Sumpah, ini udah seminggu lebih sejak terakhir gue ga nge-blog. Betapa gue merindukan lo, my Sparkling Twilight... hemm...
*maaf atas ke-unyu-an barusan*
Baiklah, sebelum gue dikunyah-kunyah sama temen-temen gue, ini adalah kisah lanjutan dari FF gue. Banyak banget yang spam gue di e-mail, jadi secepet mungkin gue post. Sorry buat Anissa Syahrani dan Dian Arini , pembaca (yang entah kenapa setia banget) yang nungguin FF ini di-post. This is special for you two. Maaf, gue baru selesai ujian, jadi baru bisa nge-post.
Thank you :*
OK, this is it..
Enjoy! :D
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Enchanted
Edward's POV
Bella sangat dekat dengan Zack. Selama jam istirahat dia hanya mengobrol dengan Zack.
Jujur saja, aku tidak suka melihat itu. Ada perasaan seperti dadaku ditusuk oleh ribuan pisau atau semacamnya. Sakit dan berat.
Tawanya begitu lepas, aku suka mendengar tawa itu. Aku sudah mengenal tawa itu selama hidupku. Suara gemerincing bagai bunyi lonceng gereja yang merdu.
Lalu tiba-tiba suara itu hilang, Bella terdiam, dia menoleh kearah pintu cafetaria seolah-olah ada yang memanggilnya. Dia tersenyum simpul, kulirikkan mataku mengikuti pandangannya dan mendapati Jacob berada disana, sedang bercanda dengan Seth.
Apa itu? Apa karena itu Bella tersenyum? Baiklah, aku benar, aku sangat tidak suka melihat Bella dekat dengan laki-laki lain. Apa itu namanya? Cemburu?
Kalau iya, berarti aku sangat cemburu sekarang.
Dan rival-ku ada dua!
Aku mengerutkan kening marah, semua saudaraku serta Emmett dan Alice justru tertawa kecil, tahu alasan ku menahan teriakan begini.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyan Bella -well, sepertinya khawatir, itu cukup membuat hati senang-, melihatku yang daritadi diam.
"Tidak, aku baik-baik saja" jawabku masih cemberut.
Bella menaikan sebelah alis, tidak percaya "Kau yakin?"
"Ya" jawabku singkat.
"Jangan khawatirkan dia, Bella" imbuh Emmett, "Dia hanya sedang putus asa. Cinta pertamanya disukai dan menyukai orang lain" sambungnya geli, sengaja melakukan penekanan di kata 'menyukai'.
Kutarik nafasku, wajahku berkerut-kerut marah.
"Apa aku benar 'kan?" tanyanya polos.
"Mati kau"
Kuhembuskan nafas berat, lalu melirik kearah Bella, lagi. Wajahnya seperti kecewa karna sesuatu.
Melihatnya tersenyum untuk orang lain --laki-laki lain-- membuatku tidak nyaman. Dengan berat hati kutinggalka mereka dimeja makan. Berjalan cepat-cepat menuju taman sekolah, tempat dimana aku bisa membaca dan menenangkan diri. Bisa kurasakan seseorang mengikutiku, kuasumsikan Jasper atau Emmett, atau keduanya. Kudiamkan dia -siapapun dia itu-, sampai ditamanaku tidak bisa menahan diri lagi.
"Baiklah, ini sudah keterlaluan" sergahku, berbalik dan mendapati Bella-lah yang sedang mengikutiku.
"Bella?" kataku memastikan, takut-takut aku sudah jadi gila hingga membayangkannya terus.
"Ya!" katanya cemberut "Hei, jalanmu cepat sekali! Aku kesusahan mengikutimu" serunya marah, tapi justru tampak lucu dan menggemaskan.
"Aku tidak tahu kalau kau mengikutiku" elakku, mengangkat bahu.
"Apa kau mau membolos di pelajaran musik? Kau tahu, hanya kau yang sekelas denganku disini"
"Benarkah?" aku berpikir, ini adalah kesempatan bagus. Mrs. Perri biar bagaimanapun tidak akan membiarkan siapapun -anak baru- tidak menyanyi dikelasnya. Mungkin aku isa mendengar suaranya ketika bernyanyi.
"Baiklah, ayo" Aku mengajaknya menuju ruang musik.
***
"Jadi, kau suka musik Ms.Swan?" tanya Mrs. Perri setelah Bella memperkenalkan diri.
"Ya, Ma'am. Sangat." jawabnya antusias.
"Kalau begitu kau harus menunjukkan kecintaanmu terhadap musik kepada kami. Kau mau bernyanyi? Atau sekedar memainkan instrumen?"
"Bernyanyi, Ma'am. Dan kalau boleh, saya menggunakan gitar itu" Bella menunjuk gitar yang bertengger di pojok ruangan.
"Tentu, dear."
Bella mulai bernyanyi.
I remember every look from your face
That hilarious face you make when you surprised
When the wind blow your hair like a flag
When the sunshine make your eyes more beautiful
When you look at me like I'm a priceless prize
It's cool know you wonderstruck with me though
And you'll be my prince
Taking me with your white horse
To the meadow, full of grass
Layin' there, like we know our live will be never same again
This is what I called fairytale
Suaranya indah sekali. Sangat merdu. Aku merasa damai saat mendengar nyanyian itu, seperti hanya suaranya-lah yang bisa kudengar. Suaranya memenuhi otakku.
Tuhan, dia sempurna!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Haha, gajelas ya?
(iya, ketawa aja)
Ini spesial buat Annisa Syahrani n Dian Arini. Thank you :*
Love,
Kedonn
I remember every look from your face
That hilarious face you make when you surprised
When the wind blow your hair like a flag
When the sunshine make your eyes more beautiful
When you look at me like I'm a priceless prize
It's cool know you wonderstruck with me though
And you'll be my prince
Taking me with your white horse
To the meadow, full of grass
Layin' there, like we know our live will be never same again
This is what I called fairytale
Suaranya indah sekali. Sangat merdu. Aku merasa damai saat mendengar nyanyian itu, seperti hanya suaranya-lah yang bisa kudengar. Suaranya memenuhi otakku.
Tuhan, dia sempurna!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Haha, gajelas ya?
(iya, ketawa aja)
Ini spesial buat Annisa Syahrani n Dian Arini. Thank you :*
Love,
Kedonn





No comments:
Post a Comment