
   "Guys, maaf aku tidak bisa lama-lama disini. Aku harus ke daerah reservasi di La Push"  Ujar Bella, tampak menyesal.
   "Apa kau mau menemui dia lagi, Bells?" Tanya Alice, cemberut
   "Ya, aku harus menemui Jacob"
 
   Jacob? Jacob Black teman sekelasku? Setahuku dia tinggal di daerah reservasi La Push.
   "Jacob Black?" Tanyaku memastikan
   "Ya, kau mengenalnya?"
   "Dia teman sekelasku di pelajaran kewarganegaraan" Jawabku
   "Oh" gumamnya "Kalau begitu aku permisi dulu" Katanya tersenyum tulus "Terima Kasih. Senang berkenalan dengan kalian semua"

   Sedetik sebelum Bella berjalan keluar, Alice berseru "Tunggu, Bell" Alice menghela nafas "Kau naik apa kesana?"
   "Aku akan minta ayahku mengantar kesana"
   "Ayahmu 'kan sedang bekerja? Atau begini saja..." Kata-kata Alice berubah menjadi gumaman "Bagaimana kalau Edward mengantarmu?" Tanyanya tiba-tiba menyeringai.

***

   Kukerjapkan mata, tidak percaya mendengarnya.
   "Betul. Bagaimana jika Edward mengantarmu?" Imbuh Rosalie "Kau sedang tidak kemana-mana, kan, Ed?"
Aku pun langsung menyeringai mendengarnya. Itu adalah langkah awal yang baik..
   "Ya, aku tidak kemana-mana. Aku bisa mengantarmu kesana. Aku tahu rumah Jacob"  
   Bella mengerutkan kening, bingung. Lalu menjawab "Ya, Trims" dengan tulus.

   Bisa kurasakan tatapan orang-orang dari dalam rumah, menatap kepergianku dan Bella. Kuacuhkan niatku untuk membukakan pintu, mencoba sebisa mungkin agar dia merasa nyaman.

   Kami berdua sudah duduk manis di mobilku. Aku mulai menyetir menyusuri jalan-jalan menuju La Push. Dia diam saja sepanjang jalan, akupun mulai menimbang-nimbang untuk memulai obrolan, atau perjalanan ini akan sia-sia.

   "Jadi kau sudah pernah tinggal disini sebelumnya?"Tanyaku dengan gugup.
   "Ya. Hanya 1 tahun. Tapi Forks sudah tumbuh didalamku" Jawabnya semangat, dengan suara merdu bagai loceng gereja.
   "Kau sudah lama mengenal Jacob?"
   "Ya. Ayahku dan ayahnya sudah lama saling kenal. Saat itu Ayahku masih menjadi polisi, belum Kepala Polisi, hanya polisi. Kau tahu..." Dia mulai bercerita panjang lebar. Aku hanya mendengar. Bukan mendengar cerita hidupnya yang terpampang jelas, tapi aku mendengar caranya bercerita. Caranya meledak-ledak setiap kali menceritakan detail-detailnya. Aku hanya sesekali berkata 'Benarkah?' atau hanya tersenyum.
Dan aku bersumpah sempat melihatnya tersipu saat itu.

   Tiba-tiba dia berhenti bercerita, lalu tersenyum dan mendesah. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi dia terlihat damai. Seperti lega karna sesuatu. AKu meliriknya dari ujung mataku, tapi dia hanya memandang keluar jendela.

   "Kau pikir Jake akan mengenalku?" Tanyany tiba-tiba, memandang lurus ke depan
   "Apa maksudmu?"
   "Maksudku, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Hanya berhubungan lewat e-mail. Apa menurutmu Jake masih mengenalku seperti dulu?"
   "Ya" Jawabku yakin —well, mencoba meyakinkan dia setidaknya
   Dia tersenyum, luluh mendengarku.
  "Ya. Mungkin..." Gumamnya.

   Kami sudah sampai sudah sampai di daerah perbatasan La Push. Bisa kulihat dari rumah-rumah warga yang dihiasi gantungan buatan tangan di tiap pintunya.
  Tidak lama, kami sampai di rumah Jacob. Dia sedang nongkrong di garasinya bersama Quil, Embry dan —si anak baru— Seth. Kuklaksonkan mobilku, Jacob menoleh dan langsung melambaikan tangan. Walaupun kaca film mobilku terlihat hitm pekat dari luar, tapi aku yakin Jacob pasti mengenal mobilku dengan baik. Kumatikan mesin mobil.

    "Kau siap?" Tanyaku pada Bella yang kelihtan gugup, atau takut? Kukerutkan kening, bersiap kalau-kalau sesuatu terjadi padanya.
    "T-t-tidak" Jawabnya terbata
    "Kenapa?"
    "Aku tidak yakin. SUdah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Dan lihatlah betapa besarnya dia sekarang! Dia sangat berbeda"
    "Bella?" Kuangkat alisku "Kau ingin bertemu dengannya 'kan?" Aku memastikan, kali ini dengan sikap siap pergi.
   "Ya" Dia mendesah "Ok..." Gumamnya.

   Aku turun terlebih dulu dari mobil, lalu membalas lambaian Jacob tadi. Jacob berlari menghampiriku.
   "Hei, Man! Apa yang membawamu kesini?" Sambutnya riang.
   "Ini" Jawabku berjalan menuju kursi penumpang dan membukanya.

   Dia turun dari mobil. Terlihat sangat gugup.
   "Hei, Jake"
   Jacob terkesiap, matanya membelalak girang "Bella?"



***

No comments:

Post a Comment

Unyu maksimal

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket