Fan Fiction ini sebelumnya ada di facebook, tapi gue post ulang di-blog.. enjoy..
Author : Sarah Mumbunan
Character : Kristen Stewart, Robert Pattinson, Taylor Swift, Taylor Lautner
Robsten
KPOV
Pintu masuk MSG rasanya udah penuh sesak. Tapi untuk nonton konser sekelas Paramore semua orang pasti rela kakinya diinjek-injek gini.
Contohnya aku sendiri, aku Kristen Stewart yang bisa dibilang salah satu fans fanatik Paramore. Aku sangat senang saat tahu kalau salah satu tujuan World Tournya adalah ke kota New York. Itu artinya aku bisa nonton langsung Paramore bernyanyi.
Tanpa ragu aku melangkahkan kaki menuju pintu masuk sambil merogoh-rogoh tas mungil yang daritadi duduk manis di pundakku. Aku merasa setengah panik saat mencari tiket masuk konser. Aku mengacak-acak tas itu sambil berjalan. Akhirnya kudapati juga tiket keramat itu. Tiba-tiba, aku tersontak kaget karena tubuhku tertabrak seseorang. Seorang cowok berbadan jangkung tegap berdiri di hadapanku.
"Maaf" sergahku
Aku menatap laki-laki itu lekat-lekat, lalu membuang pandanganku sebelum aku berteriak histeris di muka umum.
"Ya, tidak apa-apa" dia menjawab, tapi aku tidak berani menatap wajahnya.
"Sekali lagi aku minta maaf" kataku tanpa melihatnya, lalu berlari menuju pintu masuk.
'Aku tahu itu bukan dia, itu tidak mungkin dia. Dia yang selama ini mengganggu tidur nyenyakku dan merusak mimpi indahku. Sadarlah Kristen itu bukan Edward' batinku
***
Edward.. Yah dia adalah sahabatku, kakakku, sekaligus pacarku. Dia segalanya untukku. Sosok yang sangat kukagumi sekaligus kucintai.
13 Desember , aku juga tidak akan melupakan hari itu. Hari dimana aku kehilangan Edward selamanya. Saat kami sedang menuju turnamen basket sekolah, karena kecerobohanku, aku hampir tertabrak mobil . Tapi keadaan berbalik saat Edward menarik tubuhku dan menghilangkan nyawanya.
Sejak saat itu, aku menyalahkan diriku sendiri atas kematian Edward. Walaupun kedua orangtua Edward sama sekali tidak menyalahkanku. Aku sempat trauma dan harus dibawa ke rumah sakit terus menerus, hasilnya Nihil. Aku masih takut berhadapan langsung dengan laki-laki jangkung dan berperawakan sama dengan Edward. Setelah dua tahun perawatan, rasa takut dan trauma itu hilang sama sekali.
Tapi kejadian hari ini di tempat konser berbeda, laki-laki itu sangat mirip dengan Edward. Rambut perunggu berantakannya, wajahnya bahkan suaranya sama persis dengan Edward. Wajah si cowok terus memenuhi pikiranku sampai aku tertidur.
***





No comments:
Post a Comment